Lobi Gadis Cantik Pemicu Krisis Politik • Radar Jogja

  • Whatsapp
Lobi Gadis Cantik Pemicu Krisis Politik • Radar Jogja
Lobi Gadis Cantik Pemicu Krisis Politik • Radar Jogja

KEGAGALAN Tentara Nasional Kerajaan Mataram menggebuk benteng VOC di Batavia membawa dampak serius. Khususnya bagi stabilitas politik bagi kerajaan yang beribukota di Pleret ini. Apalagi Sultan Agung Hanyakrakusuma mengambil beberapa kebijakan yang mengundang kekecewaan sejumlah elite kerajaan.

Muat Lebih

Loading...

Misalnya keputusan Sultan Agung menghukum mati beberapa perwira tinggi tentara yang dinilai gagal menembus benteng kompeni. Sultan Agung dua kali melakukan pengepungan benteng kompeni.

Pertama, pada 1628. Operasi ini antara lain melibatkan Tentara Nasional Angkatan Laut Mataram yang dipimpin Tumenggung Baureksa. Selain menjabat kepala staf angkatan laut, Baureksa juga menjadi bupati Kendal. Baureksa gugur bersama anaknya dalam misi tersebut.

Namun beberapa perwira tinggi lainnya selamat. Mereka seperti Adipati Mandurareja dan Kiai Adipati Upa Santa. Keduanya merupakan keturunan Ki Juru Mertani. Seperti diketahui Juru Mertani termasuk tokoh kharismatik Mataram.

Dia punya andil besar saat mendirikan Mataram. Juru Mertani boleh dibilang termasuk founding fathers Kerajaan Mataram bersama Ki Ageng Pemanahan, ayah Panembahan Senopati atau kakek buyut Sultan Agung.

Mandurareja dan Upa Santa harus menghadapi pengadilan atas perintah raja. Keduanya dieksekusi mati dengan cara dipenggal kepalanya. Sedangkan pengikut-pengikutnya ditusuk dengan tombak dan keris. Eksekusi dipimpin Tumenggung Sura Agul-Agul yang menjabat jaksa agung Kerajaan Mataram.

Eksekusi mati terhadap keturunan patih Mataram itu menimbulkan keresahan di kalangan rakyat. Sebab, Mandurareja dan Upa Santa merupakan cucu tokoh pejuang kemerdekaan Mataram sewaktu melawan Pajang. Protes dan demo muncul di mana-mana.  Melihat situasi  itu, juru bicara istana membuat klarifikasi.

Raja dinyatakan tidak bertanggung jawab terhadap pembunuhan dengan cara kekerasan terhadap dua perwira tinggi Mataram tersebut. Sultan Agung seolah-olah berkata yang dimaksudkan bukan membunuh Mandurareja dan Upa Santa. Tapi pengikut-pengikutnya.

Tumenggung Sura Agul-Agul harus menebus kekeliruan fatal itu. Dia bersama banyak bangsawan Mataram lainnya kemudian dihukum mati. Para bangsawan itu dijatuhi hukuman karena gagal merebut kemenangan.

Pengepungan kedua ke Batavia berlangsung 1629. Hasilnya pasukan Mataram kembali gagal. Meski demikian, Tumenggung Singaranu bernasib lebih baik. Raja tidak memberikan hukuman sebagaimana dialami Mandurareja dan Upa Santa. Padahal Singaranu adalah panglima pasukan Mataram.

Ada cerita di balik lunaknya sikap Sultan Agung. Untuk mendapatkan pengampunan, Singaranu sengaja mengirimkan istri, selir, dan anak-anaknya. Mereka secara khusus menghadap raja. Salah satu putri Singaranu dikenal cantik dan manis. Penampilan anak gadis Singaranu  itu melebihi istri-istri raja. Dia berhasil mengetuk hati Sultan Agung.  Lobi politik  Singaranu lewat anak gadisnya yang cantik berjalan cukup efektif.

Istri dan anak-anak Singaranu diizinkan pulang. Ayah mereka selamat dari hukuman. Demikian pula kedudukan Singaranu. Posisinya sebagai pepatih dalem (semacam perdana menteri) tetap dipertahankan. Nasib serupa dialami Raden Arya Wiranata yang lolos dari hukuman. Juga Kiai Adipati Singenep.

Kebijakan Sultan Agung itu mengundang kritik elite-elite kerajaan. Khususnya dari para pendukung Trah Juru Mertani. Mereka menuding raja menerapkan hukum yang tebang pilih. Hukum terbukti tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Tak pelak kondisi ini melahirkan krisis politik berkepanjangan.

Mengetahui itu, Sultan Agung secara berangsur-angsur mengurangi peran Singaranu. Tumenggung Danupaya ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt) pepatih dalem. Langkah itu tetap saja tidak menolong. Situasi Mataram terus diliputi ketegangan.(yog/fj/bersambung)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait