Bulu Tangkis: Tulisan Majalah Tempo Edisi Perdana Soal Minarni

  • Whatsapp
Bulu Tangkis: Tulisan Majalah Tempo Edisi Perdana Soal Minarni

Mantapps.com, Jakarta – Atlet bulut tangkis legendaris Indonesia, Minarni Soedarjanto, menjadi Google Doodle hari ini, Jumat. Pemilihan itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-75.

Semasa hidupnya, Minarni, yang meninggal dalam usia 59 tahun pada 14 Mei 2003, dianggap sebagai ratu bulu tangkis Indonesia. Ia berprestasi di nomor tunggal dan ganda putri.

Ia merupakan pebulu tangkis Indonesia pertama yang mencapai partai final All-England nomor tunggal putri pada 1968. Saat itu ia dikalahkan wakil Swedia Eva Twedberg kala itu 6-11, 2-11.

Namun di nomor ganda putri tahun yang sama, iayang berpasangan dengan Retno Koestijah berhasil menjadi juara. Capaian luar biasa Minarni adalah saat menyapu bersih tiga medali emas Asian Games 1962 di Jakarta, dalam tiga nomor yang bisa ia ikuti, yakni tunggal putri, ganda putri dan beregu putri.

Minarni juga jadi juara Kejuaraan Bulutangkis Asia 1962. Pada Asian Games 1966 di Bangkok, Thailand, ia meraih emas ganda putri berpasangan dengan Retno.
Google Doodle 10 Mei 2019 yang dihiasi ilustrasi legenda bulutangkis putri Indonesia, Minarni Soedarjanto. (google.com)

Minarni juga menjadi bagian dari tim Indonesia yang menjuarai Piala Uber 1975 di Jakarta. Kala itu ia turun di nomor ganda berpasangan dengan Regina Masli dan di partai final Indonesia menjadi juara usai mengalahkan Jepang 5-2.
Majalah Tempo edisi perdana yang terbit pada 12 Januari. Atlet ini bahkan menjadi cover dengan tulisan berjudul “Tragedi Minarni dan Kongres PBSI.”

Majalah Tempo menulis tragedi yang terjadi pada Minarni pada Asian Games 1970 dikaitkan dengan Kongres PBSI. Laporan itu masih menggunakan ejaan lama.

Dalam pesta olahraga Asia itu, Minarni mendapat perunggu. Tulisan itu mengungkap temuan yang melatari cedera serius yang dialami Minarni di partai terakhirnya.

Inilah kutipan dari laporan tersebut:

ADA satu hal jang tidak ada dalam laporan tentang tragedi Minarni. Apa itu! Bunji “kraak” ketika ia terpeleset di Stadion Kittikachorn, Bangkok.

Bagi mereka jang berada sedikit djauh dari pemain single puteri Indonesia untuk Asian Games keenam itu, djatuhnja Minarni didepan net badminton pastilah diduga sebagai biasa. Sebagian suporter Indonesia, djutru masih bertepuk ketika ia mulai merintih dan menoleh pada Sumarsono dan Willy Budiman, pengasuh-pengasuh PBSI.

Dan lebih dari 3.000 penonton mendadak terdiam, ketika dalam rintihannja ia mengulurkan tangan memohon pertolongan. Beberapa wartawan foto mulai menjerbu lapangan dimana Minarni dihadapkan dengan Hiroe Yuki, djuara All England 1969.

Dan kelapangan itu pula masuklah Sumarsono, Willy dan masseur Sutrisno. Dengan sigap ketiganja segera membaringkannja dan mentjoba menolong kakinja jang diduga tjidera ringan.

Ratusan wartawan mengabadikan peristiwa itu sementara ratusan suporter Minarni mulai meneteskan air mata. Dutabesar Dharsono jang sengadja pindah dari tempat duduknja mendekati lapangan tak bisa berbuat lain ketjuali dengan penuh tjemas memusatkan perhatiannja pada anak bangsanja jang telentang lemas diban badminton.

Yuki berusaha untuk tidak terpengaruh dengan peristiwa jang berlangsung didepan matanja itu. Ia berdjalan berputar-putar lapangan sementara para managernja berusaha mendesak ofisial Badminton Asian Games untuk meneruskan pertandingan.

Tjuatja di Bangkok menundjukkan 27,5 deradjat Celcius, sementara hawa jang setengah deradjat lebih tinggi dari itu mengurung Kittikachorn. Sambil menjeka keringat jang deras mengalir Minarni berkata: “Sakitnja bukan main. Tapi biarlah saja tjoba menjelesaikan set ini”.

Botol. Bisalah dipastikan bahwa kedudukan Yuki sesungguhnja tidak akan dapat lebih tinggi dari ketiak Minarni, apabila tak ada bunji “kraak” jang mendesis dan kaki Minarni dalam pertandingan perseorangan itu. Dan jakin bahwa dia bisa menang, Minarnipun berdiri kembali. Dengan gerakan senam dia mcntjoba berdjongkok-djongkok.

Dibidang lain Yuki sudah pulih dari kegugupan jang dialaminja dalam set pertama maupun dalam sebagian dari set terachir. Diwadjahnja membajang seolah-olah dia telah mengantongi sedjumlah moril baru untuk bisa mengalahkan lawannja.

Ia tenang sadja ketika lebih dari 3.000 pasang tangan bersorak bagi Minarni jang melangkahkan kakinja kembali memasuki gelanggang. Wong Peng Soon, bekas djuara Malaya jang mendjadi pelatih Thailand serta beberapa ahli-ahli badminton berlarian mendekati pelatih-pelatih Indonesia dan berseru: “Please, please tell the officials not to kill her”.

Ofisial Djepang sendiri merasa iba hati pada Minarni jang dengan langkah pintjang berdjalan ketengah lapangan. “Mereka akan membunuhnja kalau memaksanja terus bermain”, katanja pada seorang pelatihnja.

Tak seorangpun dari ofisial PBSI mendengarkan saran-saran itu hingga terdjadilah kisah sambungannja. Kembali Minarni terdjatuh, bahkan kali ini sebelum raketnja bisa menjambar shuttlecock Eagle. Air mata kembali berderai ditribune dimana sedjumlah orang Indonesia sedang berdoa untuknja.

Ketika itulah tak seorangpun jang memikirkan kalah atau menang, ketjuali menanti berita bahwa tjidera Minarni bukanlah tjidera abadi. Sedjumlah pemain badminton membantu mengusungnja kekamar sementara masseur Sutrisno mengeluarkan sebotol amoniak dari tasnja. Setanpun barangkali tidak menduga bahwa botol obat jang berada ditangan Sutrisno akan mendjadi penutup tragedi Minarni jang benar-benar tragis.

Dikamar, ketika ia akan membuka tutupnja, tiba-tiba meledak dengan kerasnja. Orang semakin panik sementara. Rintih Minarnipun ikut meledak mendjadi tangisan jang mengharukan — dan hampir seluruh atlit Indonesia dikamar itu menangis bersamanja. Muljadi menjingkir kepodjok menjembunjikan matanja jang merah, sementara Nurhaena menangis disampingnja. Sutrisno tjidera matanja, mungkin kepertjikan petjahan katja botol amoniak.

Sutarjo, dari Konsulat Imigrasi Indonesia untuk Bangkok, mentjoba menenangkan anak-anak Indonesia, sementara pada sudut-sudut kedua bidji matanja berlinang air tangis!

Haluuu ……..
Tangis bagi regu badminton Indonesia untuk Asian Games sudah berderai dalam hari-hari sebelumnja. Dan kalau itu bukan menghantjurkan mental mereka setidaknja itu telah menindih semangat mereka.

Di Stadion Utama wartawan Horizon dari Manila menolak pendapat wartawan radio Hongkong bahwa mental pemain-pemain badminton Indonesia bisa hantjur karena meninggalnja Irsan. Beberapa ofisial Indonesia sendiri, djuga beberapa hari sebelum berlangsungnja peristiwa Minarni, merasa tidak perlu untuk terlalu mengumbar emosi dengan kematian pelatih itu.

Namun tak dapat dihindari perasaan anak buah Irsan sendiri jang pada suatu malam, kembali tergoda oleh sedjumlah lamunan tentang Irsan. Beberapa hari sebelum Indonesia memenangkan medali emas untuk badminton beregu, hampir seisi kamar pemain puteri menangis bersama tak menentu.

Asal mulanja begini, Rudy Hartono, jang tinggal dikamar lain, sampai larut malam tak bisa tidur sepeninggal Irsan. la djuga mendengar bahwa kegelisahan jang sama sedang menimpa pemain-pemain puteri. Penasaran malam itu ia mengangkat telepon mengebel Minarni. Dan karena hari telah larut, serta chawatir kalau-kalau ia mengganggu jang lain, jang bisa tidur, ia bitjara pelan: “Haluuu.. …..”

Minarni mendadak mendjerit ketakutan mendengar utjapan halo jang aneh dan alon itu. Teman-teman sekamarnja terbangun dan ikut berteriak untuk kemudian dalam koor menangis. Mungkin Minarni mengira, telepon itu dari Irsan datangnja.

Pengaruh psichis memang nampak pada Minarni. Lebih-lebih karena sebelumnja hubungan Minarni dengan Irsan pernah tegang. Ini memang tjerita lain jang masih erat hubungannja dengan teriakan jang terdjadi setelah ia menerima telepon.

Ramalan.
Alkisah pada suatu hari mendjelang keberangkatan Kontingen Indonesia ke Thailand, Irsan dalam pembitjaraan empat telinga dengan Retno Kustijab menjinggung soal Minarni. Ia menjarankan agar Minarni mau menarik diri dari partai single perorangan.

Retno Kustijah, kakak Sudarjanto, tjalon suami Minarni — menjampaikan pesan itu padanja. “Mengapa Irsan tidak langsung membitjarakannja pada saja?”, reaksi Minarni.

Pemain sawo matang ini sedikit kesal karena Irsan masih terus meragukan fisiknja. Hubungan mereka karena itu mendjadi tegang. Satu sama lain pantang bitjara dan pantang menjapa — hingga Irsan berpulang.

Menolak saran Irsan berarti tak ada pilihan lain bagi Minarni untuk dengan sekuat tenaga berusaha merebut medali emas sebanjak mungkin. Tekadnja memang nampak ketika ia memasuki gelanggang meski pun terbajang dibelakangnja ramalan Irsan bahwa fisiknja tak akan mampu menopang tekad jang membara itu.

Dalam kondisi fisik dan psichis itulah ia menghadapi Yuki. Pukulannja memang mantap dan tjermat sementara gerak kakinja tjukup rapi. Satu hal jang tak bisa ia tutupi: Gerakannja jang lamban. Ia tak bisa mengimbangi kelintjahan Yuki maupun kelintjahannja sendiri 7 tahun jang lalu, ketika usianja baru 20-an. Untung sadja ia mempunjai kelebihan pengalaman, terutama pada teknik permainan serta sistim kontrol jang matang.

Kisah duka Minarni jang merupakan kisah duka segenap team perorangan regu Indonesia jang baru lalu itu, kini telah usai. Orang telah melupakan lutut Minarni — karena suatu persoalan jang lebih rumit timbul pada lutut Persatuan Bulu Tangkis Se Indonesia sendiri. Kepengurusan top organisasi ini sedang dalam perombakan.

Kongres 31 Djanuari sampai 5 Pebruari bermaksud mengganti Drs. Sudirman, ketua PBSI jang menjatakan mengundurkan diri beberapa waktu sebelum berlangsungnja kongres itu. Sebagian orang menghendaki agar penggantinja diambilkan dari tokoh-tokoh diluar PBSI, sebagian jang lain menghendaki agar PBSI ditjarikan Bapak dari keluarga sendiri. Setjara tak langsung Ferry Sonneville untuk pilihan jang terachir memberikan alasan, bahwa sedikit banjak orang-orang dari keluarga PBSI sendiri mempunjai atau mengetahui soal-soal perbulutangkisan.

The Tjukong
Itu djuga tidak begitu penting baginja. Menurut Ferry jang pokok sebaiknja pengurus jang akan datang adalah pengurus jang bisa lebih memperhatikan nasalah dana dan personalia”, katanja.

PBSI barangkali merupakan organisasi jang paling lemah pendanaannja dari anak-anak KONI jang lain. Karena itu mungkin nama-nama seperti Ali Sadikin. A.M. Pasila, dirdjen Bentjana Alam serta beberapa “the tjukong” lainnja disebut-sebut sebagai tjalon tepat untuk mengganti Sudirman.

Dalam soal memilih tjukong biasanja orang Indonesia tidak salah pilih. Tapi itu tidak mendjamin, bahwa dengan demikian perhitungan diatas kertas untuk suatu pertandingan, seperti Thomas Cup jang akan datang — tidak bisa salah hitung.

Minarni telah berpulang tapi torehan prestasinya saat membawa nama Indonesia di kancah bulu tangkis tak akan dilupakan.



Source link

Pos terkait