Lagu ‘Karna Su Sayang’ yang populer di pencarian Google dibuat ‘hanya 15 menit’

  • Whatsapp

#NTT #KarnaKuSayang #DianSorowea Mantapps.com — Untuk pertama kalinya sejak 2014, lagu dari Indonesia Timur menjadi lagu yang paling banyak dicari di Google Indonesia pada 2018.

Menurut “Google Year in Search 2018” Karna Su Sayang – yang dinyanyikan oleh Near dan Dian Sorowea dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur – tercatat sebagai lagu paling dicari, mengungguli lagu Meraih Bintang (Via Vallen) dan lagu berbahasa Inggris Perfect (Ed Sheeran).

Muat Lebih

Penciptanya mengaku ingin mempopulerkan musik dari Indonesia Timur.

Near yang bernama asli Immanuel Andriano Kure, menciptakan lagu itu ketika baru bangun tidur.

“Bangun dari tempat tidur langsung dapat nada, saya langsung ke toilet, ambil gitar, dan rampungkan nadanya dalam toilet,” kata Immanuel kepada BBC Indonesia, 18 Desember 2018.

Setelah itu dia menyelesaikan lagunya di dekat kandang babi di belakang rumahnya.

Lagu tersebut berasal dari pengalaman pribadinya, kisah cintanya sendiri.

Alasan mengapa Dian Sorowea yang menyanyikan lagu itu berawal ketika Immanuel bertemu Dian, siswi sekolah menengah atas yang berusia 16 tahun (kini 17 tahun).

Mereka dikenalkan oleh teman sekompleks Immanuel, yang juga adalah guru musik Dian.

Immanuel tidak menyangka lagu yang chorusnya diciptakan hanya dalam 15 menit itu akan menjadi lagu yang paling banyak dicari tahun 2018.

“Itu hal yang tidak saya sangka, untuk lagu yang menggunakan bahasa daerah, bahasa sehari-hari saya, akhirnya bisa diterima. Itu hal yang luar biasa,” kata dia.

Video yang diunggah di akun Youtube Near itu sudah dilihat sebanyak 81 juta kali hanya dalam empat bulan (per 19 Desember 2018).

“Membawa nama daerah sudah kewajiban saya,” kata dia yang juga bercita-cita untuk menaikkan musik dari Indonesia Timur.

Bahasa

Salah satu keunikan lagu Karna Su Sayang adalah pemakaian dialek Maumere dalam liriknya. Seperti “sa” untuk “saya”, “su” untuk “sudah”, “tra” untuk “tidak” dan “jang” untuk “jangan”.

Akibatnya, di kolom komentar Youtubenya dia kerap menemukan kata “kami kurang mengerti, bisa pakai Bahasa Indonesia saja?”.

“Tapi saya ingin tetap berkarya dengan apa yang sudah saya mulai. Jika menggunakan bahasa timur membuat nyaman untuk berkarya, kenapa harus menggunakan bahasa lain?” kata dia.

Menurutnya, bahasa hanya perantara untuk memahami. Jika musiknya bagus, pendengar akan mau bersusah payah mencari artinya.

“Apalagi ini asli Bahasa Indonesia itu sendiri. Hanya ada beberapa yang dipersingkat. Saya rasa tidak terlalu susah,” kata dia.

Rupanya arti lagu ini pun tak terlalu susah dipahami oleh warganet asal Malaysia yang mengaku “jatuh cinta” dengan lagu ini.

https://twitter.com/daliafarhana/status/1052905477024178177

Banyak penyanyi lain pun turut menyanyikan ulang lagu ini dengan jumlah penonton yang tak sedikit. Karna Su Sayang versi Youtuber Aviwkila, misalnya, disaksikan sebanyak 35 juta kali. Nella Karisma, Judika dan Via Vallen pun tak ketinggalan.

“Saya mendukung semuanya, kalau memang lewat lagu saya mereka bisa berkarya. Yang saya larang adalah mengkomersilkan lagu saya tanpa seizin saya. Paling tidak, hargai karya saya sebagai pencipta lagu,” kata dia.

Akibat viralnya lagu Karna Su Sayang, Immanuel telah mendapatkan beberapa tawaran kerja sama dengan musisi lain.

Meski demikian dia tidak ingin rekaman dengan label besar. Cita-citanya sederhana.

“Saya hanya ingin renovasi kamar saya biar bisa rekaman sendiri. Karena sekarang alat rekaman yang saya pakai itu pinjaman. Saya harap bisa membelinya, doakan ya,” kata dia.

Mempertahankan kesuksesan

Pengamat musik Benny Hadi Utomo yang biasa dipanggil Bens Leo menilai bahwa dengan adanya Youtube, kemungkinan lahirnya lagu hit baru dari daerah sangat besar.

“Karena begitu kayanya Indonesia, kemungkinan untuk menjadi hit secara bergantian dengan daerah-daerah lain di Indonesia itu sangat besar,” kata Bens kepada BBC Indonesia, 18 Desember 2018.

Menurutnya, kekayaan musik dari berbagai daerah di Indonesia adalah salah satu kelebihan yang harus dimanfaatkan untuk bersaing di dunia musik internasional.

“Kalau Korea punya K-pop, kalau bisa kita pun harus punya I-pop yang mendunia. Kalau Korea bisa, kenapa Indonesia tidak bisa, padahal kita lebih kaya dengan musik-musik dari daerah,” kata dia.

Dialek Indonesia Timur yang terdapat dalam lagu Karna Su Sayang juga justru dinilainya sebagai daya tarik.

“Bahasanya mungkin terdengar aneh di telinga bagi yang tak biasa, tapi justru yang aneh itu menjadi sebuah daya tarik,” kata Bens yang memberi contoh kepopuleran penyanyi Malaysia Sheila Madjid karena cengkok melayunya yang terdengar aneh untuk kuping Indonesia.

Meski demikian tantangan telah menanti di depan. Mampukah Near dan Dian Sorowea mengelola kesuksesan yang telah didapatkannya di media sosial, Google dan Youtube?

“Kalau tidak disertai dengan manajemen yang baik, akan jadi populer di media sosial saja, sayang jika hanya berputar di sekitar situ,” kata Bens.

Menurutnya Youtube bisa membuat penyanyi pendatang baru menjadi populer di luar dugaan orang banyak, tanpa harus melewati jalur konvensional. Beberapa musisi bisa sukses tanpa tergantung pada label rekaman besar.

Dia mencontohkan Via Vallen, Tulus, Ayu Ting Ting dan Raisa yang meraih kesuksesan dengan label rekaman indie.

“Jika mengeluarkan lagu dengan ornamen daerah seperti sekarang, tinggal bagaimana dia bisa menangkap peluang itu agar bisa dilanjutkan secara menarik dengan manajemen bagus, penata musik yang bagus, hingga akhirnya bisa go internasional,” kata Bens.

Pos terkait