Membaca Lagi, Sejarah dari Nikmatnya Gudeg Yogyakarta

  • Whatsapp
Membaca Lagi, Sejarah dari Nikmatnya Gudeg Yogyakarta
Membaca Lagi, Sejarah Dari Nikmatnya Gudeg Yogyakarta

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Gudeg, makanan khas Yogyakarta. https://pesona.travel

Selain terkenal sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta dikenal sebagai Kota Gudeg, makanan khas yang selalu menjadi primadona.

Muat Lebih

Ada yang kurang saat menjelajahi Kota Gudeg tanpa merasakan olahan gori atau nangka muda, gudeg.

Gudeg menjadi kuliner khas Yogyakarta yang wajib diburu banyak wisatawan. Cita rasa gudeg cenderung manis, karena penggunaan gula Jawa dalam campuran bumbunya.

Dalam penyajiannya, gudeng biasa diserasikan dengan lauk pendamping, mulai dari tahu dan tempe bacem, ayam atau telur opor, hingga krecek. Terakhir, siraman kuah areh dari santan kental berbumbu menjadi pelengkap nikmatnya seporsi gudeg.

Sejarah Gudeg

Di balik nikmatnya kuliner tersebut, ada sejarah panjang yang membersamai lahirnya gudeg.

Kabarnya gudeg sebelum menjadi ikon kuliner di Yogyakarta, sudah ada sejak abad ke-15. Ketika itu Kerajaan Mataram Islam sedang dalam tahap pengembangan di alas Mentaok yang masih berupa hutan belantara.

Ratusan prajurit diturunkan untuk membuka lahan dengan menebang pohon-pohon di kawasan tersebut. Kebanyakan pohon yang ditebang adalah pohon kelapa dan pohon nangka.

Para prajurit lalu mencoba mengolah nangka untuk menjadi santapan yang nikmat. Lantas,  dipilihlah nangka muda. Olahan nangka muda tersebut dimasak dalam wadah besar. Pengaduk yang digunakan pun bentuknya besar dan panjang menyerupai dayung perahu.

Proses tersebut kemudian dinamakan ‘hangudek’. Inilah yang menjadi cikal bakal munculnya nama ‘gudeg’ pada olahan nangka muda khas Yogyakarta ini.  

Olahan gudeg yang mula-mula muncul di masyarakat Yogyakarta adalah gudeg basah. Pada gudeg basah, menggunakan kuah areh yang cukup banyak dan lebih encer. Untuk cita rasanya manis dengan sentuhan gurih dan pedas.

Namun, dalam perkembangannya, sekitar tahun 1950, olahan gudeg kering pun mulai bermunculan. Hal ini karena banyaknya minat mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta untuk menjadikan gudeg sebagai oleh-oleh saat pulang ke kampung halaman.

Cita rasa gudeg kering lebih manis dibandingkan gudeg basah. Berbeda dengan gudeg basah, olahan gudeg kering tak banyak menggunakan kuah areh. Inilah yang menjadikannya lebih tahan lama, sehingga disukai banyak wisatawan sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta.

Di Yogyakarta, warung makan yang menyediakan gudeg mudah sekali ditemui. Mulai dari berkonsep kaki lima sampai rumah makan besar. Jam bukanya pun bervariasi. Salah satu yang menjadi sentral gudeg di Yogyakarta ialah daerah Wijilan.

Jadi, jangan sampai melewatkannya saat di sana.

Editor: Sri Noviyanti

Copyright Kompas.com

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait