Mantan Dirut Pertamina Divonis Ringan, Kejagung Banding

  • Whatsapp
logo Radar Tegal
Mantan Dirut Pertamina Divonis Ringan, Kejagung Banding

JAKARTA – Perlawanan mantan Dirut Pertamina Galaila Karen Kardinah alias Karen Agustiawan untuk banding atas vonisnya akhirnya dijawab Kejaksaan Agung (Kejagung). Lembaga tertinggi korps Adhyaksa itu ikut mengajukan banding atas vonis 8 tahun penjara.

Muat Lebih

Banding itu dilakukan setelah kejaksaan menimbang putusan Karen. Sebelumnya, Karen divonis bersalah dalam kasus korupsi Blok Basker Manta Gummy (BMG) oleh Mejelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (10/6) lalu.

Majelis hakim yang diketuai Emilia Djajadijatuhi menjatuhinya hukuman 8 tahun penjara dan denda Rp1 miliar. Karen bergeming dan melakukan banding atas putusan tersebut.

Kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum) Kejagung Mukri mengatakan, pertimbangan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta karena tidak sepakat dengan pasal yang ditetapkan majelis.

Dalam putusannya majelis hakim menyatakan Karen terbukti bersalah melanggar pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Namun sebaliknya, kata Mukri, berdasarkan fakta dalam persidangan, jaksa tetap berkeyakinan Karen terbukti melanggar pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 dengan Undang-Undang yang sama tentang Pemberantasan Korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Alasan lain, JPU menyatakan banding karena Karen yang dihukum lebih ringan dari tuntutan JPU yaitu 15 tahun penjara. “Majelis hakim tidak dibebani untuk membayar uang pengganti sebesar Rp284 miliar subsider lima tahun penjara seperti yang dituntut JPU,” katanya di Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (13/6).

Karenanya, untuk menghindari perdebatan di kemudian hari terkait kesempatan mengajukan kasasi maka tim JPU melakukan langkah upaya hukum banding.

Terpisah, Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan langkah upaya banding yang diambil jaksa penuntut umum sudah tepat. “Banding sudah tepat, karena hukumannya masuk dalam katagori ringan, bayangkan tuntutan jaksa 15 tahun,” katanya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, vonis ringan membuat pemberantasan korupsi menjadi lebih sulit. Pasalnya pelaku dan calon pelaku korupsi berfikir akan dihukum atau divonis ringan nantinya.” (Vonis Karen-red) Tak bisa menjadi pelajaran atau shock terapy (bagi koruptor), harus banding biar naik vonis hukumannya,” tandasnya.

Diketahui, dalam putusan yang diwarnai dissenting opinion salah satu anggota majelis hakim, Karen dinyatakan secara bersama-sama terbukti korupsi dalam kasus investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia 2009 lalu.

Perbuatan Karen, ungkap majelis hakim, dilakukan bersama-sama mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Frederick ST Siahaan, mantan Manager Merger dan Akusisi PT Pertamina Bayu Kristanto dan Legal Consul and Compliance Genades Panjaitan.

Adapun perbuatan Karen yaitu memutuskan untuk investasi participationg interest di Blok BMG Australia tanpa adanya due dilligence dan analisa risiko yang ditindaklanjuti penandatangan Sale Purchase Agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan bagian legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina.

Akibatnya, tutur majelis hakim, negara telah dirugikan sebesar Rp568,066 miliar dan sebaliknya perbuatan Karen dan kawan-kawan memperkaya orang lain yaitu ROC Oil Company (ROC) Limited Australia sebagai pengelola dari Blok BMG.

Namun majelis hakim di dalam putusannya tidak membebani Karen untuk membayar uang pengganti dengan alasan mantan Dirut Pertamina tersebut tidak terbukti menerima uang terkait investasi tersebut.

Atas putusan tersebut Karen yang dinyatakan terbukti korupsi dengan cara menyalahgunakan kewenangan atau melanggar pasal 3 Undang-Undang tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP merasa keberatan dan langsung banding.

Sementara salah satu anggota majelis hakim beranggota lima orang, yaitu Anwar melakukan dissenting opinion dengan menyatakan Karen tidak terbukti bersalah melakukan korupsi.

Dalam kasus ini dua mantan anak buah Karen lebih dahulu dihukum. Keduanya yaitu Bayu Kristanto Manager Merger dan Akuisisi PT Pertamina 2008-2010 dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Ferederick ST Siahaan.

Keduanya seperti juga Karen dijatuhi hukuman masing-masing delapan tahun dan denda Rp1 miliar subsider empat bulan kurungan. (lan/fin/tgr)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait