Liburan ke Australia, Waspadai 4 Hewan Darat yang Berbahaya Ini

  • Whatsapp
Liburan ke Australia, Waspadai 4 Hewan Darat yang Berbahaya Ini

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Laba-laba Jaring Corong Sydney (Sydney funnel web). Shutterstock
Mantapps.com – Australia merupakan destinasi wisata favorit sebagian masyarakat Indonesia. Jarak yang tidak terlalu jauh menjadi salah satu faktor penatik wisatawan Tanah Air ke Negeri Kanguru itu.

Muat Lebih

Loading...

Australia juga menawarkan beragam atraksi wisata, mulai dari keajaiban alam hingga kecanggihan kota-kotanya. Namun di balik semua itu, Australia merupakan rumah bagi aneka satwa yang berbahaya.

Jika hendak liburan ke Australia, maka inilah 4 hewan darat berbahaya yang harus diwaspadai:

1. Kasuari

Kasuari tentu tidak begitu asing bagi masyarakat Indonesia. Namun, burung setinggi 1,5 hingga dua meter yang tidak bisa terbang ini merupakan salah satu hewan berbahaya karena sifatnya sangat teritorial.

Burung kasuari. MIRROR / GETTY IMAGES© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Burung kasuari. MIRROR / GETTY IMAGES
Kebanyakan serangan, baik itu dicakar, dipatuk, atau ditabrak disebabkan oleh keinginan orang-orang untuk memberi makan burung ini. Cakar tengah kasuari sepanjang sekitar 12 centimeter seolah belati mematikan yang bisa menyebabkan luka serius.

Oleh karena itu, ada lebih baik jika tidak mendekati burung ini demi keselamatan. Meski berbahaya, kasuari merupakan burung yang pemalu dan lebih memilih untuk menghindari konfrontasi dengan manusia.

2. Laba-laba jaring corong Sydney

Benua Australia juga merupakan rumah dari banyak laba-laba. Beberapa di antaranya memang hanya tampak berbahaya. Namun, ada satu jenis yang memang berbahaya, yakni laba-laba jaring corong Sydney (Sydney funnel web).

Laba-laba Jaring Corong Sydney (Sydney funnel web). Shutterstock© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Laba-laba Jaring Corong Sydney (Sydney funnel web). Shutterstock

Laba-laba itu memiliki panjang satu hingga lima centimeter dan merupakan salah satu yang paling beracun bagi manusia. Bahkan gigitan laba-laba ini bisa dibilang sama dengan gigitan ular.

Meski berbahaya, setidaknya sekarang suda tersedia antiracun bagi orang yang digigit laba-laba ini. Sejak ditemukannya antiracun pada tahun 1981, tidak ada lagi laporan korban jiwa karena gigitan laba-laba ini.

3. Ular cokelat timur

Ular juga merupakan satwa yang banyak mendiami Benua Australia. Sama seperti laba-laba, ada banyak jenis ular. Beberapa jenis ular ada yang tidak berbahaya, ada pula yang berbahaya bagi manusia.

Ular Cokelat Timur (Eastern brown snake). Shutterstock© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Ular Cokelat Timur (Eastern brown snake). Shutterstock

Dari sekitar 140 spesies ular darat, jenis ular cokelat timur merupakan salah satu yang paling berbahaya. Ular ini bertanggung jawab atas laporan kematian banyak orang di mana racunnya menyebabkan kelumpuhan dan gangguan pembekuan darah.

Namun, antiracun ular ini sekarang telah tersedia di pusat-pusat kesehatan Australia. Selain itu meski berbahaya, rata-rata kematian karena ular hanya dua per tahun. Sebagian besar kasus itu disebabkan oleh upaya membunuh ular, alih-alih memanggil petugas.

4. Buaya air asin

Buaya memang menghabiskan kebanyakan waktunya di air. Namun, buaya bisa naik dan menyerang orang yang ada di darat. Satu jenis buaya yang paling berbahaya adalah buaya air asin. Satwa ini dikenal cukup agresif.

Buaya Amerika Dilihat dari Atas. Shutterstock© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Buaya Amerika Dilihat dari Atas. Shutterstock

Sebagai salah satu reptil terbesar dunia saat ini, berat buata air asin bisa mencapai lebih dari 1.000 kilogra dengan panjang hingga tujuh meter. Satwa ini beberapa kali pernah memangsa babi dan ternak liar seperti sapi dan kuda.

Laporan kematian karena serangan satwa ini sangatlah rendah. Hal itu karena buaya air asin biasanya tinggal di kawasan yang jauh dari peradaban sehingga jarang berkontak dengan manusia.

Penulis: Anggara Wikan Prasetya

Editor: Sri Anindiati Nursastri

Sumber: theculturetrip.com

Copyright Kompas.com

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait