Kisah Sutopo Pilih Twitter Dibanding Facebook untuk Tangkal Hoaks

  • Whatsapp
Kisah Sutopo Pilih Twitter Dibanding Facebook untuk Tangkal Hoaks
Kisah Sutopo Pilih Twitter Dibanding Facebook Untuk Tangkal Hoaks

Mantapps.com – Meninggalnya Kepala Humas dan Pusat Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menuai duka masyarakat Indonesia, di antaranya para netizen di media sosial.

Pria yang wafat akibat kanker paru-paru stadium 4B tersebut tergolong aktif di media sosial, tak hanya dalam membagikan informasi terkini ketika bencana alam terjadi namun juga mengklarifikasi berbagai hoaks terkait bencana alam.

Muat Lebih

Loading...

Sutopo sempat bercerita kepada awak media dalam sebuah konferensi pers bersama Twitter pada 5 Desember 2018. Sutopo mengatakan, kekuatan media sosial sangatlah luar biasa karena dengan medium itu dia dapat menyampaikan informasi terkini mengenai bencana alam dengan lebih mudah kepada masyarakat.

Salah satu akun media sosial yang aktif ia gunakan untuk menyalurkan informasi bencana adalah Twitter, yakni lewat akunnya yang bernama @Sutopo_PN. “Karena saya lihat banyak manfaat Twitter,” ujar Sutopo dalam konferensi pers, Rabu (5/12).

© Disediakan oleh PT Katadata Indonesia

Ia mengatakan, dirinya lebih memilih menggunakan Twitter daripada Facebook karena menurutnya akun media sosial tersebut lebih efektif digunakan, dibandingkan Facebook yang mayoritas berisi iklan seperti iklan penumbuh rambut, obat-obatan dan sebagainya.

Menurutnya, saat menyampaikan informasi di Twitter bahasa yang digunakan harus disesuaikan, mengingat sasaran utama di media sosial tersebut adalah kaum milenial. “Bahasa yang disampaikan harus receh. Kalau serius, apalagi birokrat, pasti tidak akan laku (dibaca informasinya),” ujarnya.

Ia mengungkapkan beberapa alasannya menggunakan Twitter. Pertama, menurutnya platfrom tersebut sangat efektif dalam menginformasikan kebencanaan. Seperti pada saat peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, ia termasuk salah satu yang paling cepat menerima video tentang puing-puing pesawat tersebut yang terjatuh. Namun, menurutnya ia tidak langsung mengunggah video tersebut di akun Twitternya. “Saya pantau dahulu (sumber informasi tersebut,” ujarnya.

Kemudian, ketika Badan SAR Nasional (Basarnas) menyampaikan bahwa pesawat A1 tersebut terjatuh, barulah ia mengunggah video tersebut. Menurutnya, video tersebut pada hari yang sama saat diunggahnya telah dilihat oleh lebih dari 1 juta penonton.

Bahkan, ia mengatakan bahwa wartawan-wartawan asing banyak yang meminta videonya tersebut. Ia pun memberikan videonya dengan syarat meminta mereka agar menuliskan credit video milik BNPB.

“Makanya akun @Sutopo_PN dipakai untuk tanya-tanya (informasi seputar kebencanaan), termasuk ada pula yang mencaci-maki (saya),” ujarnya.

Kedua, menurutnya Twitter cukup efektif dalam menangkal hoaks. Misalnya, ada informasi mengenai ada gempa pada pukul 23.23 pada beberapa waktu yang lalu. Ia mengatakan, dirinya akan langsung mengeceknya. “Kalau menyangkut (bencana alam), saya belum terima bantuan. Saya lakukan counter dari TNI dan sebagainya,” ujarnya.

Ketiga, menurutnya Twitter cukup efektif untuk menyampaikan pesan moral. Misalnya, bahaya rokok bagi masyarakat dan sebagainya. Terakhir, platform media sosial tersebut juga efektif digunakan untuk jajak pendapat melalui fitur polling terkait bencana.

“Intinya, kunci main media sosial, jangan baper (bawa perasaan),” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa salah satu hoaks bencana alam yang dianggap merugikan adalah saat meletusnya Gunung Sinabung beberapa waktu yang lalu, di mana gambar yang disebarluaskan adalah gambar abu gunung lain. “Akhirnya 17 juta wisatawan mancanegara batalkan datang ke Indonesia pada 2017,” ujarnya.

Adapun, hoaks dinilainya sangat merugikan orang lain. Untuk itu, kerap kali ia memberikan bantahan terkait hoaks-hoaks bencana alam yang ada di media sosial.

“Penyebaran hoaks begitu meluas, bukan hanya di Lombok. Masih tersu beredar. Masyarakat menjadi resah. Sebagian warga di Lombok mengungsi ke bukit-bukit takut gempa dan tsunami. Mari kita alwan hoaks. Bantu sebarkan informasi ini ke masyarakat  @BNPB_Indonesia,” ujar akun @sutopopurwo beberapa waktu yang lalu saat menanggapi hoaks soal gempa di Lombok.

Sutopo meninggal pada Minggu (7/7) pagi sekitar pukul 02.20 waktu Guangzhou, Tiongkok, atau pukul 01.20 WIB. Ia meninggal saat menjalani pengobatan sakit kanker paru di St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou sejak 15 Juni lalu. “Kanker yang dideritanya telah menyebar ke tulang dan beberapa organ vital tubuh,” demikian keterangan resmi BNPB di halaman Facebooknya, Minggu (7/7).

Sejak divonis kanker stadium empat pada akhir 2017, menurut BNPB, Sutopo terus gigih dalam melakukan upaya pengobatan. Ia juga tak henti menginformasikan berbagai kejadian bencana yang terjadi di Indonesia selama 2018 hingga pertengahan 2019.

Di tengah pengobatan kemoterapinya, Sutopo masih sempat melakukan konferensi pers secara berkesinambungan ketika terjadi bencana gempa bumi di Lombok dan Palu. “Kami, kita, semua merasa kehilangan Pak Sutopo. Sosok yang terdepan dan gigih dalam menyampaikan informasi bencana di Indonesia,” tulis BNPB dalam keterengan resminya.

Beberapa netizen pun turut merasakan duka atas kehilangan Sutopo. Seperti cuitan beberapa netizen berikut.

“Di Indonesia, Sutopo Nugroho membedakan dirinya dengan fakta-fakta yang ada di sana, memerangi tipuan dan menarik perhatian pada kurangnya kesiapan bencana dan faktor-faktor buatan manusia yang memperburuk bencana alam #ripsutopo.” ujar akun @andreasharsono.

“Beristirahatlah dengan tenang Pak Sutopo. Beliau membantu Indonesia Melalui ‘Tahun Bencana,’ sambil menghadapi (bencana) miliknya,” kata akun @Lini_ZQ.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait