Apakah Tuhan Bisa Mengangkat Batu?

  • Whatsapp
Apakah Tuhan Bisa Mengangkat Batu?
Apakah Tuhan Bisa Mengangkat Batu?

TIMESBALI, MALANG –  SAYA pernah mendapatkan pertanyaan unik dari seorang peserta diskusi. Bisa jadi pertanyaan itu pernah kita dengar. Pertanyaannya memang sedikit nakal tetapi saya menganggapnnya dia cerdas. Sebagai pembicara tentu saya berusaha untuk menjawab semampunya dan berharap bisa memuaskan penanya.

Kejadiannya, setelah saya menyampaikan materi utama lalu moderator membuka kesempatan tanya jawab. Salah satu pertanyaannya seperti ini.

Muat Lebih

Loading...

“Pak, ini di luar tema utama. Apakah saya boleh bertanya? “tanyanya.

“Coba kemukakan, jika bisa saya jawab kalau enggak jangan kecewa ya? “jawab saya.

“Begini pak. Pak, Tuhan itu kan maha kuasa.”

“Betul”.

“Jika memang Tuhan Maha Kuasa biasakah Tuhan mengangkat batu dimana Tuhan sendiri tidak bisa mengangkatnya?”

Dia berhenti, lalu menatap saya. Saya tercenung.

“Maksudnya?”

“Maksud saya pak. Karena Tuhan Maha Kuasa berarti bisa menciptakan batu yang Tuhan sendiri tidak bisa mengangkatnya bisa kan? Tuhan kan Maha Kuasa?”, lanjutnya sambil terkekeh.

Saya lalu mikir sejenak. Kemudian saya menatap peserta diskusi satu per satu. Hening. Tatapan mata peserta kosong.

“Apakah ada yang bisa ikut menjawab  pertanyaan itu?, “tanya saya memecah keheningan.

Lama tak ada jawaban.

“Ah, kafir dia pak. Masak Tuhan tak bisa mengangkat batu yang diciptakannya, “jawab seorang mahasiswa.

“Itu pertanyaan aneh di luar konteks pak. Tidak usah dijawab”

Kebanyakan mahasiswa berpendapat bahwa pertanyaan mahasiswa soal Tuhan dan batu itu aneh. Menjadi aneh karena tidak pernah didengar pertanyaan sekonyol seperti itu. Pertanyaan yang seolah menggugat eksistensi Tuhan. Dalam masyarakat religius seperti di Indonesia ini, pertanyaan seperti tersebut  akan dianggap aneh untuk tidak dikatakan menjadi “murtad”.

Namun bagi saya, pertanyaan itu biasa saja. Khas mahasiswa. Mahasiswa memang harus kritis dan berani. Jika mahasiswa itu hanya selalu bisa menjawab “ya” ia dianggap bukan mahasiswa yang cerdas. Semua diiyakan. Mahasiswa yang berpikiran nakal kadang perlu dianggap biasa saja. Namanya juga mahasiswa.

Pertanyaan mahasiswa di atas wajib di jawab. Tentu dengan segala kelebihan dan kekurangan yang melekat pada diri mahasiswa. Tentu mahasiswa bisa tidak puas atas jawaban dosennya. Namanya juga mahasiswa yang sedang bergairah menemukan “bentuk”.

Pertanyaan mahasiswa di atas bisa saya masukkan dalam pertanyaan filsafat. Filsafat itu menggugah kemampuan berpikir seseorang. Mereka yang tertarik pada filsafat akan dipaksa terus berpikir dan belajar. Kadang menemukan permasalahan yang mungkin susah dinalar. Bahkan seseorang yang menggeluti dunia filsafat merasa tidak membutuhkan sesuatu yang absolut, misalnya soal Tuhan. Karena mengandalkan pemikiran. Sementara itu, filsafat memacu seseorang terus berpikir.

Dengan filsafat seseorang punya kemampuan menalar lebih baik. Tentu jika seseorang sedang belajar ia akan menemukan beberapa hambatan yang menolak kemapanan. Termasuk kemapanan berpikir seseorang. Namun dalam jangka panjang ia akan menemukan banyak pertimbangam dengan perkembangan keilmuwan dan pengalaman.  Ia akan bisa lebih mempertimbangkan banyak hal dan tidak terjebak dalam pemikiran hitam putih, benar salah, atau halal haram.

Kembali ke soal pertanyaan mahasiwa saya di atas. Sebenarnya pertanyaan mahasiswa saya itu sah dan tidak ada masalah. Mengapa menjadi persoalan jika dikemukakan pada masyarakat umum? Persoalannya mahasiswa itu bisa jadi berpikiran terlalu sederhana. Bisa jadi karena pemikiran rasionalnya sedang berkembang pesat dengan gairah “mencari” yang masih menggebu-gebu.

Sebenarnya, mahasiswa itu juga tidak seratus persen benar. Substansi pertanyaan menjadi tidak tepat karena dia menyamakan antara Tuhan dengan batu.  Tuhan dan batu dipahami dalam satu dimensi ruang dan waktu. Logika fisik pada batu disamakan dengan saat dia menyamakan Tuhan. Sementara dimensi Tuhan jelas berbeda yang belum tentu bisa dilacak dan dicapai oleh pemikiran manusia yang terbatas.

Jika kita sering memakai dimensi manusia dengan menyamakan dimensi lain dari Tuhan, bisa jadi kita akan memahami Tuhan seperti apa yang pernah kita bayangkan. Sementara itu bayangan seseorang pada yang abstrak sangat tergantung pada pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

Tak heran jika ada yang menyebut “tangan-tangan Tuhan” dipahami bahwa Tuhan mempunyai tangan sebagaimana tangan manusia. Ini tentu sudut pandang dimensi pemikiran manusia yang masih sangat terbatas. Intinya adalah seseorang tidak bisa menyamakan pengalaman, pengetahuan yang masih terbatas untuk memahami dimensi lain dari Tuhan.

Lalau kalau sudah begini apakah Tuhan tidak ada? Dimensi Tuhan itu berbeda. Ia tidak bisa dicerna oleh hanya pemikiran rasional manusia saja. Tuhan juga bisa dipahami secara rasa dan batin.  Tentu saja rasa dan batin ini akan susah dilakukan oleh mereka yang hanya mengandalkan berpikir rasional. Sementara rasionalitas manusia sangat terbatas. Tuhan hadir tetapi kehadirannya tak bisa disamakan dengan kehadiran manusia secara  fisik sebagaimana yang selama ini dirasakannya.

Maka, pertanyaan mahasiswa di atas wajar dan tidak perlu “diadili” sebagai mahasiswa kafir atau julukan buruk lainnya. Mahasiswa itu hanya perlu disadarkan bahwa dimensi Tuhan dengan sesuatu yang fisik di dunia ini sangat berbeda.

Bisa diibaratkan dalam balapan Moto GP. Mahasiswa itu sedang dalam tahap menemukan bentuk sehingga ia meyakini untuk bisa balapan MotoGP cukup dengan sepeda motor cc 125. Mahasiswa itu merasa bisa cepat melarikan motornya. Dia perlu dimaklumi karena memang pengetahuan dan pengalamannya masih sangat terbatas. Tidak perlu dimarahi.

Tugas orang lain hanya perlu memberikan pengarahan dan memberikan penjelasan tanpa perlu mematikan pemikirannya di tengah masyarakat yang senang mengklaim paling benar atau menuduh orang selalu salah. Hanya karena seseorang  itu memakai sudut pandangnya sendiri dalam menilai orang lain. (*)

* Penulis Nurudin adalah dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolomnis di berbagai media dan sudah penulis 19 judul buku. Penulis bisa dihubungi di  twitter/IG: @nurudinwriter atau Instagram: nurudinwriter.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait