Pemudik Keluhkan Maraknya Bus Kelebihan Muatan dan Travel Gelap – Cendana News

  • Whatsapp
Pemudik Keluhkan Maraknya Bus Kelebihan Muatan dan Travel Gelap – Cendana News
Pemudik Keluhkan Maraknya Bus Kelebihan Muatan Dan Travel Gelap – Cendana News

LAMPUNG — Memasuki satu hari sebelum lebaran (H-1) Idul Fitri, sejumlah pemudik masih harus berhadapan dengan tidak nyamannya angkutan di pelabuhan Bakauheni, Lampung. Selain faktor keamanan di kapal lintas Merak-Bakauheni dengan resiko kehilangan barang, pemudik masih dihadapkan pada kendaraan yang kurang nyaman.

Rama Windiansah salah satunya, pemudik asal Bekasi, Jawa Barat tersebut mengaku kehilangan tas dan baju baru di dalamnya. Kehilangan barang terjadi saat ia turun dari kapal. Sebelum mendapatkan transportasi travel ia sempat hendak naik bus, namun bus yang tersedia selalu penuh saat akan berangkat.
Ia bahkan memastikan bus yang diberangkatkan ke terminal Rajabasa selalu dalam kondisi muatan penuh. Beberapa penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk sebagian terpaksa harus berdiri.
Rama akhirnya mencari travel atau angkutan antar jemput dalam provinsi (AJDP). Meski demikian malang dialami oleh dirinya karena ternyata travel yang akan dinaikinya merupakan travel tidak resmi. Travel tidak resmi atau kerap disebut travel gelap memaksa dirinya bersama kakak dan sang ibu untuk naik. Meski demikian saat ditawarkan ongkos berbeda ia menolak karena semula ditawarkan Rp50.000 saat akan berangkat ia diminta membayar Rp80.000.
“Saya memilih untuk kembali mencari kendaraan lain namun justru tas berisi baju baru senilai jutaan rupiah raib. Kemungkinan besar terbawa travel karena saya ditarik saat akan naik kendaraan,” ungkap Rama Windiansah saat ditemui Cendana News, Selasa (4/6/2019).
Rama menyebut ia sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak keamanan pelabuhan. Meski demikian saat dilakukan pengecekan ke bagian pengawasan dengan circuit closed television (cctv) tidak berhasil ditemukan barang hilang miliknya. Meski dengan perasaan kecewa ia menyebut tetap akan mudik ke kampung halamannya. Kehilangan barang baginya menjadi pengalaman tidak mengenakkan saat mudik 1440 H /2019 melalui pelabuhan Bakauheni.
Senada dengan Rama, pemudik lain bernama Supriyanto warga Purbolinggo Lampung Timur harus rela kehilangan dompet sang istri. Dompet dengan isi ATM, uang tunai Rp1juta dalam pecahan Rp10.000 raib di atas kapal. Meski sudah melapor ke pihak ASDP Bakauheni ia menyebut terpaksa ikhlas kehilangan barang. Ia bahkan mengurungkan niat untuk memberikan uang baru bagi keponakan di kampung.

Muat Lebih

Pemudik lain bernama Husna bahkan harus memilih ikut berdiri bersama penumpang lain di bus. Bus trayek Bakauheni-Rajabasa diakuinya ditetapkan dengan tarif Rp35.000 meski ia tidak kebagian tempat duduk. Ia bahkan harus berdesakan dengan penumpang lain dan baru mendapatkan tempat duduk saat ada penumpang turun di Jalinsum Kecamatan Katibung.
Penyediaan bus yang selalu penuh saat arus mudik disebut Husna bahkan telah disediakan bus cadangan. Namun banyaknya penumpang pejalan kaki saat arus mudik membuat penumpang harus rela berdesakan. Sebagian pemudik yang memilih travel terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Meski tertulis tarif ditetapkan Rp50.000 namun faktanya sebagian pengemudi travel mematok tarif lebih dari Rp60.000 saat arus mudik.

Ivan Rizal (kiri) Ketua DPC Khusus Organda Bakauheni dan Bambang Sumbogo (tengah) Sekretaris Dinas Perhubungan Provinsi Lampung. Foto: Henk Widi

Kelebihan muatan penumpang bus dibantah Sekretaris Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo. Ia menegaskan bus yang disiapkan tersedia namun karena penumpang kerap ingin tiba lebih cepat memilih berdiri. Sejumlah kendaraan angkutan lebaran  juga sudah menjalani uji laik kendaraan atau ramcheck. Ia bahkan mengaku akan memberi tindakan tegas bagi Perusahaan Otobus (PO) yang melanggar ketentuan keselamatan.
Terkait travel gelap, Bambang Sumbogo mengaku bukan wewenang Dishub. Sebab pihaknya hanya memberikan pelayanan angkutan bagi pemudik sesuai dengan PO dan travel terdaftar. Keberaraan travel diakuinya menjadi wewenang Organda dan ASDP selaku pengelola pelabuhan. Ia juga berjanji akan menurunkan tim untuk melakukan razia pada angkutan lebaran yang menetapkan tarif di luar batas kewajaran.
“Kami akan sidak dan menerjunkan tim jika ada yang melanggar maka akan diberi sanksi ringan hingga berat pada PO dan travel,” terang Bambang.
Ketidaknyamanan pemudik di pelabuhan Bakauheni telah diantisipasi salah satunya Organda. Ivan Rizal, ketua DPC Gapasdap Bakauheni mengaku sudah menyiapkan 100 bus, 200 travel dan sejumlah angkutan pedesaan. Bagi pemudik di dermaga eksekutif bahkan disediakan sebanyak 6 bus eksekutif tujuan terminal Rajabasa via tol Sumatera.
Ia menyebut keberadaan bus yang cukup telah mengantisipasi terjadinya lonjakan penumpang saat mudik. Meski demikian pemudik yang akan pulang sebagian menuju ke sejumlah wilayah. Selain di Lampung Tengah, Bandarlampung sebagian melintas melalui Jalan Lintas Timur. Kebutuhan akan kendaraan tersebut membuat munculnya travel gelap yang meski sudah diberi peringatan kerap memanfaatkan peluang.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait