Industri Politik Indonesia

  • Whatsapp
Industri Politik Indonesia
Industri Politik Indonesia

Sajian dan manuver perpolitikan Indonesia seolah tak pernah usai, bak masa pancaroba yg terus ada, kita menerima sajian yg nyaris semua lagu lama, kalaupun mereka bilang baru, tapi kita tau semua juga stok lama. Lha wong ketua partai saja gak berani diganti.

Pertarungan kontestasi pilpres sudah usai priode ini, saking gilanya sampai MK dan Jakarta mau dibakar, dan berprilaku makar, begitu gak bisa kelar, mereka bicara rekonsiliasi, tapi intinya rekursiliasi, bahkan si pikun amin minta jatah 45%, walau kita anggap itu dagelan gila, tapi itu adalah murni isi kepala para politisi yg selalu horni ngeliat kursi, kecuali kursi roda.

Muat Lebih

Sekarang kursi ketua MPR jadi ajang rebutan, Gerindra mau sebagai jatah hasil rekonsiliasi, PKB pengen karena mereka yg merasa pantas, PAN mungkin juga nafsu, karena dgn muka tembok mereka mulai jongkok, ngemis, kalau perlu nangis agar dapat mengais. Kalau ntar sudah duduk baru mereka bersilat lidah, demi rakyat dsb yg biasa mereka lakukan mukul kawan atas nama kepentingan.

Kenapa kita sebut industri. Putaran event 5 tahunan ini begitu menggiurkan, triliunan dana berputar dari kegiatan itu, baik langsung atau tidak, KPU saja mengelola dana 34 triliun, belum lagi partai, dan caleg, diperhitungkan tidak kurang 150 triliun putaran dana disana, ada yg legal, ilegal, halal, haram, setengah haram, semua seolah menjadi biasa, tujuannya sama dapat duduk di kursi legislatif, soal kerja nanti saja, yg penting 5 thn bisa gaya. Lihat saja hasil kerja DPR 5 thn terakhir, mereka cuma mencapai 10% dari target kerja. Dan mereka fine-fine saja.

10 thn terakhir negara ini seolah cuma Jokowi dan kabinetnya yg bekerja, legislatif yg jumlahnya puluhan ribu dan 600 orang ada di Senayan, hanya jadi beban negara. Terakhir saat sidang paripurna yg datang hanya 85 orang, apa yg mau kita harap, kalau moral saja mereka tak punya.

Industri, adalah soal untung rugi, dia berlanjut dgn transaksi, didalamnya ada komisi, dan apa saja yg bisa membuat kantong saling mengisi. Jokowi ada ditengah situasi itu, ditengah usahanya menata moral anak bangsa, disana pula dia menghadapi manusia srigala berbagai rupa. Tidak bisa berharap terlalu cepat, tapi Jokowi tdk boleh jalan ditempat. Ditengah kondisi ini rakyat yg harus mengambil sikap, jangan kasi ruang bagi manusia pengkhianat, kita harus berani menyikat. Contoh didepan mata adalah gubernur Jakarta, kita harus berani membasminya walau dia orangnya JK, kalau tak benar harus dibuat bubar.

Indonesia menuju menjadi negara Industri, jangan politiknya yg diindustrilisasi.

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait