Komik: Politik sarungan Ma’ruf

  • Whatsapp
Komik: Politik sarungan Ma'ruf
Komik: Politik Sarungan Ma'ruf

SARUNGAN | Sudah jamak bila orang menyebut gaya busana sebagai personal statement. Bagi wakil presiden terpilih Ma’ruf Amin (76), sarung punya dua sisi. Kenyamanan diri dan sekaligus identitas sebagai ulama Nahdlatul Ulama.

Sarung bisa direntang ke wilayah politis. Maka dalam peta politik masa lalu, ada istilah “politik kaum sarungan” yang merujuk ke partai dan politikus Islam.

Muat Lebih

Rentang politis sarung terlihat saat Ma’ruf kerap bersarung dan bersongkok dalam acara resmi, yang terakhir saat dia bertandang ke Kantor Wapres Jusuf Kalla di Jakarta pekan lalu, melalui pintu depan. Pintu itu hanya boleh dilalui presiden dan wapres.

Jokowi saat berkunjung ke kawasan santri juga bersarung, bahkan sejak naik ke tangga kapal udara. Misalnya pada 2017 saat akan ke Semarang. Dalam safari menjelang dan selama Pilpres 2019, Jokowi kerap bersarung. Hal itu sebagai penghormatan kepada para tuan rumah sekaligus — dalam tafsir orang luar — menunjukkan dirinya tak berjarak dengan Islam.

Tentu sarung milik semua orang. Dan kini terasa geliat sarung santri — berupa batik, bukan tenun — kembali disukai non-santri. Salah satu pemakainya adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (56).

Bisa saja muncul spekulasi, sarung santri yang sudah lama hadir itu menjadi salah satu identitas Islam Nusantara. Melengkapi gaya busana Islami lainnya.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait