Pelintiran Kebencian, Wirausahawan Politik, dan Ancaman bagi Demokrasi

  • Whatsapp
Pelintiran Kebencian, Wirausahawan Politik, dan Ancaman bagi Demokrasi
Pelintiran Kebencian, Wirausahawan Politik, Dan Ancaman Bagi Demokrasi

Mantapps.com – Bagaimana cara terbaik bagi kita untuk memahami fenomena maraknya intoleransi (agama) di seluruh dunia yang semakin meningkat belakangan ini? Di Myanmar terdapat kampanye propaganda anti-Islam (terutama terhadap kaum Rohingya) yang dipimpin Biksu seperti Akshin Wirantu yang mengarah pada perlakuan Genosida.

Di Hungaria dan negara belahan Eropa lainnya muncul ekspresi anti semitisme secara terbuka. Atau bahkan di negara kita sendiri, intoleransi terhadap komunitas Syiah di Madura belum selesai hingga hari ini.

Muat Lebih

Salah satu pandangan dominan untuk menjelaskan gejala ini adalah tesis Hutington tentang “benturan peradaban”. Ikatan-ikatan primordial yang berlandaskan etnisitas, kebudayaan, dan agama sudah mengandung sifat organik di dalam dirinya untuk saling bersitegang satu dengan yang lain.

Melalui buku berjudul “Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi”, Cherian George (2017) menawarkan penjelasan lain yang lebih komprehensif menilai persoalan intoleransi di berbagai negara. Dengan menganalisis kasus pelintiran kebencian di seluruh dunia, khususnya studi di tiga negara demokrasi terbesar (India, Amerika Serikat, dan Indonesia), George menyangkal dengan lantang bahwa meningkatnya persoalan intoleransi adalah sesuatu yang alamiah terjadi akibat benturan antar peradaban.

Ia menyatakan para komentator telah banyak melakukan kesalahan terkait diagnosis penafsiran atas pertengkaran agama, kebebasan bersekspresi dalam kehidupan demokratis, serta respon yang keliru atas hasutan kebencian yang melahirkan pelintiran kebencian dengan dampak yang semakin merusak sendi-sendi kehidupan demokratis itu sendiri.

Sebaliknya, George menemukan bahwa hasutan dan pelintiran kebencian terjadi bukan tiba-tiba saja, namun ada agen, wirausahawan politik atau makelar politik yang memanfaatkan emosi publik guna mengejar kekuasaan. Wirausahawan politik adalah orang-orang yang hebat dalam rangka melancarkan kehendak kemarahan publik untuk kemudian dimobilisasi yang pada gilirannya menjadi ancaman bagi kesehatan demokrasi itu sendiri.

Buku ini terbagi menjadi delapan bab. Bab pertama menyajikan gambaran umum tentang temuan utama dan alat analisis yang dipergunakan. Bab kedua memfokuskan pembahasannya tentang instrumen hukum, khususnya Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) dan Amandemen Amerika terkait menyikapi ujaran kebencian.

Pada bagian ketiga menjelaskan tiga peristiwa pelintiran kebencian yang banyak menyita perhatian publik, yakni kasus Novel “Ayat-ayat Setan’ karya Salman Rusdhie (terbit pertama tahun 1953 dalam bahasa Yunani, dan tahun 1960 dalam bahasa Inggris), video dokumenter berjudul “Innocence of Muslims” yang diunggah di unggah di YouTobe tahun 2012, serta karikatur Nabi Muhammad di Koran Jylland-Posten Denmark pada tahun 2005.

Dari penjelasan tiga kejadian tersebut, kita bisa mengetahui bahwa terdapat jedah waktu antara kemunculan suatu kasus dengan momen pelintiran kebencian itu mengalami eskalasi konflik. Misalnya kasus kartun Nabi Muhammad. Tiga bulan semenjak peluncuran kartun terjadi demonstrasi di berbagai negara muslim di dunia, namun dalam kondisi yang masih kondusif. Salah satu aktifis demonstrasi muslim dari Denmark adalah Ahmad Akkari. Kelompok ini tidak terlalu besar di Denmark pengaruhnya jika dibandingkan dengan Nasir Khader.

Untuk mendapatkan dukungan atas sikap protesnya, Akkar menghubungi kantor kedutaan negara-negara Muslim. Negara yang paling getol merespon permintaan dari Akkari adalah Mesir. Perlu diingat situasi saat kala itu pemerintahan yang ditopang militer Mubarak yang terlah berkuasa lebih dari 20 tahun sedang mendapatkan desakan menyelenggarakan Pemilu presiden dengan opsi banyak kandidat yang pertama. Menjelang pemilihan parlemen pada bulan November dan Desember sama sekali tidak bisa diprediksi oleh kubu Mubarak. Ancaman besarnya muncul dari oposan yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin.

Dengan demikian, Mubararak perlu mencitrakan dirinya dan pemerintahannya sebagai representasi nilai Islam yang paling Islami meski dibandingkan dengan oposisinya sekalipun, yakni kelompok Ikhwanul Muslimin.

Peristiwa kartun Nabi Muhammad akhirnya dipergunakan sebagai senjata ampuh dalam rangka melegitimasi kekuasaannya dengan kesan Islami dan dukungan terhadap Islam di dunia. Di pelbagai kasus lain akan dikemukakan pola yang sama, bahwa persoalan pelintiran kebencian bukan berdiri sendiri secara otomatis, namun ada kelompok atau orang yang berpengaruh menjalankan proses strategis memanfaatkan momentum tertentu demi kekuasaan dan pengaruh.

Pada bagian empat, lima dan enam masing-masing akan lebih banyak mengeksplorasi tiga negara demokrasi terbesar di dunia. India dengan mayoritas agama Hindu, Amerika dengan Kristen, sedangkan Indonesia dengan Islam. Perbedaan agama mayoritas di tiga negara tersebut menunjukkan bahwa pelintiran kebencian bukan hanya sempit terjadi di agama Islam saja, namun juga berlaku di agama lain.

Misalnya di India diceritakan bagaimana Narendra Modi memanfaatkan kampanye berbasis “Hindutva”, Hindu sebagai agama murni di India, yang akhirnya membuat partainya Bharatiya Janata Party menjadi pemenang mayoritas di Parlemen India (282 dari 543 kursi). Kemenangan itu juga mengatarkan Modi terpilih sebagai Perdana Menteri India pada tahun 2014.

Pada bagian tujuh membahas tentang media dan LSM dalam rangka menangkal pelintiran kebencian. Dan bagian terakhir menawarkan solusi berupa pluralism asertif untuk menanggulangi pelintiran kebencian yang marak terjadi di dunia.

Pelintiran Kebencian

Ada dua konsep penting yang perlu dikemukakan di sini untuk lebih memperjelas bagaimana pelintiran kebenciran itu terjadi, yakni “ujaran kebencian” dan “pelintiran kebencian”. Keduanya hampir serupa, namun ada perbedaan mendasar. George mendefinisikan hasutan kebencian sebagai “penghinaan atas identitas suatu kelompok guna menindas anggotanya serta mengurangi haknya”, (George, 2017: 4).

Contoh ini misalnya pernyataan Biksu Aksin Wirathu bahwa semua biksu harus memperlakukan muslim layaknya kotoran. Efek dari hasutan kebencian adalah sikap ekslusi terhadap kelompok minoritas rentan yang menjadi korban.

Model di atas berbeda halnya dengan kasus-kasus seperti blogger, jurnalis, film, atau tajuk reportase media pemberitaan lainnya yang kemudian mendapatkan ancaman dari kelompok yang merasa tersinggung. Jika pada model ujaran kebencian adalah sikap intoleran secara strategis untuk melukai kelompok lain, sedangkan yang kedua adalah kebalikannya yang berupa respon karena mengaku bahwa perasaannya telah dilukai. Model yang terakhir inilah yang disebut sebagai pelintiran kebencian.

Pelintiran kebencian adalah “penghinaan dan ketersinggungan yang sengaja diciptakan, dan digunakan sebagai strategi politik yang mengeksploitasi identitas kelompok guna memobilisasi pendukung dan menekan lawan” (George, 2017: 5).

Dua jenis tentang hasutan dan keterhasutan atau pelintiran kebencian ini tidak bisa selalu kita gunakan sebagai klasifikasi kategoris yang tertib. Dalam satu waktu, wirausahawan politik bisa sangat lihai memainkan keduanya secara bersamaan. Para wirausahawan politik atau agen pelintir kebencian ini sangat lihai memanfaatkan situasi dengan pelbagai teknik persuasi, dari retorika hegemonik konvensional melalui khotbah hingga menggunakan media sosial.

Agen pelintir kebencian adalah bagian dari kelompok elit, seperti pemuka politik atau tokoh agama, yang dapat memperoleh keuntungan dengan menutupi kepentingan utama mereka yakni merebut kekuasaan. Upaya penyamaran tersebut berhasil karena propaganda yang digunakan adalah hasutan berupa sentimen populisme keagamaan.

Ada konteks khusus yang perlu disertakan dalam analisis pelintiran kebencian, yakni demokrasi. Para agen pelintir kebencian memanfaatkan kebebasan demokrasi guna melancarkan hasutan dan keberhasutan mereka yang tidak pro-demokrasi.

Dan akhirnya menyisahkan problematika perdebatan super rumit tentang kebebasan (liberty) dan kesetaraan (equality) sebagai dua pilar utama demokrasi. Dari sini kehadiran instrumen hukum memang kemudian diperlukan, namun sebenarnya kurang mumpuni untuk menyelesaikan persoalan.

Jika jeratan regulasi terlalu ketat guna menghormarti perasaan mayoritas, maka yang terjadi adalah sensor atas publik yang terlalu berlebihan. Kebebasan bereskspresi para seniman akan tereduksi. Di sisi lain, jika tidak ada regulasi yang mengatur tentang pembatasan hasutan dan pelintiran kebencian, maka kehidupan demokrasi tidak memiliki batasan yang jelas dalam rangka menjaga perasaan orang lain. Bahkan George sejak awal bukunya sudah psimis instrumen hukum akan bisa menyelesaikan persoalan ini.

Berangkat dari dilema tersebut, George menyarankan perlunya pluralisme asertif. Cara ini diharapkan sebagai pengganti paradigma kita lawan mereka, atau pembatasan atas kebebasan lawan hukuman penjara jika melanggar. Pluralisme asertif adalah pandangan yang berusaha membangun “ tatanan konstitusional yang multikultural dan melindungi kesetaraan lebih unggu daripada cara-cara pengorganisasian negara bangsa yang mengistimewahkan salah satu identitas agama atau budaya di atas yang lainnya” (George, 2017: 275).

Dalam penutup bukunya, George menyatakan bahwa setiap orang memiliki lapisan identitas yang beragam, mulai dari jenis kelamin, agama, etnis, gaya hidup, dan seterusnya. Namun, agen pelintir kebencian sangat cerdik untuk memperlebar lensa yang hanya fokus pada salah satu dimensi saja sebagai identitas.

Dengan begitu para agen pelintiran kebencian akhirnya membakar emosi publik dengan menunjukkan satu identitas yang sangat sensitif untuk keperluan oportunistik mendapatkan kekuasaan.

Penulis: Dian Dwi Jayanto, mahasiswa S2 Politik dan Pemerintahan UGM.

Judul Buku: Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi

Penulis: Cherian George

Tahun Terbit: 2017

Penerbit: Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina, Jakarta

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait