Empat Koruptor Kakap yang Masih Bebas Harus Ditangkap

  • Whatsapp
logo Radar Tegal
Empat Koruptor Kakap Yang Masih Bebas Harus Ditangkap

JAKARTA – Pernyataan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mendapat sorotan dari Indonesia Police Watch (IPW). Novel menyebut pihaknya (KPK) dituding radikal karena menangkap para koruptor tanpa kompromi.

Muat Lebih

Ketua Presidium IPW Neta S Pane menegaskan harusnya eks anggota Polri itu tak perlu sesumbar dengan pernyataannya. Terlebih menyebut tanpa kompromi menangkap para koruptor. “Coba buktikan ucapannya. Empat koruptor kakap masih berkeliaran bebas dan KPK tak berani menangkapnya meski telah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Neta dalam siaran persnya, Minggu (23/6).

Keempat koruptor kakap itu, kata Neta, adalah RJ Lino, Emirsyah Satar, Syamsul Nursalim, dan Itjih Nursalim. Menurut Pane, semua orang tahu KPK dan Novel hingga kini tidak mampu menangkap empat koruptor kakap tersebut yang sudah bertahun-tahun ditetapkan tersangka.

“Sampai saat ini keempatnya dibiarkan bebas oleh KPK tanpa kejelasan, padahal sudah ditetapkan tersangka bertahun-tahun. Kalau memang tidak kompromi dengan koruptor sehingga rela dituding radikal perlu ada pembuktian, yakni dengan menangkap empat koruptor kakap ini,” tegas Neta.

Jika keempat koruptor kakap ini belum dapat ditangkap, Neta berharap, Novel dan KPK tidak sesumbar dengan ucapannya. Sebab ucapan itu hanya sekadar pencitraan. “Ya, kalau dia (Novel) dan tim KPK tak bisa membuktikan pemberantasan korupsi memang tidak tebang pilih. Jangan terlalu sesumbar dan pencitraan saja,” ujar Neta.

“Dan saya kira kasus RJ Lino, Emirsyah Satar, Syamsul Nursalim, dan Itjih Nursalim ini bakal menjadi beban “utang” bagi para komisioner KPK yang segera mengakhiri masa kerjanya jika tidak segera dituntaskan,” tambahnya.

Sebagai informasi, pada 18 Desember 2015, Dirut PT Pelindo II RJ Lino ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi pengadaan Quay Container Crane di Pelindo II tahun anggaran 2010. KPK mengatakan, sudah menemukan dua alat bukti yang cukup untuk meningkatkan status penyelidikan perkara itu ke penyidikan dan menetapkan RJL sebagai tersangka.

Namun demikian, hingga kini keberadaan RJ Lino tidak jelas dan kasusnya pun juga tidak ada kejelasan untuk dapat diselesaikan. Lalu, 9 Januari 2017 lalu, mantan Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar ditetapkan sebagai Tersangka pengadaan pesawat, dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Emirsyah diduga menerima suap dalam bentuk transfer uang dan aset yang nilainya, diduga lebih dari USD 4 juta atau setara dengan Rp52 miliar. Lagi-lagi, hingga kini keberadaan Emirsyah dan kasusnya di KPK juga tak jelas.

Kemudian, Syamsul Nursalim dan Itjih Nursalim pemilik Grup Gajah Tunggal yang juga sudah dijadikan tersangka dalam kasus BLBI senilai Rp4,58 triliun pun tak dapat diselesaikan dan KPK tak juga berani untuk menangkap dan menyita aset mereka.

Padahal sebelumnya, Wakil Ketua KPK Laode M. Syarief mengatakan, pihaknya telah menetapkan Sjamsul dan Itjih sebagai tersangka, dan akan menyita sejumlah aset keduanya agar dikembalikan ke negara. Nyatanya, hingga kini tak juga dilakukan oleh institusi anti-rusuah tersebut.

Sebelumnya, penyidik KPK Novel Baswedan angkat bicara terkait isu radikalisme di lembaga tempatnya bekerja. Dia pun menyatakan tidak masalah dirinya disebut radikal, jika menangkap koruptor mendapat julukan tersebut.

“Kalau persepsinya adalah ternyata menangkap koruptor dan tidak kompromi dengan koruptor, saya ikhlas disebut radikal,” kata Novel di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/6) lalu.

Dia juga mempertanyakan cap radikal yang disematkan kepadanya. Novel heran penampilannya yang berjenggot dan terkadang bercelana cingkrang dicap seperti itu. Menurut dia, orang berpaham bahwa penampilan seperti itu radikal, kurang berwawasan.

“Justru ketika seseorang mempunyai jenggot seperti saya kadang menggunakan celana yang sedikit sesuai dengan sunah rasul, terus dipermasalahkan?” kata Novel bertanya.

Novel pun tak ambil pusing soal isu radikal itu. Dia menilai tak penting apapun cap yang menempel pada dirinya selama bekerja dengan baik dan menjaga marwah antikorupsi. “Saya bukan sedang menjadi caleg atau apapun yang perlu pencitraan. Jadi enggak penting buat saya,” kata dia. (mhf/zul/gw/fin)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait