Cerita Warga Setu Babakan soal Tradisi Mandi Merang yang Lenyap

  • Whatsapp
Cerita Warga Setu Babakan soal Tradisi Mandi Merang yang Lenyap
Cerita Warga Setu Babakan Soal Tradisi Mandi Merang Yang Lenyap

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Anak-anak kecil bermain air di Setu Babakan, Jakarta Selatan, Jumat (17/5/2019). Mantapps.com/Vitorio Mantalean

JAKARTA, Mantapps.com – Momen datangnya Ramadhan pernah dirasakan begitu guyub oleh Naalih (60), seorang warga Setu Babakan, Jakarta Selatan ketika ia masih belia. Sayangnya, modernisasi dan urbanisasi yang rakus melahap Ibu Kota, lambat tapi pasti juga mencaplok suasana guyub itu.

Muat Lebih

Loading...

Naalih terkenang masa kecilnya ketika Kompas.com menanyainya soal kebiasaan warga Betawi menyambut bulan Ramadhan. Satu yang paling lekat di memorinya ialah kenangan mandi merang yang selalu dilakukan beramai-ramai bersama tetangga-tetangganya.

“Zaman dulu saya masih kecil ada itu. Saya ngalamin. Waktu itu, enggak aci kalau enggak pakai merang. Zaman saya masih ngalamin,” kenang Naalih ketika ditemui di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jumat (17/5/2019).

Merang merupakan batang tanaman padi. Merang bakal tersesah dari bulir-bulir padi setelah ditumbuk menggunakan ani-ani. Nantinya, merang-merang yang terkumpul bakal dibakar hingga hangus menghitam, kemudian menjelma bahan pembersih rambut semacam sampo yang saat ini dikenal luas.

“Padi itu merangnya dibakar, arangnya lalu dibuat keramas. Itu merang. Batangnya. Nanti, rambut kita ada wangi-wangi alamnya,” tambah Naalih.

Kenangan serupa juga belum kunjung lekang dari ingatan Noor Agung (58), juga seorang warga Setu Babakan. Dia ingat betul, saat merayakan mandi merang, semua orang keluar dari rumah lantas menceburkan diri bersama-sama di kali yang mengalir dari Setu Babakan.

 
Bukan hanya kalangan dewasa, anak-anak juga memancing di Setu Babakan, Jumat (17/5/2019). Mantapps.com/Vitorio Mantalean© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Bukan hanya kalangan dewasa, anak-anak juga memancing di Setu Babakan, Jumat (17/5/2019). Mantapps.com/Vitorio Mantalean
Sebagai bocah belia yang naluri jahilnya menggebu-gebu, momen itu senantiasa jadi ajang coret-coretan wajah bersama kawan-kawan sebaya.

“Kita semua rendeman di kali, gosok-gosokin merang ke kepala kayak sampo zaman sekarang. Nah itu kan merangnya hitam, katanya juga bisa bikin rambut jadi lebih cakep karena jadi lebih hitam, teorinya sejenis pewarna alami gitu. Itu telapak tangan hitam juga, ya, namanya bocah kita pasti uber-uberan di kali, cemong-cemongan,” kenang Noor yang diwawancarai terpisah sore itu.

“Itu zaman itu, saya masih ngalamin, itu kali bening, kita berendam bareng sama ikan kelihatan dari atas air. Itu zaman Setu Babakan masih belum dibendung kayak sekarang,” imbuhnya.

Sawah berganti beton

Seiring berjalannya waktu, lahan sawah di Ibu Kota kian terdesak oleh pembangunan. Sawah-sawah dipatok, diuruk, berganti beton. Jumlah penduduk Jakarta yang makin gendut tentu berimplikasi pada makin banyaknya konversi lahan persawahan untuk pemukiman, jalan, dan berbagai fasilitas lain.

“Nyari padinya juga mau di mana kalau sekarang? Enggak usah sekarang, dulu setelah tahun 1975 di sini mana ada lagi sawah? Dulu, ini sekitar sini semua sawah. Ngabuburit kami enggak kayak anak sekarang, kami main ke sawah nyari belut,” ucap Noor, masih terkenang masa kecilnya.

“Saya lahir 1959, itu tahun 1972 masih ada lah sawah-sawah. Saya ingat-ingat kayaknya itu terakhir mandi merang saya umur 12 kali. Jadi, ya makin ke sini lahan makin abis. Sawah dan padi sudah enggak ada. Ya begitu dah, Jakarta,” Naalih mengenang.

Naalih beranggapan jika tradisi mandi merang merupakan contoh sempurna soal ketentuan agama yang bergandengan dengan keadaan sosial budaya. Di kesempatan terpisah, Noor menyetujui anggapan Naalih.

Meski begitu, mereka berdua sepakat jika tradisi mandi jelang Ramadhan bukan berarti lenyap sepenuhnya. Sebab, kalimat tersebut mengandung makna bahwa ketentuan agama yang mereka maksud juga turut raib seiring punahnya tradisi mandi merang di daerahnya.

Soalnya, bagi mereka, yang lenyap hanyalah merang dan – yang paling mereka rindukan – suasana guyub yang meliputi ritual tersebut.

“Di Jakarta Selatan sudah enggak ada lah, enggak cuma di Setu (Babakan). Tapi, budaya mandinya ya tetap enggak hilang dong. Yang enggak ada tinggal merangnya, ganti jadi sampo. Mandi mah mandi saja sendiri-sendiri di kamar mandi rumah. Kan enggak bisa lagi di kali juga, udah tercemar kena limbah,” kata Naalih.

“Intinya, umat Islam itu disunahkan untuk mandi, bersuci diri jelang Ramadhan. Cuma, dulu sampo memang masih susah, jadi pakai merang, karena kebetulan di sini kita biasa bebersih rambut pakai merang, karena banyak sawah, banyak padi,” lanjutnya.

Noor malah berseloroh.

“Ya, coba, zaman sekarang sudah ada sampo, lu keramas pakai merang ya diketawain anak-bini!”

Penulis: Vitorio Mantalean

Editor: Dian Maharani

Copyright Kompas.com

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait