Penggunaan Politik Identitas di Indonesia Dinilai Kebablasan

  • Whatsapp
Penggunaan Politik Identitas di Indonesia Dinilai Kebablasan
Penggunaan Politik Identitas Di Indonesia Dinilai Kebablasan

Jakarta, Beritasatu.com – Penggunaan politik identitas yang berlabel agama di Indonesia sesungguhnya telah digunakan sejak lama. Politik identitas biasa digunakan untuk menarik kelompok masyarakat mayoritas untuk kepentingan politik.

Profesor Antropologi Budaya King Fahd University of Petroleum and Minerals, Sumanto Al Qurtuby, menjelaskan, penggunaan politik identitas sebenarnya jamak dilakukan partai politik. Namun, ketika itu tidak berlebihan seperti yang terjadi saat ini.

Muat Lebih

“Penggunaan identitas agama sudah dilakukan sejak jaman dulu. Bedanya sekarang ini, penggunaan identitas agama sudah overdosis, berlebihan dan kebablasan,” kata Sumanto Al Qurtuby dalam Forum Politik dan Kebijakan Publik: Quo Vadis Pluralisme di Indonesia: Intoleransi, Kekerasan dan Politik Identitas, di Kantor CSIS Jakarta, Jumat (19/7).

Menurut Sumanto, penggunaan politik identitas yang berlabelkan agama telah menyebabkan persoalan toleransi dan kemajemukan menjadi terganggu. Terutama di saat menjelang dan pasca pesta demokrasi seperti Pemilu.

“Persoalan toleransi dan kemajemukan masih menjadi tantangan bersama. Semuanya sebagai akibat berlebihannya penggunaan politik identitas,” ujar Sumanto.

Di Indonesia sendiri sampai dengan saat ini ada kelompok anti pluralisme yang berbasis macam-macam. Mulai dari berbasis ideologi, etnis, agama, dan lain sebagainya.

“Ada banyak kelompok yang tidak suka pluralisme, begitu juga sebaliknya. Padahal pluralisme tidak sekedar toleransi, melainkan proses pencarian pemahaman untuk menembus batas perbedaan,” ucap Sumanto Al Qurtuby.

Dijelaskan, pluralitas merupakan nama lain dari kemajemukan, keanekaragaman dan bersifat alami. Sedangkan pluralisme merupakan proses pergumulan yang bertujuan menciptakan sebuah masyarakat bersama yang dibangun atas dasar pluralitas atau kebhinnekaan.

Kedepannya, kata Sumanto, seiring dengan merebaknya sejumlah kelompok agama intoleran, militan dan konservatif dari berbagai elemen masyarakat, maka semua pihak perlu meningkatkan intensitas pertemuan dan dialog antaragama dan antarkelompok.

“Semua untuk mewujudkan, merawat, dan menjaga kemajemukan masyarakat, toleransi agama, dan perdamaian bangsa. Jika tidak, maka sulit menciptakan kondisi tersebut,” pungkas Sumanto.

Sumber: Suara Pembaruan

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait