Saat Jadi Turis, Manusia Produksi Lebih Banyak Sampah

  • Whatsapp
Saat Jadi Turis, Manusia Produksi Lebih Banyak Sampah
Saat Jadi Turis, Manusia Produksi Lebih Banyak Sampah

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Alana Sastra, gadis kecil pengunjung pantai Botubarani turut membersihkan sampah yang mengapung di permukaan laut. Mantapps.com/Elfiyen Biahimo

JAKARTA, Mantapps.com – Pernahkah menghitung pemakaian plastik sendiri saat berwisata? Menurut Kasubdit Restorasi Pesisir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Sapta Putra, ternyata saat berwisata orang lebih banyak memproduksi sampah ketimbang saat tidak berwisata.

Muat Lebih

Loading...

“Setiap manusia di Indonesia menghasilkan sampah rata-rata 0,7 kilogram setiap hari. Ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah,” jelas Sapta saat acara peluncuran gerakan #SayonaraKantongPlastik dari H.I.S Travel Indonesia bekerja sama dengan Lawson Indonesia dan Club Med di Gandaria City Mal, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Rata-rata turis, menurut Sapta, menghasilkan sampah 1,1 kilogram per hari saat berwisata. Hal ini menurut Sapta menjadi permasalah tersendiri, terlebih target wisatawan di Indonesia setiap tahun semakin naik. Pada 2019 target wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia adalah 20 juta orang.

Belum lagi pemilahan dan pengolahan sampah di Indonesia belum maksimal seperti di negara-negara maju seperti Jepang. Alhasil Sapta mengatakan banyak sampah tak terkecuali sampah plastik berakhir ke sungai dan berujung ke laut.

Hal ini memengaruhi kesehatan biota laut, tidak hanya hewan laut tetapi juga terumbu karang, lamun, sampai pohon bakau.

“Akhirnya rusak keindahan bawah laut Indonesia, ada yang jadi viral karena banyak sampah, ada wisatawan yang membatalkan kunjungan ke Indonesia,” jelas Sapta.

Sampah akhirnya juga berpengaruh pada kesehatan masyarakat, karena sampah plastik markro akan tercacah di laut dan menjadi plastik nano. Dimakan ikan kecil, kemudian ikan kecil dimakan ikan besar, dan ikan besar dimakan manusia.

Sapta mengajak masyarakat untuk tidak hanya membatasi penggunaan plastik, tetapi juga melarang penggunaan plastik. Bukan hanya saat berwisata melainkan juga pada aktivitas sehari-hari.

“Jangan jadikan laut keranjang sampah. Ayo biarkan lautnya sehat, ikannya sehat, sehingga pariwisata bisa dipasarkan,” jelas Sapta.

Penulis: Silvita Agmasari

Editor: Sri Anindiati Nursastri

Copyright Kompas.com

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait