Kenalkan Kuliner Surabaya ke Jepang, Anggap Petis seperti Shrimp Sauce

  • Whatsapp
Kenalkan Kuliner Surabaya ke Jepang, Anggap Petis seperti Shrimp Sauce
Kenalkan Kuliner Surabaya Ke Jepang, Anggap Petis Seperti Shrimp Sauce

BRANDING suatu daerah tidak melulu soal tempat atau benda. Kuliner juga punya daya tarik untuk menjadi ikon sebuah daerah. Salah satunya, Surabaya dengan rujak cingurnya. Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwar memperkenalkan makanan itu ke Jepang beberapa waktu lalu.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

Muat Lebih

Loading...

Bisa jadi, rujak cingur adalah karya seni kuliner paling masyhur di Surabaya. Racikan kacang, pisang klutuk, bawang goreng, dan cabai yang dihaluskan bersama petis menjadi unsur utama yang dominan di dalamnya. Sajian itu ditambah cingur sebagai ikon dan cita rasa utama. Plus, irisan buah dan sayur.

Terkenalnya rujak cingur itu tak lepas dari sejarah masa lalu. Bagian hidung dan bibir atas sapi dijadikan ikon kuliner tersebut lantaran pada zaman dulu kawasan Surabaya dan sekitarnya merupakan basis pemasok sapi. Alhasil, bahan itulah yang mudah didapat. Rasanya yang kenyal dan lembut saat digigit membuat siapa saja ketagihan.

Bukan hanya rujak cingur, menu lain seperti lontong balap juga menjadi primadona Racikan bumbu dan rasa yang ringan pada kuahnya ditambah kecambah yang crunchy menyajikan rasa segar untuk santap pagi atau siang.

Sederet makanan Surabaya itu menggunakan unsur yang sama. Petis dan lontong. Dua makanan itu pun seolah-olah menjadi kuliner identitas Kota Pahlawan.

Bahkan, lontong sudah menjadi komoditas unggulan di Surabaya. Kota ini memiliki kampung lontong. Saban hari, ribuan olahan dari bahan dasar beras itu dihasilkan.

Sederet makanan tersebut dipresentasikan di hadapan mahasiswa Jepang pada 18 Juni lalu. Tepatnya di Universitas Iwate, Morioka, Iwate, Jepang. Salah seorang dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwar memperkenalkan berbagai penganan khas tersebut sebagai sebuah identitas kota.

Saat itu Ikhsan menjadi dosen tamu di sana. Paparannya soal kuliner sebagai budaya dan identitas Surabaya menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa Jepang. ”Mereka tertarik, tapi karena tidak membawa sampel, terkadang saya sulit memberikan istilah bahasa ke mereka,” paparnya.

Salah satunya, petis yang menjadi bahan dasar penganan Surabaya. Makanan ringan seperti gorengan hingga yang mengenyangkan seperti rujak cingur dan lontong balap dilengkapi petis. ”Mereka menganggapnya seperti saus udang, shrimp sauce,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ikhsan memperkenalkan tiga jenis makanan. Selain rujak cingur dan lontong balap, ada rawon. Sup kuah hitam dengan irisan daging.

Menurut Ikhsan, tidak melulu soal bangunan, kuliner juga bisa menjadi identitas kultural kota. Surabaya punya peluang itu terlepas dari statusnya sebagai Kota Pahlawan. ”Kuliner bisa dianggap sebagai ciri khas yang dapat diterima siapa pun,” ujar Ikhsan saat ditemui di Fakultas Ilmu Budaya Unair pada Rabu (26/6).

Kuliner memang sudah mengalami banyak pergeseran. Di dunia bisnis, kuliner selalu bergerak secara dinamis dan terus-menerus. Budaya populer dan konsumtif mendorong munculnya brand makanan yang tidak ada kaitannya dengan kota tersebut, tapi menjadi bagian dari identitas itu.

Sebut saja munculnya berbagai jenis kue yang dipelopori artis ibu kota. Mereka tidak menyasar pelanggan secara nasional, tapi membidik Surabaya sebagai basis pemasaran dan produksi.

Orang-orang yang datang pun seolah-olah menganggap jajanan itu sebagai ciri khas Surabaya. ”Namun, untungnya kuliner tradisional di Surabaya masih bisa bertahan sebagai identitas Surabaya,” ulasnya.

Menurut Ikhsan, Surabaya bisa menjadi contoh yang baik. Makanan khas selalu jadi suguhan, bahkan di event besar. ”Festival Rujak Cingur merupakan bagian dari upaya mempertahankan kuliner itu,” paparnya. 

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait