Ilmuwan Bikin Alat Bantu Dengar yang Dikendalikan Pikiran

  • Whatsapp
Ilmuwan Bikin Alat Bantu Dengar yang Dikendalikan Pikiran

Mantapps.com, Jakarta – Ilmuwan Universitas Columbia, Amerika Serikat, menciptakan alat bantu dengar yang dikendalikan pikiran. Alat tersebut memungkinkan pemakainya untuk fokus pada suara-suara tertentu dan dapat mengubah kemampuan mereka yang memiliki gangguan pendengaran untuk mengatasi lingkungan bising.

Muat Lebih

Loading...

“Area otak memproses suara sangat sensitif dan kuat. Itu dapat memperkuat satu suara di atas yang lain,” ujar pimpinan peneliti Nima Mesgarani, seperti dilansir laman Dailymail, Rabu, 15 Mei 2019.

Perangkat ini meniru kemampuan alami otak untuk memilih dan memperkuat satu suara terhadap latar belakang percakapan. Sampai sekarang, alat bantu dengar yang paling canggih sekalipun bekerja dengan meningkatkan semua suara sekaligus.

Para ilmuwan telah bekerja selama bertahun-tahun untuk menyelesaikan masalah ini, yang dikenal sebagai efek pesta koktail. Alat bantu dengar yang dikendalikan otak memecahkan masalah menggunakan kombinasi kecerdasan buatan, dan sensor yang dirancang untuk memantau aktivitas otak pendengar.

“Secara teori, perangkat ini juga dapat digunakan seperti sepasang teropong audio untuk mendengarkan percakapan orang secara diam-diam,” kata Mesgarani.

Alat bantu dengar ini mula-mula menggunakan algoritma untuk secara otomatis memisahkan suara dari banyak sumber suara. Kemudian membandingkan trek audio ini dengan aktivitas otak pendengar.

Penelitian sebelumnya oleh lab Mesgarani menemukan bahwa ada kemungkinan untuk mengidentifikasi orang mana yang diperhatikan seseorang. Karena aktivitas otak mereka melacak gelombang suara dari suara itu.

© Copyright (c) 2016 Mantapps.com
foto

Perangkat membandingkan audio dari masing-masing speaker dengan gelombang otak yang memakai alat bantu dengar. Suara yang pola suaranya paling cocok dengan gelombang otak pendengar diperkuat di atas yang lain, memungkinkan mereka dengan mudah menyesuaikan diri dengan orang itu.

Para ilmuwan mengembangkan versi sistem yang lebih awal pada 2017, meskipun menjanjikan, tapi masih memiliki keterbatasan utama yang harus dilatih terlebih dahulu untuk mengenali suara penutur. Yang terpenting, perangkat terbaru berfungsi untuk suara yang belum pernah didengar sebelumnya.

Untuk menguji perangkat, laboratorium merekrut pasien epilepsi yang sudah memiliki elektroda ditanamkan di otak mereka untuk memantau aktivitas kejang sebelum operasi otak yang direncanakan. Pasien memutar audio dari speaker yang berbeda secara bersamaan sementara gelombang otak dipantau melalui elektroda yang ditanamkan di otak.

Algoritma melacak perhatian pasien ketika mereka mendengarkan pembicara yang berbeda yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Ketika seorang pasien fokus pada satu suara, sistem secara otomatis memperkuat suara itu, dengan jeda hanya beberapa detik.

Ketika perhatian mereka bergeser ke pembicara yang berbeda, level volume berubah untuk mencerminkan perubahan itu. Versi alat bantu dengar saat ini, yang melibatkan implan langsung ke otak, tidak cocok untuk penggunaan umum.

Namun, tim percaya akan mungkin untuk membuat versi perangkat non-invasif dalam lima tahun ke depan, yang akan memonitor aktivitas otak menggunakan elektroda yang ditempatkan di dalam telinga, atau di bawah kulit kepala.

Langkah selanjutnya adalah menguji teknologi pada mereka dengan gangguan pendengaran. Satu pertanyaan adalah apakah akan mudah untuk mencocokkan aktivitas otak pada orang yang sebagian tuli dengan gelombang suara dari ucapan. Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances.

Menurut Jesal Vishnuram, manajer teknologi di lembaga amal Action on Hearing Loss, mengatakan alat bantu dengar konvensional tidak menyenangkan di lingkungan yang bising karena otak mereka tidak terlatih dalam menyaring suara dan hal ini kurang efektif.

“Salah satu alasan orang berjuang adalah karena sering menunggu lama sebelum mendapatkan alat bantu dengar dan pada saat itu otak lupa bagaimana menyaring suara dan fokus pada sumber suara,” kata Vishnuram. “Ini adalah penelitian yang sangat menarik dan saya ingin melihat dampaknya.”

DAILYMAIL | SCIENCE ADVANCES | THEGUARDIAN

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait