Kuliner Gukguk Menjamur di Solo Karena Mitos

  • Whatsapp
Kuliner Gukguk Menjamur di Solo Karena Mitos
Kuliner Gukguk Menjamur Di Solo Karena Mitos

Oleh : Eko P |

Muat Lebih

Indonesiainside.id, Jakarta – Menjamurnya kuliner daging anjing di Solo membuat kota ini disebut tak ramah bagi hewan berkaki empat tersebut. Koalisi pecinta hewan Dog Meat Free Indonesia(DMFI) menyebut memelihara anjing di kota Solo juga tak lagi aman.

“Dulu masih banyak anjing yang dibiarkan pemiliknya berkeliaran. Tapi sekarang sudah tidak aman lagi. Kalau dilepaskan paling sehari saja aman, besoknya pasti sudah hilang. Bukan cuma anjing kampung, anjing ras juga mereka curi. Apa saja asal anjing,” kata Mustika, anggota DMFI seperti dilansir ABC News, Senin(24/6).

Menurut hasil investigasi LSM tersebut, pasokan anjing ke Solo berasal dari berbagai daerah. Anjing-anjing itu didatangkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur dengan rentang harga antara Rp 250.000 – Rp 300.000 per ekor.

Dari Jawa Barat antara lain dipasok dari daerah Pangandaran, Ciamis, Garut dan sekitarnya. Sementara untuk Jawa Timur berasal dari Surabaya.

“Anjing-anjing itu masuk ke Solo pagi-pagi sekitar jam 5-6 pagi. Mereka dimasukkan karung dan mulutnya diikat, diturunkan dari truk di pinggir jalan, terang-terangan. Warga bisa melihat itu semua,” jelasnya.

Jadi, sudah jadi pemandangan biasa melihat orang bawa keranjang bronjong yang kanan kirinya membawa anjing dengan kondisi mulut terikat,lanjutnya. “Karena tak ada aturan jadi tak ada yang menegur. Orang cuma menonton,” tambahnya

Menurut DMFI anjing-anjing ini tidak disembelih seperti kambing atau hewan ternak lainnya. Video DMFI menunjukan bagaimana anjing diperlakukan secara keji sebelum dibunuh di sebuah rumah jagal.

Laris Karena Mitos

Walaupun sudah ada sejak tahun 1970-an, kuliner gukguk baru dikenal dan ramai dijajakan pada 2010. Koalisi DMFI mencatat warung yang menjajakan olahan dari daging anjing ini meningkat dua kali lipat sejak 2016 lalu.

Mustika menuturkan, dulunya kuliner ini dijual secara sembunyi-sembunyi oleh penjual yang berkeliling menawarkan dagangan dari pintu ke pintu.

Dan dijajakan sebagai soto jamu dengan bermacam-macam khasiat. Mulai dari mengobati gatal-gatal sampai meningkatkan vitalitas pria. Selain juga dijadikan sebagai makanan pendamping untuk menikmati minuman arak tradisional khas Solo, Ciu.

“Mereka bilang daging anjing bagus untuk obat sakit kulit. Kalo benar begitu, kenapa hewan yang disebut penangkal kok dia sendiri bisa sakit kulit. Mereka salah makan saja bisa alergi dan sakit kulit. Jadi tak masuk akal menurut saya. Itu semua hanya mitors,” tuturnya.

Begitupun sensasi rasa hangat setelah makan daging anjing dan bisa membuat perkasa seperti yang mereka bilang,ujarnya. “Itu karena olahan daging anjing banyak dikasih bumbu,” katanya.

“Orang Solo itu kalau masak bumbunya banyak, terutama merica. Jadi kalau habis makan bisa merasa hangat. Itu dari merica, yang di Solo ini murah. Sate kambing saja atau apapun ditaburi merica,” tambahnya.

Dalam setiap aksinya, koalisi DMFI juga mengingatkan risiko ancaman kesehatan dan keselamatan di balik kuliner gukguk.

Tak Semua Anjing Disembelih Kondisi Sehat

DMFI mendapati rumah-rumah jagal anjing menjagal anjing jenis apa saja dalam kondisi apa saja. Yang penting bisa diambil dagingnya.

“Saya pernah melihat di rumah jagal itu anjing sakit saja mereka terima, saya jumpai ada pemilik yang menyerahkan anjingnya yang sakit dan dia malas mengobati karena mahal. Jadi dia bawa saja ke rumah jagal,” katanya.

“Dalam rekaman investigasi kami juga ditemukan dalam truk itu ada anjing ras pitbull kudisan kulitnya dibawa ke rumah jagal. Dan itu sangat berisiko ke manusia yang memakan dagingnya,” tambah Mustika.

Sebelumnya Koordinator DMFI Jogja, Angeline Pane, juga mengingatkan kuliner daging anjing berisiko memicu penularan penyakit rabies akibat transportasi massal anjing dari berbagai kota yang belum bebas rabies.

“Jika perdagangan daging anjing tidak dihentikan, transportasi massal anjing dari daerah yang belum bebas rabies akan masuk kembali ke daerah yang sudah bebas rabies, seperti Jawa Tengah, DIY dan Jakarta, maka daerah itu terancam akan berjangkit lagi rabies,” katanya.(EPJ)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait