Geliat Perayaan Lebaran dan Tantangan Ekonomi Indonesia

  • Whatsapp
Geliat Perayaan Lebaran dan Tantangan Ekonomi Indonesia
Geliat Perayaan Lebaran Dan Tantangan Ekonomi Indonesia

Mantapps.com – Perayaan hari Idul Fitri kerap dijadikan momen bernostalgia para pemudik setibanya di kampung halaman. Selain membayar kerinduan ke sanak keluarga selama satu tahun sibuk di Ibu Kota, pulangnya para perantau itu juga dimanfaatkan untuk bernostalgian kuliner khas daerahnya.

Muat Lebih

Loading...

Salah satunya Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira. Dia menyebut, perjalanan mudiknya ke Blitar, Jawa Timur bukan hanya untuk bertemu keluarga saja. Akan tetapi, dia mempersiapkan khusus untuk mencicipi kuliner lokal dan oleh-oleh buatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Misalnya, soto gentong merah dan pecel di dekat pasar srengat tidak pernah ketinggalan saya sambangi ketika mudik lebaran,” kata Bhima kepada Mantapps.com beberapa waktu lalu.

Ekonom milenials jebolan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyampaikan, cita rasa kuliner khas Jawa Timur dinilai selalu memiliki keunikan tersendiri. Tak terkecuali dari sisi rempah-rempah yang membuatnya susah move on.

“Kuliner khas Jawa Timur punya keunikan bumbu yang pekat dan rasa yang nikmat. Berbeda dari kota lain, jajanan kuliner di Blitar tersedia di pinggir jalan,” tuturnya.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira (Dok.Mantapps.com)

Sebagai ekonom yang telah biasa dimintai tanggapan soal kondisi ekonomi bangsa, tidak lengkap rasanya jika dia tak berikan evaluasi kepada pemerintah ihwal kondisi ekonomi usai lebaran. Apalagi masih ada sekitar 1 semester lagi sampai dengan akhir tahun 2019.

Secara umum, kondisi perekonomian Indonesia di semester pertama relatif mulai membaik. Misalnya pada laporan terbaru IMD World Competitiveness Yearbook (WCY). IMD menempatkan daya saing Indonesia dalam peringkat 32 dari 63 negara atau naik signifikan 11 peringkat ke posisi 32 dengan skor 73,59.

Kendati begitu, Bhima menyatakan masih ada tantangan bangsa Indonesia lainnya yang harus diselesaikan untuk dapat terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan perbaikan tumpang tindih regulasi dan percepatan perizinan khususnya ditingkat pemda.

“Misalnya tata ruang tata wilayah daerah, menghapus regulasi perda yang hambat investasi. Tata ruang sering sulitkan pengusaha karena prosesnya lama,” tuturnya.

Selain itu, Bhima menyarankan, ke depan pembangunan infrastruktur yang berorientasi kemajuan industrialisasi harus lebih ditingkatkan oleh pemerintah. Di sisi lain juga dengan menciptakan ekosistem yang mendukung untuk mempercepat inovasi termasuk pemberian insentif pajak bagi pelaku inovasi.

“Pemerintah juga harus menjaga stabilitas makro ekonomi khususnya indikator inflasi dan nilai tukar rupiah,” terangnya.

Prediksinya, pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia sampai akhir tahun masih di kisaran 5 persen. Meskipun, tekanan eksternal terhadap kurs rupiah tidak sebesar 2018.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Igman Ibrahim



Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait