Membagi Kasih Sayang Melalui Sanggar

  • Whatsapp
Membagi Kasih Sayang
Membagi Kasih Sayang

Melalui sanggar belajar, masyarakat pra sejahtera seolah memiliki media untuk menjangkau kehidupan di luar lingkungannya.

Kehidupan yang sebenarnya telah melekat pada diri manusia, seperti kasih sayang maupun berpendapat. Namun, kehidupan seperti itu kadang tidak diperoleh oleh para keluarga sejahtera, terasa jauh untuk mereka. Komunitas Sahabat Kecil (Kosacil) mewadahi hal ini hanya sekadar untuk berbagi terhadap sesama.

Muat Lebih

Vallantina Heinemann, 33, Founder Kosacil hanya tertegun saat berbicara dengan ibu-ibu di salah satu wilayah Sukaraja, Bogor yang meminta anak-anaknya diajarkan kasih sayang. “Aku nggak tahu, aku menangkapnya mungkin mereka nggak bisa memberikan perhatian lebih pada anakanaknya,” ujar dia tampak berlinang air mata mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat ditemui di Botani Square, Bogor, Rabu (12/6).

Kejadian itu bemula, saat dia dan temannya, Sera Andini Pasaribu/Sera (33) menemui para ibu yang anaknya akan ikut di sanggar belajar di salah satu wilayah di Sukaraja, Bogor. Tanpa disangka, ternyata warga meminta agar buah hatinya diajarkan kasih sayang.

Barangkali karena kesibukan bekerja dan beban keluarga, ibu-ibu yang sebagian besar bekerja sebagai buruh maupun asisten rumah tangga tidak mampu membagi kasih sayang utuh pada buah hatinya.

Dengan anak sebanyak lima sampai sembilan orang, mereka cukup kerepotan untuk menangani masalah rumah tangga secara keseluruhan. Bahkan setiap anak dituntut untuk mandiri. Seperti untuk makan sehari-hari, anak berusia enam tahun pun harus mengolah masakan sendiri.

Kondisi tersebut cukup memprihatikan karena lokasi masyarakat pra sejahtera tidak jauh dari Kota Bogor maupun Jakarta yang kondisi masyarakatnya sudah maju. “Mungkin dari sini jaraknya sekitar 6 kilometer,” ujar Vallent, begitu dia biasa disapa tentang jarak lokasi wilayah binaannya.

Materi membaca dan menulis merupakan materi utama dalam sanggar belajar yang didirikan pada 6 Februari 2011. Lantaran, anak-anak pra sejahtera yang bekerja sebagai pengupas singkong dengan upah 200 rupiah perkilogram tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis, terutama saat ditemui pada 2010.

Selebihnya, materi yang diberikan merupakan materi sehari-hari yang dilakukan secara teori dan praktek, seperti asal musal air. Kosacil sengaja mengindarkan materi-materi yang telah diberikan di sekolah supaya tidak menjadi beban.

Dengan pembelajaran yang dilakukan seminggu sekali, yaitu pada Hari Minggu mulai pukul 09.00 sampai 11.30 WIB menjadi pembelajaran yang ditunggu para adik didik, begitu biasa disebut, serta para relawan yang memanfaatkan waktu weekendnya.

Selain memberikan materi pembelajaran, komunitas mengadakan sejumlah kegiatan untuk merangsang kemampuan kognitif maupun afektif. Kegiatan tersebut berupa sarapan sehat, market day, feel trip (jalan-jalan ke museum), sedekah di bulan ramadhan dan parenting untuk para ibu setiap 6 bulan sekali yang bekerja sama dengan komunitas lain.

Dalam melakukan kegiatan, Vallent mengatakan semua biaya merupakan swadaya alias berasal dari kantongnya dan rekannya, Sera. Ia belum bermaksud untuk ikut dalam aplikasi donatur untuk membiayai kegiatan. “Karena, biaya yang dikeluarkan juga belum terlalu banyak,” ujar perempuan yang mengaku tidak memiliki kartu debit ini.

Alhasil, beberapa kegiatan diadakan sesuai dengankondisi keuangan mereka. Seperti feel trip, kegiatan jalanjalan mengunjungi museum, sesuai kesenangan adik didik, dilakukan kalau mereka mendapatkan gaji ke 13.”Jadi nunggu gaji ke 13 dari kantor dulu,” ujar dia sambil tergelak.

Kosacil merupakan komunitas yang berawal dari perkumpulan teman-teman SD yang bertemu di facebook. Setelah ajang kopi darat yang dipandang lebih bersifat hedonis, makan di restoran maupun karaoke, mereka ingin memiliki kegiatan yang bermanfaat. Terutama setelah mendengan pemberitaan, anak SMP bunuh diri karena tidak bisa melanjutkan sekolah.

Mereka pun tergerak membantu. Karena saat itu belum bekerja, mereka menjual barang layak pakai di Car Free Day (CFD), Sempur, Bogor untuk mendapatkan dana. Ternyata hasilnya lumayan, dalam tiga kali penjualan, mereka bisa mengantongi keuntungan senilai 10 juta rupiah. Dana kemudian dimaksudkan untuk membuat pesentren kilat, namun mereka kesulitan menjaring peserta.

Rupanya, ada salah satu orang tua anggota yang memiliki rumah berada di wilayah kawasan masyarakat pra sejahtera. Lalu, komunitas yang berdiri pada 21 Juni 2010 mulai melakukan kegiatan sosial sampai memiliki sanggar belajar di lokasi tersebut. Anggota yang semula berjumlah 10 orang kemudian menyusut menjadi dua orang. “Mungkin karena passion ya,” ujar Vallent singkat.

Hingga saat ini, Vallent dan Sera tak kenal lelah untuk mendampingin adik-adik dari masyarakat pra sejahtera. Sesekali, mereka menyambangi restoran yang berada di pusat perbelanjaan atau merencanakan liburan tahunan sekedar untuk menyegarkan diri. din/E-6

Komunikasi Dua Arah untuk Hindari “Bullying”

Jawaban tidak sesuai pertanyaan bukan menjadi persoalan dalam kegiatan pbelajar Kosacil. Karena yang terpenting, adik-adik peserta didik berani mengemukakan pendapatnya.

“Supaya, mereka berani mengemukakan pendapat. Saya bilang jangan takut salah karena lagi belajar,” ujar Vallent tentang komunikasi dua arah yang dikembangkan di sanggar belajar yang dikelola bersama rekannya, Sera. Ia ingin memberikan kesempatan adik-adik untuk berani mengemukakan pendapatnya. Pasalnya kebebasan berpendapat memberikan manfaat untuk peserta didik.

Saat bergabung di Komunitas Sahabat Kota, sebuah komunitas di Bandung yang memberikan edukasi kreatif pada siswa SD, ia mencermati komunikasi dua arah menjadikan anak-anak menjadi lebih kreatif. Mereka menjadi anak yang menyenangkan dan materi yang diajarkan akan lebih mudah diterima. “Karena, kita mendengarkan pendapat mereka (adik-adik),” ujar dia.

Vallent tidak menampik bahwa sistem pengajaran yang diberikan berbeda dengan sistem pengajaran di sekolah pada umumnya. Untuk sebagian sekolah, anak-anak yang aktif justru “merepotkan” pengajar.

Seperti saat adik didik melontarkan pertanyaan pada gurunya. Entah karena tidak dapat menjawab pertanyaan atau alasan lain, guru memberikan jawaban yang terkesan instan. “Cari saja di google,” ujar Vallent tentang tanggapan guru seperti yang diceritakan adik didiknya.

Lebih jauh lagi, Vallent dan Sera memiliki cita-cita supaya adik didiknya dapat “berdiri sejajar” dengan anak-anak kota, demikian menyebutnya. Dari pandangannya, anakanak yang tinggal di kota umumnya memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat. Berbeda dengan anak pra sejahtera yang cenderung diam. “Ini nggak bagus untuk perkembangan mereka,” ujar dia.

Karena pada dewasa nanti, anak-anak dari kota dan anak-anak pra sejahtera akan bertemu, entah karena keterikatan pekerjaan atau kehidupan sosial. Jika, mereka tidak memiliiki mental yang sejajar, mereka dengan mudah akan menerima bullying. “Karena tidak berani bersikap,” ujar dia. din/E-6

Kegiatan Sosial Membuat Lebih Banyak Bersyukur

Tidak pernah terbayang dalam benak Vallent dan Sera memiliki Komunitas Sahabat Kecil seperti saat ini. Bukan hanya peserta saja yang diuntungkan, namun kegiatan tersebut memberikan efek positif untuk keduanya.

Perubahan pola pikir merupakan perubahan nyata pada diri keduanya. Jika sebelumnya, mereka menghabiskan uang untuk membeli baju diskon atau jajan di restoran, saat ini mereka berpikir lebih panjang untuk membelanjakan keduanya. Lantaran, ada masyaraka yang kehidupannya tidak seberuntung mereka.

Seperti saat mendapatkan THR, Vallent mengaku tidak tergiur dengan postingan handphone (hp) baru temantemannya. “Kalau sekarang, hp masih berguna, masih berfungsi ngapain harus ganti,” ujar dia.

Sebelumnya, perempuan yang telah berkecimpung dalam kegiatan sosial sejak 2004 ini mudah tergiur hanya melihat postingan media sosial teman. “Kalau dulu, kayak gue harus ganti juga (hp). Masak sih, gue kan sama-sama kerja seperi dia,” ujar dia sambil tersenyum menceritakan pengalamannya.

Vallent mengatakan kegiatan sosial membuat hidupnya lebih berwarna. Kehidupan manusia tidak hanya seperti dirinya yang serba kecukupan. Melainkan, ada masyarakat lain yang kehidupannya lebih tidak beruntung dibandingkan dirinya.

Hal tersebutlah yang menjadikan lebih bisa meredam keinginan konsumtifnya. “Jadi lebih bersyukur,” ujar dia. Kini, ia tidak merisaukan kehidupannya yang berbeda dengan orang lain, termasuk statusnya yang belum menikah.

Serupa dengan Vallent, Sera mengatakan kegiatan sosial membuatnya lebih bersyukur pada kehidupannya. “Seperti dulu waktu sekolah, kita makan sudah ada yang siapin,” ujar dia.

Sementara, adik-adik di sanggar harus menyiapkan makanan sendiri karena orang tuanya sibuk mencari nafkah. Dari kegiatan sosial, ia baru menyadari bawa kehidupannya lebih beruntung dibandingkan orang lain.

Terketuk kegiatan yang dijalaninya, Vallent dan Sera tidak segan-segan menyisihkan gajinya untuk membantu adik-adik didiknya. Dana yang disihkan untuk sarapan pagi, membantu biaya sekolah maupun sekedar piknik bersama. Mereka tidak memiliki target tertentu. Semua tergantung ketersediaan dana yang dimilikinya.

Alhasil, kegiatan sosial membukakan mata bahwa hidup tidak hanya seperti yang terlihat. Ada kehidupan lain di tengah gemerlap kota bahkan diskonan baju di pusat perbelanjaan. Kehidupan yang membutuhkan uluran tangan untuk saling berbagi untuk memaknai hidup yang sesungguhnya. din/E-6

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait