Alasan Polda Metro Jaya Tak Menghadiri Praperadilan Kivlan

  • Whatsapp
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. MI/Susanto.
Alasan Polda Metro Jaya Tak Menghadiri Praperadilan Kivlan

Jakarta: Perwakilan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya tak menghadiri sidang praperadilan tersangka dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada Senin, 8 Juli 2019. Pihak termohon mengaku belum memiliki jawaban.

“Enggak hadir karena sedang mempersiapkan jawaban,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada Medcom.id di Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.

Muat Lebih

Loading...

Hakim Ahmad Guntur menundang sidang praperadilan itu. Majelis hakim akan memanggil ulang perwakilan Polda Metro Jaya sebagSidang lanjutan dilakukan pada Senin, 22 Juli 2019. Argo memastikan perwakilan Polda Metro Jaya hadir dalam sidang tersebut.

“Nanti kuasa hukum Polda yang hadir,” ujar Argo.

Sebelumnya, kuasa hukum Kivlan Zen, Tonin Tachta, sempat cekcok dengan hakim Guntur. Tonin tak setuju sidang ditunda sampai 22 Juli karena berdekatan dengan berakhirnya masa penahanan Kivlan pada 27 Juli 2019.Hakim Guntur menegaskan jadwal sudah ditetapkan.

Pihak pemohon tak bisa menegosiasi ulang jadwal sidang tersebut.Mantan Kelapa Staf Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayjen (Purn) itu ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata api ilegal pada Rabu, 29 Mei 2019. Kivlan awalnya ditahan di Rumah Tahanan (rutan) POM DAM Jaya Guntur, Jakarta Selatan, selama 20 hari.

Penahanan Kivlan diperpanjang selama 40 hari sejak Kamis, 19 Juni. Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya menetapkan Kivlan sebagai tersangka kepemilikan senjata api ilegal usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka dugaan makar di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pada Rabu, 29 Mei 2019.

Penangkapan Kivlan disebutkan berdasarkan pengembangan dari enam tersangka kepemilikan senjata api ilegal yang sebelumnya ditangkap. Enam orang tersangka, yakni IK alias HK, AZ, IR, TJ, AD, dan AF.

Enam orang tersangka ini diduga menunggangi demonstrasi penolak hasil pemilihan umum (pemilu) di Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada 21-22 Mei. Dari kelompok tersebut, kepolisian menyita empat senjata api ilegal.

(DRI)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI
Loading...

Pos terkait