Penjualan Terus Melorot, LCGC Kian Merana

  • Whatsapp
Penjualan Terus Melorot, LCGC Kian Merana
Penjualan Terus Melorot, Lcgc Kian Merana

Bisnis.com, JAKARTA – Perlambatan produksi dan penjualan masih menghantui segmen low cost green car (LCGC). Apalagi di pasar otomotif mulai tersedia kendaraan dengan harga yang hampir sama dengan LCGC.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat,  pasar LCGC anjlok 12,41% (yoy) pada 6 bulan pertama tahun ini. Total penjualan tujuh model dari lima merek hanya sebanyak 100.792 unit, tergerus sebanyak 14.284 unit dibandingkan paruh pertama 2018.

Muat Lebih

Loading...

Perlambatan pasar LCGC ini sejatinya sudah mulai terjadi pada akhir tahun lalu. Pada 2018, ketika pasar otomotif nasional sebanyak 1,15 juta unit atau tumbuh 6,9%, segmen LCGC justru tertekan 1,8%.

Penjualan yang loyo membuat produksi kendaraan yang tinggi konten lokal ini ikut terdampak. Produksi LCGC pada semester I/2019 turun 10,21%, setara dengan sebanyak 115.924 unit.

Masih dari Gaikindo, dari lima merek yang bermain pada segmen ini hanya Daihatu Sigra yang mencatatkan pertumbuhan baik pada sisi produksi maupun penjualan. Selain Honda Brio yang relatif sama dengan semester I/2018, produksi dan penjualan model lainnya tertekan.

Tekanan paling dalam dari sisi produksi dan penjualan dialami Datsun.Pada sisi penjualan wholesales Datsun tergerus lebih dari 50% sehingga produksi juga ikut melambat. Padahal, Datsun saat ini menjadi satu-satunya model yang diproduksi oleh pabrik milik Nissan.

Head of Product Communications PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Hana Maharani mengakui bila pabrik NMI hanya memproduksi model LCGC Datsun.

“Iya [hanya memproduksi Datsun] untuk saat ini,” ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Pabrik NMI diketahui telah memproduksi sebanyak 2.596 unit sejak Januari hingga Juni 2019. Jumlah itu pun anjlok 47,76% dibandingkan periode yang sama 2018.

Tekanan juga terjadi pada produk Toyota, Agya dan Calya. Penjualan kedua model ini tertekan pada semester I/2019 masing-masing pada level  14,12% dan 32,21% (yoy). Melambatnya penjualan model Toyota ini ikut membuat produksi melempem.

Menariknya, produksi Agya tidak sedalam perlambatan penjualan domestik. Pada 6 bulan pertama ini, produksi Agya tercatat sebanyak 26.692 tertolong karena menjadi salah satu produk yang dikapalkan dengan nama Wigo ke manca negara khususnya Asean.

Calya kendati selalu masuk dalam daftar mobil terlaris Toyota setelah Avanza, Rush, dan Innova, tetap tidak bisa menghindar dari tren perlambatan pasar. Produksi Calya tercatat juga anjlok 31.88% karena melemahnya penjualan model LCGC 7 seater ini.

Setelah periode sulit pada semester I/2019, nasib kendaraan LCGC pun bakal makin sulit. Setelah menikmati insentif 0% untuk pajak penjualan barang mewah (PPnBM) sejak 2013, kini LCGC siap dikenakan tarif 3% sesuai dengan program low carbon emission vehicle (LCEV).

Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor (TAM) Anton Jimmy Suwandi mengatakan, Toyota menyadari sejak awal ketika program LCGC dirilis bahwa suatu saat pajak akan naik.

“Sejak awal LCGC diluncurkan kami sudah aware, pajak akan naik. LCGC hadir untuk mendukung industri otomotif karena konten lokalnya tinggi,” ujarnya belum lama ini.

Anton menjelaskan, salah satu alasan pasar LCGC melambat ialah minimnya model baru pada segmen ini. Kondisi itu berbeda dengan segmen lainnya di mana APM rajin menghadirkan produk baru.

Dia menampik LCGC akan hilang karena insentif yang selama ini dinikmati dicabut. Pasalnya, LCGC tetap akan mendorong tingkat kandungan lokal sekaligus masih dibutuhkan konsumen khususnya pembeli mobil pertama.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait