Rayuan Politik Lagi

  • Whatsapp
Rayuan Politik Lagi | MataKita
Rayuan Politik Lagi | Matakita

Pengingatan kembali datang begitu cepat sebelum ingatan lainnya datang bertubi-tubi telah menoreh catatan tersendiri dengan apa yang bernama permainan.

Putar haluan dan sebagian tetap menyatakan sebagai kelompok oposisi. Ada partai politik yang menjalani satu dasawarsa sebagai oposisi, ada juga yang pernah dan masih tetap akan mengulang sebagai oposisi.

Muat Lebih

Loading...

Satu waktu ia cukup lama menjadi oposisi, di waktu lain menjadi salah satu pengusung rezim politik yang sementara berlangsung. Tidak ada sesuatu yang tetap dalam kesatuan langkah dan pemihakan, kecuali kepentingan. Dahulu ia menjadi lawan, sekarang menjadi kawan. Tidak yang istimewa dalam sejarah ilmu pengetahuan tentang politik kuasa.

Terdapat alasan para elit politik mengadakan suatu pertemuan yang bertujuan untuk mencairkan suasana akibat ketegangan. Pertemuan perdana antar elit politik yang cukup melegakan, tetapi mengecewakan terutama partai, tim atau kelompok pendukungnya.

Loyalitas tidak lebih dari parodi bahkan ilusi. Akibatnya, ada yang mencabut dukungan mereka pada tokoh pilihannya. Dari post-politik ke post-politik lainnya terus bergerak melalui pertemuan, persis perpindahan dari satu medium ke medium lainnya.

Betapapun opini yang terbangun berkat pertemuan atau yang dianggap bagian dari peristiwa politik antar politik tidak peduli. Menyangkut permasalahan ada kepentingan bangsa atau bukan dari hasil pertemuan itu cerita lain.

Telah dapat dibayangkan, dalam waktu yang tidak lama akan muncul ke permukaan menyangkut figur-figur lain yang digadang-gadang akan generasi kepemimpinan yang baru yang bermain di atas panggung perpolitikan nasional.

Parodi, pihak lain boleh saja menolaknya, adalah rezim petahana belum secara legitimasi politik dilantik dan berbuat apa-apa yang berskala besar, berbanding lurus dengan permasalahan bangsa dan negara yang besar, dimunculkanlah salah satu nominasi yang menuansai proses seleksi alamiah atau rekayasa sosial bagi kepemimpinan nasional yang sudah dapat dimengerti lebih dari peletakan batu pertama sebuah bangunan keseimbangan kuasa.

Ritual kuasa berbicara dalam kehingarbingaran politik sebagai artikulasi, melangkah pada satu babakan bahasa dengan sisi yang masih kosong. Kata lain, semuanya akan ada waktu untuk membolak-balikkan relasi komunikasi politik yang mendebukan cermin elit politik hingga matanya melirik pada yang lain sesuai dengan matriks kepentingan.

Apa terpenuhi atau tidak, bergantung pada logika pragmatis yang berbicara padanya melalui “cermin” yang lebih jelas dari obyek pengetahuan yang berbeda sebelumnya.

Disinilah tubuh politik memantulkan bayangannya sendiri tanpa cermin. Beruntunglah ada pemain tanggung yang jatuh bangun dengan perbincangan politik melalui santap siang atau gaya lainnya. Kita diminta untuk membaca ‘bahasa tubuh politik’, yang membuat kita tidak mengerti apa-apa mengenai agenda pembicaraan diantara mereka.

Tidak ada yang aneh, dari setiap pertemuan ke pertemuan politik lainnya. Panggung kuasa yang menciptakan bayangan dari apa yang menjadi pembacaan teks politik, menarik pantulan bayangannya kembali ke struktur pembacaan lainnya.

Peristiwa itu benar-benar tidak lebih dari suatu ‘pengulangan dari perbedaan’, akibat syarat politik yang berubah-ubah. Sehingga, tidak khayal, pembacaan atas syarat politik yang berubah-ubah juga dinilai berdasarkan dari sudut pandang yang berbeda.

Pengulangan dalam waktu, narasi loyalitas dalam asal-usul ilmu pengetahuan bukanlah narasi kesahihan ilmiah. Setiap pertemuan diadakan, apapun strateginya, dinamika kehidupan politik didorong oleh hasrat atau kenikmatan yang tentu saja tidak semuanya terpikirkan. Sebagian pihak menuduh seseorang telah melakukan suatu penghianatan dan di pihak lainnya menganggap sebagai bagian dari seni politik.

Dalam babakan pertemuan atau negosiasi itu menghasilkan parodi dan melankoli. Narasi politik MRT merepresentasikan suatu parodi dan melankoli ditandai dengan para pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin tidak dapat menyembunyikan lelucon alias tertawaan.

Sebaliknya, pendukung Prabowo-Sandi sebagian menampilkan rasa kecewa, meradang, bahkan menarik dukungan padanya. Sebagian orang berada dalam mesin ketidaksadaran menggiring dirinya untuk mengerahkan perhatiannya terhadap tontonan politik sebagai politik. Pemujaan atas tubuh politik berganti dan bertukar dengan pemujaan atas tubuh modal-komoditas.

Post-politik merupakan rangkaian hasrat, kenikmatan, selera, fantasi, dan mimpi sebagai motif dalam pencapaian posisi politik yang bersifat prosedural (suatu permainan berlangsung setelah Pemilu-Pilpres ditunjukkan gonjang-ganjing pembagian porsi kabinet pemerintahan). Seluruh rangkaian tersebut dalam post-politik adalah mesin ketidaksadaran.

Menyangkut permasalahan mengenai budak nafsu atau penghambaan kuasa menghilang dalam mesin ketidaksadaran (hasrat, fantasi, ingatan, dan sejenisnya). Jabatan, pangkat atau kedudukan yang ada dan sementara berlangsung dalam permainan menjadi pemujaan yang khas dalam dunia politik.

Dunia yang kita saksikan tidak lebih dari suatu permainan menuju wilayah permainan yang lain diiringi pelanggaran batas-batas. Tidak ada lagi budak nafsu, kecuali permainan dalam perbedaan rayuan politik.

Budak nafsu kuasa tidak pernah berakhir dalam blantika musik perpolitikan; ia tidak pernah sepi dari industri hiburan politik. Pergerakan citra politik didinamisasi arus nafsu menuju permukaan melalui pergerakan tubuh murni yang ditunjukkan dengan rangkaian pertemuan para elit politik. Nafsu politik kuasa dibangun, dipadatkan dan didistribusikan secara produktif melalui tubuh. Penyaluran nafsu-hasrat untuk berkuasa yang lebih lunak di atas panggung disederhanakan dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK). Apakah cara ini akan menyelesaikan konflik kepentingan? Semuanya akan digambarkan melalui rayuan politik, sejauh mana kepentingan dimainkan dalam pengulangan ‘peristiwa yang sama sekaligus berbeda’ sebelumnya adanya isu mengenai “penambahan koalisi tergantung kesepakatan Ketua Umum Parpol KIK”, demikian pandangan Partai Golkar (detiknews, 28/07/2019). Ada hal yang lumrah, tatkala partai politik pendukung yang dipecundangi akan mengarah pada koalisi pemenang Pemilu/Pilpres menjadi ‘pengulangan tontonan dari adegan yang melimpah ruah’. Ia laksana ‘seni erotis’. Kita mengetahui, bahwa kata-kata loyalitas dan oposisi merupakan sesuatu yang rigit dalam dinamika politik nasional. Tidak heran, pertemuan demi pertemuan berlangsung antara Jokowi dan Prabowo, Surya Paloh selaku Ketua Umum Partai Nasdem dan Anies Baswedan, Prabowo, Ketua Umum Partai Gerindra dan Megawati, Ketua Umum PDIP dianggap sebagai bagian dari kancah perpolitikan atau dinamika politik Indonesia. Kebenaran dari seni erotis politik menjadi lebih cair berkat rayuan yang bersifat mekanis. Karena itu, rayuan politik ditandai oleh seks non manusia. Berkat titik tolak dari hasrat berpolitik bersifat abstrak yang bergerak secara mekanis memberi rayuan demi rayuan yang ‘bukan dari manusia’, melainkan dari politik itu sendiri yang menubuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata lain, bahwa dinamika politik muncul dari rayuan politik melalui hasrat atau kenikmatan.

Seringkali kita mendengar pergerakan politik setiap saat berubah, dari hari ke jam, dari jam ke menit hingga tiba-tiba berubah dalam lima menit bukan mengikuti tempo permainan keberpihakan, tetapi permainan rayuan. Struktur bahasa politik dialirkan dari pergerakan peristiwa negosiasi secara teknis keseharian berlangsung di ruangan umum, rumah jabatan atau rumah pribadi, dan pertemuan informal lainnya bernuansa agak lebih santai. Pergerakan peristiwa politik yang didukung oleh artikulasi kepentingan menjadi artikulasi yang nyata. Ikhwal permintaan secara khusus dari Presiden terhadap seseorang yang sebelumnya dari usulan partai yang ingin bergabung dalam koalisi KIK, sekalipun orang bersangkutan belum mengakui telah menerima pembicaraan langsung mengenai pencalonan dirinya sebagai menteri. Apabila hal ini tercapai, ‘pseudo-oposisi’ atas rezim politik kuasa sebagai strategi permainan berarti langkah menuju koalisi nampaknya akan cair akibat pergerakan rayuan politik yang menerobos perbedaan kepentingan. Mungkin, tidak ada yang mustahil dalam dunia politik sebagai seni erotis yang membujuk rayu.

Dalam perbincangan secara blak-blakan, suatu pergerakan kepentingan instan selalu sesuai dengan rayuan politik akan jabatan, pangkat dan kedudukan sebagai akibat dari mekanisme yang tersembunyi melalui mata kuasa. Satu atau lebih diantara sekian daftar usulan orang-orang yang akan dicalonkan untuk menduduki kursi menteri, misalnya dari partai yang akan berkoalisi dalam KIK. Satu hal yang cukup menarik adalah probabilitas dari politik berada dalam ketidakpastian atas pernyataan tentang a, b dan c ditetapkan menjadi menteri. Usulan calon yang mengisi kabinet mengikuti hasil identifikasi, bahwa salah satu calon dari kalangan profesional, yang lainnya cenderung masih berada dalam keplintat-plintutan, kecuali semuanya berada dalam kepastian menduduki kursi menteri. Kalimat atau kata-kata sebagai kesatuan logika yang merepresentasikan bahasa (politik) saling mengisi dengan proposisi dengan mencoba menguraikan apakah kata dan simbol menjadi lebih memadai. Katakanlah seperti ini, “Udin pergi menghadap ke pimpinannya besok siang” membentuk sekelompok kata. “Pimpinannya besok siang Udin pergi” agak rancu dikatakan sebagai satu kalimat. “1 x 2=3 x 4 menuju satu proposisi, dibandingkan dengan 12+x=3 tidak dapat diterima sebagai bangunan logika formal. Berbeda dengan dunia politik, dimana rayuan politik sebagai sesuatu yang tidak terukur, sehingga dapat dibedakan yang mana kalimat dan proposisi. Kita juga mencoba untuk membandingkan dengan pernyataan Sandiaga, “Dia akan mempersembahkan amal baktinya untuk bangsa dan negara“. “Itu kan dia bilang begitu karena belum pasti. Kalau sudah pasti, dari sana lampu hijau, dia akan bilang, ’saya tergantung Pak Prabowo. Pak Prabowo perintahkan ini, saya siap berbuat untuk rakyat. Ya kurang lebih begitu, tuturnya” (CNN Indonesia, 30/07/2019). Seseorang berhasrat untuk kursi menteri atau sejenisnya menandakan suatu rayuan politik bekerja sesuai dengan keadaan alamiah yang termekanisasi, yang kualitas yang dikuantitaskan melalui daftar usulan nama-nama calon yang menduduki menteri. Sampai kapankah kita akan menonton sebuah episode terakhir rayuan politik yang masih memanggungkan figur atau aktor yang telah terbuai dalam mesin ketidaksadaran? Suatu hal juga yang membuat kita masih tetap menarik nafas panjang-panjang, tatkala kursi menteri berbicara pada kita menjadi kata-kata yang masih melangsungkan ketegangan, kontradiksi atau ketidakpastian makna akan suatu pernyataan dari seseorang.

Kita melihat, ilmu pengetahuan memberikan penemuan, produktivitas dan dinamika politik sepanjang rayuan politik membebaskan dirinya dari ruang kosong. Pergerakan arus produksi rayuan seiring produksi hasrat yang melampaui analisis. Kita juga masih dapat tersenyum selama rayuan politik tidak dilepaskan dengan demokrasi dan keadilan. Akhirnya, setiap orang dan masyarakat di negeri kita masih perlu menambah kekuatan baru dari rayuan politik supaya kita terbebas dari takhyul dan momok yang bersembunyi dibalik pikiran kita. Satu hal lagi, bahwa meskipun dianggap utopia, rayuan politik akan dipersembahkan untuk membangun bangsa kita, bukan sebaliknya. Akankah? Sebagian orang dan kelompok masyarakat masih sering memainkan suatu permainan diiringi oleh rayuan politik, berarti dimana arah angin bergerak disitu pula dia ada.

Rayuan politik menjalankan fungsinya untuk mengendalikan birahi represif, insting untuk menghancurkan atau hasrat untuk memperbudak manusia. Masa depan bangsa kita tidak dapat dilepaskan dari pergerakan rayuan politik. Karena disitulah, kita akan dapat berbicara dan bergerak bebas setelah kita mengetahui tentang ironisnya seseorang yang menempuh jalan “bunuh diri” dalam kehidupan tanpa diselingi oleh rayuan politik. Atau, kita tidak mencoba bermain-main dengan rayuan politik.

Dari orang-orang yang tidak ingin mengambil banyak pusing tentang perpolitikan di tanah air begitu aneh, karena mereka melawan kodratnya sebagai manusia yang melekat dalam dirinya, yaitu hasrat sebagai energi. Rayuan politik datang dari energi hasrat yang bergerak secara mekanis menampakkan dirinya melalui koalisi politik, bagaikan pelangi menghiasi kehidupan kita. Rebutlah dunia ini dengan rayuan politik! Jika tidak, masih ada energi yang lain akan membuat Anda terbujuk rayu.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Oleh : Ermansyah R. Hindi*

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait