Mencicipi Salah Satu Pangsit Mi di Makassar yang Halal

  • Whatsapp
Mencicipi Salah Satu Pangsit Mi di Makassar yang Halal
Mencicipi Salah Satu Pangsit Mi Di Makassar Yang Halal

Sebagian besar penduduk di kota Makassar merupakan penganut agama Muslim, maka tak sulit untuk menemukan hidangan halal di kota ini.

Namun pernah kah anda penasaran dengan referensi kuliner yang menurut orang lain rasanya sangat nikmat tapi seketika timbul keraguan di benak kita, “apakah bahan-bahan yang terdapat di dalamnya halal dan boleh untuk kita konsumsi?”

Muat Lebih

Loading...

Salah satu hidangan non-halal yang cukup banyak membuat warga Makassar penasaran adalah Pangsit Mie Ujung Pandang yang merupakan kuliner hasil akulturasi antara budaya Makassar dan Tionghoa.

Secara orisinal, resep Pangsit Mie Ujung Pandang ini memang menggunakan pork alias daging babi mulai dari isian daging hingga kuahnya. Bagi warga Makassar yang muslim tentunya tidak dapat menikmati jenis kuliner tersebut. Cukup ironis ketika kita belum mencicipi salah satu kuliner khas kota kita sendiri.

Setelah ditelusuri dengan baik, nyatanya terdapat satu rumah makan yang menyediakan hidangan Pangsit Mie Ujung Pandang tanpa adanya unsur pork sedikit pun. Bahkan menurut si pemilik rumah makan, menu Pangsit Mie yang ia sajikan merupakan satu-satunya yang halal di kota Makassar.

Rumah makan ini bernama Pangsit Mie Sulawesi, berlokasi di sudut antara Jalan Sulawesi dan Jalan Lembeh kota Makassar. Bisa dibilang area tersebut merupakan kawasan pecinaan terbesar di kota Makassar.

Awalnya tempat tersebut merupakan warung kopi yang bernama Warkop Fat Heng, berdiri sejak tahun 50-an. Pada tahun 1978, si pemilik warung kopi mulai menjajakan hidangan Pangsit Mie Ujung Pandang non-halal dan merubah nama tempatnya menjadi Pangsit Mie Sulawesi (Warkop Fat Heng). Setelah pemilik pertama wafat, selanjutnya bisnis tersebut diwarisi oleh Darmin (72) yang merupakan pemilik generasi kedua.

Karena banyaknya pelanggan setia Warkop Fat Heng meminta agar sang pemilik menjual Pangsit Mie Ujung Pandang yang dapat dinikmati oleh siapa saja, maka sejak 15 tahun yang lalu beliau mulai menghilangkan unsur daging babi pada setiap menu yang ia jajakan.

Perubahan konsep ini tentunya menimbulkan efek yang besar terhadap Pangsit Mie Sulawesi. Menurut Yanto (44) anak dari Darmin, setelah melakukan modifikasi resep, rumah makannya dahulu menjadi sepi pengunjung.

Sebab, para peminat Pangsit Mie Ujung Pandang non-halal banyak yang beralih ke pedagang yang lain. Bahkan bagi keluarganya, tak mudah untuk memperkenalkan Pangsit Mie Ujung Pandang dengan konsep halal pada masa itu. Namun berkat ketekunan dan kesabaran, kini label halal Pangsit Mie Sulawesi sudah cukup banyak dikenal oleh warga kota Makassar.

Ukuran porsi Pangsit Mie Sulawesi ada beragam, mulai dari yang berukuran kecil, besar, hingga porsi jumbo. Tekstur mie di sini kenyal dan lembut, sangat terasa bahwa mie yang digunakan memang mie pilihan yang merupakan hasil buatan sendiri.

Di atas mie yang disajikan terdapat empat jenis isian. Yang paling menarik perhatian saya adalah kombinasi antara ayam kukus putih dan Char Siu panggang. Tak usah khawatir, Char Siu panggang di sini bukan terbuat dari pork, melainkan dari daging ayam.

Kedua isian tersebut merupakan pemeran utama dalam memperkaya rasa dari Pangsit Mie Sulawesi ini, memberikan sensasi rasa manis dan gurih yang khas ketika menyantapnya. Sebagai pelengkap, seporsi Pangsit Mie Sulawesi ini sudah termasuk pangsit rebus dan pangsit goreng.

Saya tertarik untuk memesan kembali tambahan pangsit goreng di sini, sebab rasanya memang cukup spesial. Teksturnya sangat garing, terasa seperti mengunyah rice crackers. Ketika dicocolkan ke sambal lombok kuning khas Makassar, rasa pedasnya bikin mulut ingin terus mengunyah.

Tidak lupa juga dengan kuah kaldunya yang disajikan secara terpisah. Kaldu yang disajikan berasal dari rebusan tulang ayam. Warnanya bening, rasanya pun segar sebab bahan bumbu yang digunakan sangat sederhana.

Di rumah makan yang sekaligus berfungsi sebagai warung kopi ini tentunya menyediakan bermacam-macam menu minuman. Perhatian saya tertuju kepada tulisan Kopi Beruang yang terdapat dalam daftar menu hingga saya pun tertarik untuk memesannya. Bubuk kopi yang digunakan yakni jenis Robusta yang berasal dari Tana Toraja, dimasak dengan menggunakan teko kopitiam.

Selanjutnya, kopi kental tersebut dicampur dengan susu Bear Brand, warga Makassar biasa menyebutnya dengan ‘Susu Beruang’. Rasanya mengejutkan, itu merupakan pertama kalinya saya meminum kopi yang dicampur dengan Susu Bear Brand. Pada tegukan pertama, saya merasakan sensasi gurih dari susu bercampur dengan wanginya aroma kopi Toraja, terasa sangat nikmat meski tanpa gula sedikit pun.

Mungkin berikutnya saya akan ke tempat ini lagi untuk memesan segelas Kopi Susu Beruang khas Warkop Fat Heng ini.

Meski image Pangsit Mie Ujung Pandang hingga saat ini tidak jauh-jauh dari label non-halal, namun serangkaian menu di Pangsit Mie Sulawesi (Warkop Fat Heng) ini berhasil mengobati rasa penasaran banyak warga di kota Makassar. Bahkan saat ini rumah makan tersebut juga mengusung konsep open kitchen di mana pelanggan dapat menyaksikan sendiri dapurnya untuk menjaga kepercayaan konsumen.

“Menu-menu di rumah makan kami dijamin halal, mulai dari bahan-bahan yang kami gunakan sampai tempat penyembelihan ayamnya juga kami perhatikan,” ujar Yanto (44), calon penerus generasi ketiga dari bisnis keluarga tersebut.

Jadi, bagi warga kota Makassar yang belum pernah mencicipi Pangsit Mie Ujung Pandang, jangan ragu untuk mengunjungi Pangsit Mie Sulawesi (Warkop Fat Heng) ini, Insyaallah nikmat dan halal.

Pangsit Mie Sulawesi

📍 : Jl. Sulawesi No.192, Melayu Baru, Kec. Wajo, Kota Makassar

💰 : Pangsit Mie Besar 40K, Kopi Beruang 22K, Pangsit Goreng 5 pcs 12K

⏰ : 06:30 – 17:00

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait