Dark Web Merebak, Asia Pasifik Jadi Target Kejahatan Siber

  • Whatsapp
Dark Web Merebak, Asia Pasifik Jadi Target Kejahatan Siber
Dark Web Merebak, Asia Pasifik Jadi Target Kejahatan Siber

© Copyright (c) 2016 Mantapps.com
foto

Muat Lebih

Loading...

Mantapps.com, Jakarta – Sebagai salah satu perekonomian digital terbesar di dunia, Asia Pasifik rentan terhadap kejahatan siber. Ada lebih dari 2,007 juta pengguna Internet yang unik, yang menempati hampir setengah dari populasi wilayah Asia Pasifik, menurut laporan 2018 Global Digital dari We Are Social dan Hootsuite.

Banyaknya jumlah perangkat dan endpoint berarti adanya semakin banyak peluang untuk terjadi penyusupan oleh penjahat siber, terutama jika pengguna dan perusahaan gagal melakukan antisipasi.

“Kini, hampir tidak mungkin bagi bisnis modern untuk beroperasional tanpa pemanfaatan data, yang juga disadari oleh penjahat siber. Asia Pasifik menjadi target empuk untuk kejahatan siber, terutama di ranah dark web,” kata Budi Janto, Country General Manager, Lenovo Indonesia, Jumat, 14 Juni 2019.

“Walaupun komunitas dark web di Asia, termasuk di Indonesia, masih lebih kecil dibanding negara Barat, tapi tetap saja ini ancaman yang tidak bisa dihindari,” tambahnya.

Dark web mengacu pada bagian internet yang tidak terindeks oleh mesin pencari. Akses ke dark web membutuhkan perangkat lunak khusus, yang memungkinkan pengguna mengungkapkan indentitas dan aktivitasnya dibalik enkripsi yang berlapis-lapis.

Karena dark web itu anonim, diperkirakan lebih dari 50 persen situs di dark web digunakan untuk kegiatan kriminal. Meskipun banyak yang mengasosiasikan dark web dengan narkoba atau artefak curian, banyak juga terjadi penjualan data digital, seperti username akun, alamat email, dan kata sandi.

Data-data ini biasanya dijual oleh penjahat siber, yang mendapatkan akses ke informasi sensitif, seperti data keuangan dan kesehatan. Penjualan data pribadi ini menjadi bisnis yang tumbuh subur, dengan harga per identitas bisa mencapai ratusan dolar.

Bisnis harus menaruh perhatian untuk memerangi ancaman pencurian data yang riil dan semakin meningkat ini. Bagaimana pun juga, lebih dari setengah kejahatan siber di Asia Tenggara telah mengakibatkan kerugian lebih dari 1 juta dolar AS.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait