Kenalkan Konsep Eco-Fashion dan Zero Waste, Prodi Pengelolaan Konvensi & Peristiwa PIB Gelar Pengabdian Masyarakat

  • Whatsapp
Kenalkan Konsep Eco-Fashion dan Zero Waste, Prodi Pengelolaan Konvensi & Peristiwa PIB Gelar Pengabdian Masyarakat
Kenalkan Konsep Eco Fashion Dan Zero Waste, Prodi Pengelolaan Konvensi & Peristiwa Pib Gelar Pengabdian Masyarakat

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM


  



Beritabali.com, Tabanan. Menjadi ramah lingkungan adalah kata kunci dalam skenario perkembangan kehidupan di abad 21. Saat ini dunia tengah berlomba-lomba untuk mengangkat isu lingkungan, mencoba untuk kembali ke alam, dan menggaungkan konsep go-green, eco-friendly, zero waste di semua aspek kehidupan, tak terkecuali di dunia fashion. Pembuat garmen atau tekstil bergeser ke arah penggunaan pewarna alami.

Muat Lebih

Loading...

Limbah dari pewarna alami ini dikembalikan ke alam dan menjadi pupuk. Pewarna alami tengah mendapatkan kembali popularitasnya di industri desain fashion, menimbulkan pertanyaan apakah zaman keemasan pewarna alami akan kembali lagi? Baik di masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan keberlanjutan produk fashion berbahan dasar alami akan menjadi produk unggulan di ranah internasional dan banyak disajikan khususnya pada pameran-pameran bertaraf intenasional.

Secara langsung maupun tidak langsung, produk kain dengan konsep eco-fashion serta zero waste menggunakan bahan pewarna alami ini berpotensi untuk menjadi daya tarik dan memberikan dampak positif terhadap perkembangan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) di Indonesia.


Hal tersebut melatarbelakangi Program Studi (Prodi) D4 Pengelolaan Konvensi & Peristiwa (PKP) Politeknik Internasional Bali (PIB) menyelenggarakan pengabdian masyarakat di Panti Asuhan Wisma Harapan Dalung, 28-30 Mei 2019 yang lalu. Dosen prodi PKP yang terlibat dalam pengabdian masyarakat ini sebanyak 3 dosen dan juga melibatkan sekitar 8 mahasiswa.Kepala Program Studi PKP, Dwi Novita Cahyaningtyas Permatasari, S.I.P, M.B.A., M.A yang sekaligus sebagai narasumber sosialisasi menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini ingin memperkenalan pewarna alami sebagai alternatif dalam dunia fashion.



“Kami ingin memperkenalan pewarna alami sebagai alternatif dalam dunia fashion yang digandrungi kaum millennial dan GenZ serta menciptakan kain dengan konsep eco-fashion dan zero waste sebagai produk unggulan dalam pameran internasional,” jelas Dwi Novita yang merupakan alumni UGM, double degree dengan Hochschule Osnabrück, University of Applied Sciences Germany.



Selain sosialisasi tentang konsep eco-fashion dan zero waste yang diikuti sekitar 50 peserta dari Panti Asuhan Wisma Harapan Dalung, dalam rangkaian pengabdian masyarakat selama tiga hari, juga dilakukan pelatihan menulis karangan deskripsi bertema “Pesona Pariwisata Indonesia” dengan menggunakan media film pada siswa Seminari Tuka Dalung. Pelatihan ini disampaikan oleh Elsita Lisnawati Guntar, S.S.,M.Pd, dosen Program Studi PKP. Sedangkan di Panti Pondok Yatama La-Royba dilaksanakan penyuluhan “Dampak Bahaya Sampah Pelastik Terhadap Lingkungan” yang disampaikan oleh dosen Program Studi PKP yang lain yaitu Putu Ade Wijana, S.S.,M.Par.

Dalam pengabdian masyarakat di tiga panti tersebut, Prodi PKP juga bekerjasama dengan PT Saka Agung Abadi dalam membagikan sembako kepada pengasuh dan anak-anak panti asuhan.

Sementara itu, direktur PIB Prof. Dr.Ir. Sulistyawati, M.S.,M.M.,M.Mis.,D.Th.,Ph.D., D.Ag mengatakan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan dalam rangka mengamalkan salah satu tridarma perguruan tinggi, selain pendidikan dan penelitian.

“Dosen selain mengajar dan meneliti juga memiliki tanggungjawab melakukan pengabdian kepada masyarakat seperti yang dilaksanakan di tiga panti asuhan tersebut,” ucap Prof. Suli.



Lebih lanjut Prof. Suli juga menekankan bahwa dipilihnya panti asuhan-panti asuhan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kepekaan sosial dosen dan mahasiswa selain memberikan solusi berdasarkan kajian akademik atas kebutuhan, tantangan atau persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.



“Dosen dan mahasiswa harus mampu memberi solusi kepada masyarakat berdasarkan kajian akademis, khususnya kebutuhan atau masalah yang sedang dihadapi masyarakat,   seperti masalah lingkungan maupun kebutuhan di sektor pariwisata,”pungkas Prof. Suli. (gus/adv)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait