Masa Penahanan Bos Rohde and Schwarz Diperpanjang

  • Whatsapp
Masa Penahanan Bos Rohde and Schwarz Diperpanjang

Jakarta: Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan Managing Director PT Rohde and Schwarz Indonesia, Erwin Sya’af Arief. Tersangka kasus dugaan suap proyek pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla) itu kembali mendekam di jeruji besi 40 hari ke depan.

Muat Lebih

“Tersangka EA (Erwin Sya’af Arief) sedang di proses penyidikan kami perpanjang penahanannya selama 40 hari,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 15 Mei 2019.

Perpanjangan penahanan Erwin terhitung sejak 16 Mei sampai dengan 24 Juni 2019. Perpanjangan penahanan demi kepentingan penyidikan.

Kasus yang menjerat Erwin ini merupakan pengembangan dari kasus yang lebih dulu menjerat Dirut PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah, Deputi Bidang Informasi, Hukum dan Kerja Sama Bakamla, Eko Susilo Hadi dan mantan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Fayakhun Andriadi yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Erwin diduga membantu Fahmi untuk memberikan suap kepada Fayakhun terkait proses pembahasan dan pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Bakamla dalam APBN Perubahan tahun 2016. Jumlah uang suap yang diterima Fayakhun dari Fahmi, yakni sebesar USD911.480 atau sekitar Rp12 miliar dalam empat tahap pemberian melalui rekening di Singapura dan Guangzhou, Tiongkok.

© Juven Martua Sitompul
Perpanjangan  Bos Rohde and Schwarz  terhitung sejak 16 Mei sampai dengan 24 Juni 2019. Perpanjangan penahanan demi kepentingan penyidikan.
Erwin diduga bertindak sebagai perantara Fahmi dan Fayakhun. Dia diduga mengirimkan rekening yang digunakan untuk menerima suap dan mengirim bukti transfer dari Fahmi ke Fayakhun.

Uang suap ini diberikan kepada Fayakhun sebagai fee atas penambahan anggaran untuk Bakamla pada APBN-P 2016 sebesar Rp1,5 triliun. Fayakhun berperan mengawal agar pengusulan APBN-P Bakamla disetujui DPR.

Erwin berkepentingan dalam suap kepada Fayakhun ini karena PT Rohde and Schwarz merupakan supplier Bakamla dalam pengadaan satelit monitoring. Dengan menetapkan Erwin sebagai tersangka, KPK sejauh ini telah menjerat tujuh orang sebagai tersangka.

Enam orang lainnya telah divonis bersalah. Eko Susilo Hadi dihukum 4 tahun 3 bulan pidana penjara dan denda Rp200 juta, Fahmi Darmawansyah dihukum 2 tahun 8 bulan pidana penjara dan denda Rp150 juta, Kabiro Perencanaan dan Organisasi Bakamla Nofel Hasan dihukum 4 tahun pidana penjara dan denda Rp200 juta.

Dua anak buah Fahmi, yakni M Adami Okta dan Hardy Stefanus dihukum masing-masing 1 tahun 6 bulan pidana penjara dan denda Rp100 juta. Sementara Fayakhun dihukum 8 tahun pidana penjara dan denda Rp1 miliar serta hak politiknya dicabut selama 5 tahun setelah menjalani masa hukuman pokok.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait