Alasan di Balik Kegagalan Sekuel Film Besar pada 2019

  • Whatsapp
Alasan di Balik Kegagalan Sekuel Film Besar pada 2019
Alasan Di Balik Kegagalan Sekuel Film Besar Pada 2019

Play Stop Rewatch, Jakarta – Sejak awal hingga pertengahan tahun 2019, kita sering mendengar beberapa film sekuel, spinoff, atau reboot yang ‘mengecewakan’ dan ‘tidak laku’, bahkan berakhir ‘tidak dianggap’ oleh para fans.

Muat Lebih

© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network
Ilustrasi film yang gagal secara rating. (Foto: Sony, Fox, Lionsgate)

Nyatanya, beberapa film dengan franchise yang sudah besar selalu sukses di pasar. Namun, kita tidak bisa menyalahkan bahwa sudah terlalu banyak sekuel atau remakes, sehingga menginginkan film baru yang original.

Sebagai contoh, sebut saja Avengers: Endgame, Captain Marvel, Aladdin, How to Train Your Dragon: The Hidden World, dan masih banyak lagi. Sebaliknya, beberapa nama seperti Dark Phoenix, Men in Black International, Hellboy, Shaft, Godzilla: King of the Monsters, The LEGO Movie 2: The Second Part, dan Dumbo, malah dinilai cukup gagal.

Lelah dengan franchise besar yang diperas

Star Wars yang dibangkitkan kembali untuk diperas uangnya© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network
Star Wars yang dibangkitkan kembali untuk diperas uangnya

Salah satu alasan kenapa banyak sekali franchise besar yang tetap dibuatkan sekuelnya walaupun ceritanya sudah berakhir, di-remakes, atau diberikan spinoff adalah sesederhana berpotensi menghasilkan uang dari fanbase-nya yang sudah besar.

Mungkin itu berhasil ketika Star Wars: The Force Awakens mencoba merilis sekuel setelah berjarak hampir dua dekade dari film terakhirnya. Star Wars berhasil menjual nilai nostalgia pada film ini. Namun, terlalu banyak mengambil film lama yang di-remakes atau reboot membuat kita sebagai penonton menjadi bosan.

© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network

Apalagi jika proyek tersebut dibuat dengan setengah hati dan tidak sebaik film original-nya. Melihat franchise Star Wars yang sudah membuat rencana jangka panjang, penonton bisa jadi jenuh dan kehilangan interest-nya terhadap franchise ini.

Review yang jelek atau filmnya memang sudah jelek

Contoh rating yang anjlok (Foto: Rotten Tomatoes)© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network
Contoh rating yang anjlok (Foto: Rotten Tomatoes)

Ini alasan paling masuk akal yang berlaku untuk semua film, tidak spesifik kepada film dengan franchise besar. Hanya, jika ini jatuh pada franchise ternama, efeknya di-amplify lebih lagi karena ekspetasi yang tinggi sudah dibangun sejak rilisnya pengumuman pembuatan film tersebut.

Terlalu banyak kompetisi

Dark Phoenix mengundur waktu rilisnya agar mendapatkan slot yang tepat untuk bersaing dengan film lain (Foto: Fox)© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network
Dark Phoenix mengundur waktu rilisnya agar mendapatkan slot yang tepat untuk bersaing dengan film lain (Foto: Fox)

Musim panas merupakan tanggal yang tepat untuk merilis film blockbuster yang berpotensi meraup uang banyak. Sayangnya, banyak studio berpikiran demikian sehingga banyak film yang rilis dalam waktu berdekatan. Belum lagi review dari early screening memengaruhi keputusan penonton akan menonton atau tidak.

Tapi, jika tidak ada pilihan lain pada saat itu, sejelek apapun review-nya, penonton akan memilih film tersebut. Sayangnya, karena sekarang sudah banyak pilihan film, penonton akan memilih film terbaik dari yang terburuk.

Adanya konten streaming service

Salah satu streaming service yang paling banyak digandrungi users (Foto: Netflix)© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network
Salah satu streaming service yang paling banyak digandrungi users (Foto: Netflix)

Kepopuleran bisnis streaming service memengaruhi pendapatan domestik Amerika Serikat. Menurut Businessinsider, bahkan setelah Avengers: Endgame sekali pun, pendapatan domestik Box Office tetap menurun 6 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Sepertinya, urgensi untuk menonton film terbaru secepat mungkin sudah bergeser karena bisa menontonnya dengan ongkos yang lebih efisien lewat streaming service seperti Netflix. Apalagi jika film tersebut tidak terlalu hype dan mendapatkan rating yang sangat buruk.

Walaupun pengalaman menonton di bioskop memang tidak bisa digantikan, tapi sepertinya budaya ini akan segera bergeser. Apalagi bagi orang-orang yang tinggal di daerah terpencil dan harus mengeluarkan ongkos juga tenaga lebih untuk bisa pergi ke bioskop. Tentunya mereka akan sangat picky saat memutuskan untuk menonton film di bioskop.

Penulis: Andri

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait