Fokus : Politik yang Indah

  • Whatsapp
Fokus : Politik yang Indah
Fokus : Politik Yang Indah

Jokowi dan Prabowo berhasil mendemonstrasikan politik yang indah di panggung demokrasi Indonesia. Pertemuan keduanya pada Sabtu 23 Juli disaksikan bukan saja oleh bangsa Indonesia tapi juga oleh bangsa lain.

Politik yang selama kampanye terkesan kotor, penuh intrik, melulu terpusat pada rebutan kekuasaan, diwarnai sebutan-sebutan binatang yang tidak mendidik, dihapuskan oleh pertemuan di stasiun MRT. Apalagi kemudian keduanya bercakap di gerbang MRT menuju Senayan untuk makan siang.

Muat Lebih

Loading...

Politik memang pada akhirnya jadi sebuah kompetisi di era moderen ini. Permulaannya, para pemikir Yunani, terutama Plato menegaskan politik itu sarana untuk melayani kepentingan publik. Oranng-orang terpilih yang tidak memikirkan kepentingannya sendiri mengemban tugas maju ke panggung kekuasaan untuk tugas mulya tersebut.

Orang-orang terpilih yang digagas Plato itu dikritik oleh muridnya sendiri, Aristoteles. Menurutnya, apakah betul-betul ada orang yang sama sekali tidak mempunyai kepentingan pribadi? Pertanyaan inilah yang kemudian melahirkan sistem demokrasi.

Seiring perkembangan zaman, pada akhirnya politik menjadi panggung perebutan kekuasaan. Sejarah telah mempertontonkan kepada kita, mulai dari ambisi para politikus di zaman Romawi sampai zaman sekarang, politik selalu memakan korban, terutama rakyat kecil. Revolusi berdarah terjadi di seluruh penjuru benua.

Indonesia tak terkecuali. Sejak berdirinya, pergantian kekuasaan beberapa kali tidak mulus, termasuk di era reformasi yaitu dengan peristiwa penggulingan Gus Dur dari kedudukannya sebagai presiden. Pasca orde baru, Indonesia betul-betul seperti laboratorium politik. Keadaan ini tetap mencemaskan meskipun di masa Soesilo Bambang Yudhoyono, pergantian kekuasaan bisa dikatakan mulus. Catatan kelamnya adalah terjadi ketegangan hubungan antara Megawati dan SBY.

Kultur politik yang tidak sehat itu khawatir berlanjut di era Jokowi saat ia terpilih jadi presiden pada 2014. Namun ternyata, hubungan antara Prabowo dan Jokowi pada kurun waktu 2014-2019 cukup mulus dan bangsa Indonesia cukup merasa lega.

Duel ulang pada 2019 ini pun tak kalah mencemaskan. Konfrontasi antara kedua pendukung, baik di lingkaran elite dua figur calon presiden maupun di akar rumput sangat panas dan meruncing. Apalagi dalam pemilihan presiden kali ini tak dapat dimungikiri ada penumpang gelap yang ingin mewujudkan agenda politiknya di luar dasar negara yang sudah disepakati. Pernyataan-pernyataan panas dari tokoh politik kedua kubu ibarat peluru di medan pertempuran. Celakanya, para pendukungnya di akar rumput, seperti tergambar pada media sosial, ikut-ikutan.

Hampir semua menduga suhu panas akan berlangsung hingga berlanjut ke 2014. Namun ahlhamdulillah, Prabowo sebagai pihak yang kalah telah menunjukkan sikap satrianya. Ikhitarnya dalam memperjuangkan haknya hingga tuntas ke MK harus kita hargai sebagai ikhtiar demokrasi. Jokowi pun sebagai pihak pemenang tidak kemudian jumawa. Akhirnya, mereka menyuguhkan politik yang indah, yang layak dicontoh oleh negara lain

Pertemuan jadi modal utama untuk masa depan perpolitikan Indonesia. Kita berharap para politikus dan rakyat Indonesia memaknai pertemuan tersebut tidak semata-mata dari emosi pribadi, tapi melihatnya dari emosi dan logika kebangsaan kita sesuai dengan sila ketiga Pancasila, yaitu persatuan Indonesia.

Dalam demokrasi kita boleh berkompetisi habis-habisan, namun tetap dalam koridor konstitusi. Hal inilah yang telah dilakukan oleh Prabowo dan Partai Gerindra. Ini menunjukkan karakter bangsa Indonesia yang siap berkompetisi namun tetap menjaga persatuan. Sebuah nilai yang belum tentu dimiliki negara lain.

Oleh Cecep Burdansyah

Wartawan Tribun Jateng

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait