Seuniecah Oen Kayee dan Seuniecah Boh Meuria Kian Langka

  • Whatsapp
Seuniecah Oen Kayee dan Seuniecah Boh Meuria Kian Langka
Seuniecah Oen Kayee Dan Seuniecah Boh Meuria Kian Langka

SEUNICAH merupakan salah satu kuliner khas Aceh. Seunicah, ada juga yang menyebutnya niecah, niencah, atau seulincah merupakan jenis kuliner yang terbuat dari aneka buah-buahan, rempah, sayuran, dan dedaunan. Biasanya seunicah banyak diproduksi pada di bulan Ramadhan.

Di Nagan Raya, mungkin juga di beberapa wilayah pesisir barat Aceh, kita sering mendengar nama seunicah oen kayee (daun kayu) dan seunicah boh meuria (buah rumbia). Penganan dan minuman tersebut telah menjadi kuliner khas Nagan Raya dan beberapa daerah pesisir barat Aceh.

Muat Lebih

Loading...

Seunicah oen kayee terbuat dari aneka dedaunan dan rempah asli yang mudah dicari di kebun atau halaman rumah seperti daun tapak liman, daun kunyit, daun kedondong, daun jeruk purut, daun jeruk nipis, daun jambu, dan lain sebagainya. Lalu ditambah dengan batang serai dan cabai rawit. Rasanya lebih gurih lagi jika dicampur dengan kelapa gongseng. Cara meraciknya pun tidak terlalu rumit. Aneka dedaunan dan rampah tersebut digulung dan dirajang bersama. Setelah itu dibungkus dengan daun pisang yang telah dilayu dengan api. Seunicah oen kayee bisa dimakan sebagai penganan atau bisa juga dimakan dengan nasi.

Makanan dengan komposisi campuran aneka dedaunan dan rempah asli ini selain untuk kebutuhan buka puasa di rumah, ada juga yang meraciknya dalam jumlah banyak untuk dijual di pasar. Biasanya para penjual merajangnya langsung di pasar. Harganya juga tidak tergolong mahal. Sebungkus biasa dijual Rp 5.000. Warga sangat meminati seunicah ini karena rasanya sangat gurih. Seunicah oen kayee bukanlah sekadar penganan, tetapi juga mempunyai khasiat untuk kesehatan.

Penganan yang terbuat dari aneka rempah ini diyakini bisa mengeluarkan racun (toksik) dan membuang angin jenuh dari tubuh. Hal tersebut karena sebagian jenis dedaunan juga dipakai sebagai bahan dalam meracik obat herbal.

Ada cerita menggelitik tentang seunicah oen kayee ini. Dulu sewaktu kecil, saat berbuka puasa nenek selalu menyediakan seunicah oen kayee di meja makan kami. Menurut beliau, penganan ini harus dimakan walau sedikit saat awal berbuka. Artinya, seunicah ini duluan dimakan walau hanya sesuap sebelum menyentuh makanan yang lain.

Kata nenek, seunicah yang dimakan tersebut akan menjadi saksi seseorang berpuasa atau tidak saat di alam kubur nanti atau hari kiamat kelak. Seketika kami tergelak mendengar ungkapan yang bagi kami tak lebih dari guyonan ini. Dalam hati saya bertanya, bagaimana nasib muslim non-Aceh di alam kubur kelak yang tidak pernah makan seunicah, juga muslim Arab di Timur Tengah yang jangankan memakannya, mendengarnya pun tidak? Walau demikian, petuah nenek tersebut tetap saya hargai karena mungkin begitulah caranya menanamkan kepada kami para cucunya rasa cinta akan seunicah. Jangan sampai generasi di bawahnya tak lagi mengapresiasi seunicah.

Satu lagi seunicah yang menjadi menu berbuka khas puasa adalah seunicah boh meuria (buah rumbia). Jika seunicah oen kayee berbentuk makanan, maka seunicah boh mueriah dibuat dalam bentuk minuman. Seperti halnya seunicah oen kayee, niecah boh meuria juga hanya tersedia pada saat Ramadhan. Bedanya lagi seunicah oen kayee dijajakan di pasar dan pinggir jalan, sedangkan seunicah boh meuria diibuat sendiri di rumah alias tidak dijajakan. Memang sering air seunicah dijajakan di pasar dan pinggir jalan Kota Banda Aceh. Namun, seunicah yang dibuat atau dijajakan di Banda Aceh dan daerah di Aceh pada umumnya berbeda dengan seunicah boh meuria khas Nagan Raya. Jika seunicah Aceh pada umumnya kaya akan racikan buah-buahan dan rempah, seunicah boh meuria komposisinya sangatlah sederhana. Hanya terdiri atas irisan buah rumbia, pisang, cabai rawit, seunicah boh meuria mampu menawarkan cita rasa yang khas. Apalagi bila ditambahkan sedikit gula pasir dan es batu, tentu akan menambah kesegaran saat dinikmati.

Cara meraciknya pun sangat mudah. Irisan buah rumbia (yang telah dibuang bijinya), pisang, dan cabai rawit diulek sebentar dengan cobek. Ingat, jangan sampai hancur saat diulek. Harus ada sisa-sisa irisan. Itulah kenapa tidak boleh menggunakan blender supaya adonan tidak benar-benar halus. Seunicah juga bukan sekadar minuman penghilang dahaga saat berbuka, tetapi juga berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Seperti air bandrek, seunicah juga berkhasiat untuk membuang angin jenuh dari dalam tubuh.

Dulu sewaktu kecil saat Ramadhan, saya sering melihat warga mencari buah rumbia di pinggir sungai atau rawa, lalu sebagian buah rumbia diperam (dipeujreuk), sebagian lagi dimakan mentah dan dibuat seunicah. Namun pascatsunami melanda Aceh tahun 2004 silam, sampir semua pohon rumbia tak lagi berbuah. Hal tersebut membuat minat warga untuk membuat seunicah menjadi berkurang karena tak adanya bahan baku utama. Meski ada bahan lainnya seperti pisang dan cabai namun cita rasa minuman andalan di bulan puasa tersebut menjadi hambar tanpa ada buah rumbia.

Pada Ramadhan 1440 Hijriah yang barusan berlaku saya tidak melihat lagi minuman itu disediakan sebagai menu berbuka puasa. Sudah digantikan dengan es teler, es dawet, es buah, sop buah, dan aneka sirop. Nasib seunicah boh meuria lebih buruk dari nasib niecah oen kayee. Niecah oen kayee masih terlihat dijajakan di pusat Kota Jeuram dan Simpang Peuet Nagan Raya, walau tidak banyak. Penjajanya pun dari kalangan nenek-nenek. Saya membayangkan jika para nenek itu telah tiada, penganan khas Nagan Raya itu juga ikut punah untuk selama-lamanya. Apalagi generasi muda dan remaja sekarang jangankan mencicipi gurihnya seunicah, melihatnya pun tidak pernah. Lebih miris lagi ada juga sebagian anak-anak sekarang yang tak pernah mendengar nama seunicah. Sungguh inilah sangat saya sayangkan.

Kehadiran ayam penyet, nasi uduk, ayam Kentucky yang tersedia di rumah makan cepat saji belakangan ini telah menggerus kuliner lokal. Pantauan saya, saat menjelang berbuka, rumah makan cepat saji dipenuhi warga, baik kalangan dewasa maupun remaja saban hari pada Ramadhan yang lalu. Apalagi sekarang sedang tren tradisi buka puasa bersama di rumah makan baik antarkomunitas, keluarga besar, kawan sekelas, maupun kawan sekantor. Itu pun harus di-

booking jauh-jauh hari supaya tersedia tempat. Inilah kesempatan pemilik rumah makan untuk meraup untung sebesar-besarnya.

Saya tidak mempermasalahkan kehadiran rumah makan dengan kuliner barunya, tetapi kita juga harus melestarikan dan mempromosikan kuliner khas daerah sebagai warisan leluhur. Tentu saja ini butuh kerja sama yang baik antara pegiat kuliner daerah, pemerintah, dan masyarakat Aceh, khususnya di Nagan Raya.
Kita berharap, dengan kepedulian dan kerja sama yang baik ini kuliner khas daerah seperti seunicah oen kayee dan seunicah boh meuria masuk daftar kuliner khas dan bercita rasa Nusantara. Amin.

HENDRA KASMI, Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh. melaporkan dari Suka Makmue, Nagan Raya

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait