Akademikus: Komunitas Hijrah Sering Jadi Sasaran Empuk Propaganda Politik

  • Whatsapp
Akademikus: Komunitas Hijrah Sering Jadi Sasaran Empuk Propaganda Politik
Akademikus: Komunitas Hijrah Sering Jadi Sasaran Empuk Propaganda Politik

Indonesiainside.id, Jakarta – Sebagai sebuah gerakan keislaman yang genuine, hijrah adalah fenomena yang harus diapresiasi. Namun, sebagai sebuah fase transisi dalam pencarian identitas keagamaan, hijrah juga membuka ruang bagi siapa pun untuk mewarnai gerakan tersebut

Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam mengungkapkam, komunitas hijrah sering kali menjadi sasaran empuk propaganda ideologi dan pemikiran.

Muat Lebih

“Dalam konteks politik, komunitas hijrah juga berpotensi menjadi penyuplai basis pemilih loyal bagi kelompok yang menggunakan identitas keagamaan,” kata Umam dalam diskusi bertajuk ‘Tren Gaya Hidup Hijrah, Peluang atau Ancaman Bagi NKRI’ di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (25/7).

Dia pun menyayangkan adanya upaya kapitalisasi politik terhadap komunitas hijrah tersebut. Padahal, keputusan seseorang untuk hijrah bukan dilandaskan pada orientasi politik.

Komunitas hijrah pun, kata dia, hendaknya menjadi lebih waspada dan kembali kepada niat awalnya untuk mencari “jalan Tuhan”. Caranya yaitu dengan mempelajari Islam secara mendalam untuk menemukan nilai-nilai filosofis yang menjadi jawaban atas pencarian spiritual yang sebelumnya dibutuhkan.

“Dengan tetap waspada dan menjaga kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi, tidak menutup kemungkinan komunitas hijrah akan menjadi trendsetter dan game changer dalam konsolidasi demokrasi Indonesia di masa mendatang,” ujarnya.

Sekretaris PP Muhammadiyah, David Krisna Alka mengatakan, tren hijrah rata-rata dilatari dan bermotif kosmopolitanisme atau urban lifestyle. Tren hijrah ini sebagai bentuk respons terhadap modernitas yang menawarkan gaya hidup yang menurut mereka tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman, di samping tidak mencerminkan budaya timur.

“Jadi, hijrah kelompok ini tidak bermotif ideologi transnasional, sehingga tidak mengancam NKRI,” ujar David.

Persoalannya, kata dia, ketika terjadi transformasi dari lifestyle ke ideologis, itu artinya ada keterlambatan negara untuk hadir mengatasi masalah tersebut. Kondisi di lapangan menunjukkan, bukan hanya yang varian lifestyle yang rentan berubah menjadi ideologis. Bahkan, kata David, yang tadinya sekuler-modern sekarang juga rentan terpapar ideologi.

“Kalau kita melihat fenomena hijrah secara generalistik dan main pukul rata, justru rentan menimbulkan antipati terhadap negara dan nilai NKRI. Kelompok hijrah yang tadinya tak ada masalah dengan NKRI, karena memang motifnya hanya lifestyle, pada akhirnya menjadi ideologis karena negara vis a vis dengan mereka,” tuturnya.

“Maka itu, perlu dilakukan riset sosio-antro-politis untk memetakan fenomena hijrah secara lebih komprehensif, akurat, dan presisi. Tujuannya, agar pendekatan dalam menghadapi masyarakat yang melakukan hijrah tepat dan terarah, tidak generalistik,” kata David lagi. (AIJ)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait