Kumandangkan hospitality, Monkey Boots sukses jadi pamungkas FCB Keerom

  • Whatsapp
Kumandangkan hospitality, Monkey Boots sukses jadi pamungkas FCB Keerom
Kumandangkan Hospitality, Monkey Boots Sukses Jadi Pamungkas Fcb Keerom


KEEROM – Sensasi terbaik hadir di Festival Crossborder (FCB) Keerom Papua. Diplot sebagai pamungkas, band ska kebanggaan ibukota Monkey Boots berhasil menggetarkan tapal batas di tanah Papua itu.

Deretan lagu-lagu terbaik seperti Big Monkey, Sederhana sukses membuai penonton, Minggu (23/6).

“Keerom luar biasa. Alamnya keren. Budayanya apalagi. Masyarakatnya pun luar biasa. Ini bukti Kemenpar begitu memperhatikan pariwisata di seluruh Indonesia,” ujar Vokalis Monkey Boots Edwin Jenggo.

Bukan sekedar menghibur, para personil Monkey Boots mengajak masyarakat Keerom untuk berperan aktif dalam pariwisata. Karena jelas tanpa peran aktif masyarakat pariwisata di perbatasan tidak akan berjalan dengan baik.

“Yang paling simple itu hadapi wisatawan dengan senyuman. Kalau kita ramah, wisatawan pasti betah. Imbasnya tentu semakin banyak wisatawan yang datang ke Keerom. Biasanya disebut dengan Hospitality,” kata Edwin.

Bukan saja Monkey Boots, berbagai persembahan budaya pun tak luput dihadirkan. Parade tarian tradisional dari mulai adat Papua hingga Jawa seolah menjadi sebuah gambaran kekayaan budaya di Keerom.

Menurut Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani, Kemenpar akan terus menyajikan acara yang menarik di perbatasan. Hal ini guna semakin menghidupkan sektor pariwisata di perbatasan Indonesia seperti halnya Keerom.

“Festival crossborder selalu penting, terutama untuk menaikan jumlah kunjungan wisman. Kalau jumlah kunjungan wisman naik, maka perekonomian masyarakat akan tumbuh melalui beragam transaksi. Untuk itu, kami berikan konsep hiburan terbaik,” ujar Ricky.

Lebih lanjut Ricky mengatakan, atraksi ini tentunya untuk memperkuat berbagai keunggulan pariwisata Keerom dan tentunya Tanah Papua.

Untuk itu Ricky pun mengingatkan betapa pentingnya CEO commitment untuk semakin memepercepat laju pariwisata di Keerom dan sekitarnya.

“Pariwisata itu cara cepat mengangkat perekonomian daerah. Apalagi Keerom memiliki potensi melimpah. Dukungan dari pusat pun kuat. Infrastruktur terus digenjot. Atraksinya terus didukung Kemenpar, seperti halnya Festival Crossborder yang digelar kali ini. Nah sekarang tinggal keinginan daerah untuk bersama maju lewat pariwisata,” ujar Ricky.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani pun angkat bicara. Ditemui terpisah, Rizki mengatakan, Keerom memiliki potensi wisata yang harus terus dikembangkan. Dengan itu kemudahan akses yang dimilikinya akan semakin dapat menjaring wisatawan asal Papua New Guinea (PNG).

Keerom memiliki banyak potensi wisata. Wisata alam, Keerom memiliki Danau Love yang saat ini sedang hits, ada juga Air terjun Walukubun serta Taman Wisata Waisamba. Potensi agrowisatanya juga sangat baik dengan perkebunan buah naga yang melimpah. Ini harus dimaksimalkan oleh daerah,” ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut border tourism sebagai strategi paling realistis untuk menggenjot angka kunjungan wisatawan. Dengan penyebaran Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang sangat banyak, tentunya border tourism menjadi senjata pamungkas Kemenpar mengejar target 20 juta wisman di tahun 2019.

“Sejak 2017 Kemenpar telah banyak menggelar Crossborder Events, seperti di Atambua, Belu, NTT, yang berbatasan dengan Timor Leste. Ada juga di Aruk, Sambas, Kalbar. Ada di Skow, Papua, dan tentunya Kepri, Batam, Bintan dan lainnya. Tentunya di tahun 2019 Kemenpar akan all out menggelar acara-acara festival dan music di crossborder. Sehingga dapat memaksimalkan kunjungan wisman dari border area seperti Festival Crossborder di Keerom ini,” ujar Menpar Arief Yahya.

Bagi Menteri lulusan Telematika University of Surrey itu, pariwisata itu hanya covernya saja. Karena jelas setiap potensi pergerakan orang dalam jumlah masif akan menggerakkan ekonomi. Karena, pergerakan orang sama dengan pergerakan bisnis.

“Setiap pergerakan orang akan menciptakan pergerakan ekonomi, pergerakan barang dan jasa. Bukan saja pariwisata yang bergerak tetapi juga sektor lainnya,” tutup ahli Menteri yang ahli marketing itu. (*)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait