Mencermati Tren Anak Muda Indonesia ke Toko Buku Indie

  • Whatsapp

#Tren #AnakMuda #Buku Mantapps.com, Jakarta – Anak muda era kini semakin dinamis mencari jalan alternatif untuk mendapatkan bacaan. Saat toko buku dari jejaring besar terasa ‘nggak asyik lagi’, mereka pergi ke toko buku indie.

Toko buku independen relatif mungil bila dibanding jejaring toko buku raksasa yang bisa menjangkau seluruh provinsi. Namun justru keunikan toko buku indie tak ditemui di toko buku besar. 

Muat Lebih

Setidaknya keunikan-keunikan itulah yang bikin kaum milenial melangkah di antara buku-buku aneka ragam. Mahasiswi ini salah satunya. 

“Di sini lebih banyak buku-buku yang dari penerbit independen,” kata Anissa, mahasiswi yang dijumpai di Toko Buku Aksara, Jl Kemang Raya, Jakarta Selatan, Senin (10/12/2018) sore.

Buku-buku ditata sedemikian rupa di rak putih. Ada pula yang ditumpuk di meja-meja. Soal buku-buku yang disajikan, sepertinya sulit ditemukan di toko besar. 

“Jenis bukunya beda, nggak seperti yang di toko buku besar,” kata Anissa yang gandrung dengan literatur fiksi ini.

Suasananya memang berbeda dengan toko buku ‘major’, rasa-rasanya ini cocok juga untuk bersantai, tidak membuat pengunjung tergesa-gesa. 

Bangunan ini tak hanya berfungsi sebagai toko buku, melainkan pusat komunitas. Ada studio seni pula di sini, Kinosaurus Jakarta untuk pemutaran film, hingga kafe.

Anissa juga sempat mengakrabi pojok-pojok buku alternatif di Bandung, seperti Kineruku dan Omuniuum. Baginya, toko-toko buku indie memang punya karakter khas dari segi kurasi buku hingga non-buku.

Dicko, mahasiswa asal Jakarta, mengakui kenyamanan di toko buku semacam ini yang sulit ditemukan di toko buku biasa. Saking nyamannya buat nongkrong, dia kemudian berpikir untuk sekalian memanfaatkan tempat ini untuk mengerjakan tugas kuliah. 

“Bagus sih konsepnya, buat nongkrong enak, buat ngerjain tugas, buat mahasiswa nongkrong di sini, tempatnya bagus dan bersih,” kata Dicko.

Dia mengaku sebagai ‘anak baru’ di toko buku indie. Namun untuk kali pertamanya, dia sudah merasakan keistimewaan toko buku indie. “Di sini tuh bukunya nggak ada di toko buku besar. Ada yang di jual di sini, tadi saya lihat buku tentang Gelora Bung Karno, nggak nemu di tempat lain tapi dijual di sini ternyata,” tutur Dicko.

Hari Jumat (14/12/2018), detikcom menuju Pasar Santa di Jl Cipaku I, Kebayoran Baru. Di dalam pasar modern ini ada toko buku indie yang cukup kenamaan, yakni POST. Toko tidak buka setiap hari, namun tiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. 

Tempatnya mungil, sekitar 4×2 meter saja, namun muatan dan penataan membuat pojokan ini jadi menarik. Dinding putih dengan kosen kuning memberi kesan bersih. Buku warna-warni tertata di rak dengan pencahayaan yang pas. Di pojokan ada lampu baca, ada meja pula di tengahnya, lengkap dengan orang yang khusyuk membaca. Seolah tempat ini adalah kamar teman Anda. 

Suasana seperti ini membuat April Ramadhan (28) senang berkunjung. “Feel-nya itu lebih hangat, welcoming, nggak intimidating,” kata dia. 

Koleksi buku dikurasi dengan selektif, jumlahnya tak seberlimpah yang dapat ditemukan di toko buku besar. Namun ini justru membuat April lebih mudah memilih. Dia juga lebih mudah mendapatkan buku-buku terbitan luar negeri lewat Post ini.

“Apa yang kita incar tapi belinya harus di luar negeri, malah suka ada di toko ini. Bisa pesan juga lewat email sebelum mereka (pemilik toko buku Post) ke luar negeri untuk cari bukunya,” kata dia.

Meski gemar ke toko buku indie, April kadang masih berkunjung ke toko buku besar untuk memantau perkembangan buku arus utama. 

Anissa, Dicko, dan April hanyalah sedikit dari banyak kaum muda di Indonesia. Bila merujuk survei, sebenarnya ranking Indonesia masih buruk dalam hal minat baca. Menurut penelitian Central Connecticut State University (CCSU) tentang ranking tingkat literasi negara-negara di dunia (World’s Most Literate Nations Ranked) yang dirilis tahun 2016, Indonesia berada pada ranking 60 dari 61 negara.

Di Barat, Orang Matikan Ponsel dan Baca Buku Cetak Lagi

Di benua Barat, toko buku indie dikenal berkarakter terbuka terhadap semua pengunjungnya. Hal ini dinyatakan oleh Philipe Ungar, penulis dan arsiparis audio yang mengunjungi 50 pedagang buku Indie AS. Salah satu yang dia kunjungi adalah toko buku indie feminis Bluestockings. 

Si pemilik toko justru mempersilakan orang-orang yang tak mampu beli buku untuk masuk saja, membuat mereka nyaman, dan mempersilakan mereka membaca di tempat. Ungar mengatakan dalam tulisan di The Observer/The Guardian, “Begitulah ruh dari pedagang buku indie. Sebuah toko buku yang lebih dari sekadar toko buku, (toko buku indie) lebih dari sekadar menjual buku. Itu adalah naungan untuk publik. Siapapun Anda, Anda tak harus membeli apapun, mereka tak akan menanyaimu kartu identitas. Anda bebas — Anda bisa berada di situ selama berjam-jam dan menelusuri buku. Ada kemurahan hati, optimisme.”

Ada yang disebut sebagai ‘kebangkitan buku cetak’ usai kemunculan e-book yang hanya bisa dilihat lewat layar gawai elektronik. Di Amerika Serikat, kebangkitan buku cetak ini terdeteksi pada 2016. Pada saat itu, toko-toko buku indie termasuk pihak yang mendapat angin baik. Meski begitu hingga 2018, kabar-kabar tentang tutupnya toko buku indie karena tak mampu bertahan juga sering terdengar. 

Akhir 2018 dikabarkan Forbes memberi tanda positif untuk industri penerbitan buku. Penjualan buku di AS hingga Oktober 2018 naik 7,2% atau sekitar $699 juta dari Oktober 2017 dengan nilai sekitar $649 juta. Hal ini dilaporkan Publishers Weekly. Quartz melaporkan kondisi di Inggris, penjualan buku hingga akhir 2018 mencapai $28 juta. CEO American Bookseller Association Oren Teicher mengatakan ada peningkatan pendapatan sebesar 5% yang diperoleh toko buku indie di AS pada 2018. 

Nisha Chittal lewat Vox menyatakan, naiknya penjualan buku cetak telah didorong oleh keinginan masyarakat untuk mematikan ponsel. “Reaksi balasan terhadap teknologi telah menjadi anugerah untuk buku-buku: Seiring orang-orang mencoba mematikan layar ponselnya, mereka berbelok ke arah membaca buku fisik.”

Di Indonesia

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mengunggah data riset 2015 di situsnya. Terlihat, jumlah eksemplar penjualan toko buku menurun dari tahun 2013 ke 2014. Pada 2013 ada 69,776 juta eksemplar yang terjual dan pada 2014 ada 62,656 juta eksemplar yang terjual. 

Namun dari seluruh anggota IKAPI, yakni sebanyak 1.328 penerbit, nominal penjualan dari toko buku pada 2013 sebanyak Rp 4 triliun. Pada 2014, nominal itu meningkat menjadi Rp 5 triliun. Nominal proyek pada 2013 sebesar Rp 330 milliar dan pada 2014 sebanyak Rp 510 miliar. Nominal buku sekolah pada 2013 sebesar Rp 3 triliun dan pada 2014 tetap Rp 3 triliun.

Pos terkait