Tren Belanja Fashion di ITC Bergeser ke “Food and Beverage”

  • Whatsapp
Tren Belanja Fashion di ITC Bergeser ke "Food and Beverage"
Tren Belanja Fashion Di Itc Bergeser Ke "food And Beverage"

JAKARTA, Mantapps.com – International Trade Center ( ITC) mungkin menjadi tujuan utama masyarakat yang ingin berbelanja baju, terutama jelang hari raya keagamaan seperti Natal dan Lebaran. Tak heran tenant-tenant fashion bertebaran di hampir seluruh pelosok ITC.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren kebutuhan belanja pakaian ini bergeser. Justru, yang belakangan mendominasi aktivitas bisnis di ITC yakni tenant makanan dan minuman (food and beverage).

Muat Lebih

Loading...

“Kami sudah memprediksi bahwa tren belanja orang akan lebih banyak lifestyle. Orang kini mengurangi goods, tapi memperbanyak experience. Salah satunya food and beverage,” ujar Kepala Divisi ITC Christine Natasha Tanjungan kepada Kompas.com, Kamis (4/7/2019).

Melihat potensi yang besar untuk bisnis mamin, sejak dua tahun lalu ITC merenovasi area foodcourt lebih luas dan nyaman bagi pengunjung. Tak hanya di satu ITC, tapi seluruh ITC yang dikelola sekitar 10 unit.

Pihak yang mengajukan permintaan sebagai tenant saat ini juga kebanyakan dari sektor mamin. Bahkan, yang segmennya di atas level ITC seperti Sour Sally, Gokana Group, hingga kudapan asal Korea.

Christine mengatakan, seiring berkembangnya waktu, ada beberapa tenant yang mulanya menjual produk fashion yang beralih mencicipi bisnis makanan. Khususnya jenis restoran Grab and Go yang melayani pesanan untuk dibawa pulang seperti lewat jasa ojek online.

Di ITC Mangga Dua, kata Christine, ada toko yang sebelumnya menjual pakaian bayi berubah menjadi kafe. Barista kafe tersebut merupakan anak kandung dari pemilik toko.

Christine menganggap, pemilik toko nampaknya mampu menangkap peluang di tengah tingginya minat masyarakat terhadap kafe-kafe baru. Ternyata, kafe tersebut laris manis.

“Banyak Go-Jek dan Grab yang antre karena di sekitar ITC kan pusat bisnis, jadi banyak orang kantoran yang pesan,” kata Christine.

Hal yang sama terjadi di ITC Kuningan, di mana pedagang yang semula menjual baju, juga membuka toko kopi. Toko pakaian dan toko kopinya bersisian. Tak disangka, peminatnya membludak hingga memadati jalanan dan menutupi akses ke toko di sebelahnya. Akhirnya, pedagang tersebut memfokuskan tokonya hanya menjual kopi, yang diberi merk Kopi Soe.

Christine mengatakan, sebagai pengelola, pihaknya menaruh perhatian penuh pada perkembangan properti mereka. Terutama perubahan tren belanja yang terjadi di ITC.

“Jadi kami sebagai pengelola pusat perbelanjaan yang harus adaptif terhadap perubahan,” kata Christine.

Selain bisnis makanan dan minuman, ritel lain yang juga berkembang di ITC yakni toko pernak pernik dan aksesoris. ITC Kuningan atau Mal Ambasador menjadi pusat perbelanjaan pertama yang dimasuki Mr DIY, ritel yang menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga.

Selain itu, saat ini pihak pengelola sedang menjajaki dengan perusahaan pernak pernik asal China dan Jepang untuk membuka toko di ITC. Maraknya ritel houseware dan pernak pernik tersebut membuat ITC optimis bahwa mereka masih memiliki daya tarik terhadap peritel dan pengunjung yang berbelanja.

“Saat saya bertemu pemilik Mr DIY, saya tanya kenapa pilih ITC. DIa bilang mereka sudah survei, yang paling stabil bisnisnya, pengunjungnya banyak, ITC ini jadi cocok dengan segmen market mereka yang lebih mengejar ke volume,” kata Christine.

Bahkan, ritel asal Malaysia itu terus membuka toko di sejumlah ITC lainnya di Jakarta.

“Ini kan indikator bahwa mereka happy dengan terus menambah kios. Dengan keberhasilan pernak pernik begitu, kami sekarang banyak calon partner tenant yang ke arah pernak pernik juga,” lanjut dia.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait