Digandrungi pecinta kuliner, nasi pecel ini habiskan 170 kg bumbu sebulan

  • Whatsapp
Digandrungi pecinta kuliner, nasi pecel ini habiskan 170 kg bumbu sebulan
Digandrungi Pecinta Kuliner, Nasi Pecel Ini Habiskan 170 Kg Bumbu Sebulan

Elshinta.com – Soehermin, sang owner Nasi Pecel Tradisional, awalnya membuka usaha kuliner ini sebagai CSR dari usaha-usaha sebelumnya yang sudah sukses. Diketahui, Bu Hermin, demikian sapaannya, sukses sebagai pelaku usaha di bidang florist dan pengadaan telur untuk sejumlah hotel di Jakarta.

Tujuh tahun lalu, Hermin mulai merambah ke usaha kuliner. Usaha sebelumnya sudah besar  sehingga dirinya memilih untuk menjalankan bisnis lain yang tidak terlalu menguras pikiran.

Muat Lebih

“Saya termotivasi untuk membuat warung yang bisa memberi hidup pada orang lain. Saya berikan subsidi, target marketnya adalah kalangan menengah ke bawah. Saya awalnya berharap yang mampir ke warung ini adalah para pemulung dan kalangan kurang mampu. Tapi ternyata yang datang malah orang-orang bermobil,” katanya.

Karena tak berorientasi profit, sejak awal warung ini pun tidak dibranding dengan serius. Seiring dengan semakin banyaknya pengunjung, penataan pun mulai dilakukan meskipun alakadarnya dengan menghadirkan sejumlah peralatan klasik.

“Tapi bukan juga yang antik atau etnik, semua barangnya murah. Nah, karena respon yang baik ini, saya punya mimpi dalam waktu dekat akan membuka tempat makan yang benar-benar serius di kawasan Singosari, Malang, Jawa Timur,” ucap Hermin.

Dirinya menginginkan untuk membuka rumah makan unik berkonsep joglo yang di dalamnya terdapat galeri batik sekaligus menawarkan wisata sejarah lokal. Jika tidak ada aral melintang, Agustus mendatang warung di area 500 meter ini sudah dibuka untuk publik. “Kebetulan saya dapat lahannya di Malang, sehingga saya buka di sana. Selain itu, saat ini kan pemerintah juga sedang menggalakkan pariwisata. Saya kira membuka tempat makan di lokasi pariwisata adalah hal yang tepat,” tuturnya.

Diakui Hermin, meski berbisnis di bidang kuliner, sebetulnya dirinya tidak pandai memasak. Untuk operasional dua nasi pecelnya di Jakarta, ia mengandalkan para vendornya. Selama tujuh tahun, dari bumbu pecel sampai kerupuk, ia di-supply oleh para vendornya.

“Saya ingin memberdayakan para vendor. Selama 7 tahun ini, misalnya, bumbu saya ambil dari Kediri, Alhamdulillah anak-anaknya sudah pada besar dan bisa sekolah. Demikian dengan vendor kerupuk, rengginang, tempe, mereka bisa hidup lebih baik. Karyawan saya juga bisa hidup, bisa umroh. Itu semua kebahagiaan yang tak ternilai,” ulasnya.

Soal profil konsumennya saat ini Hermin bercerita, umumnya adalah para pekerja kantoran, perumahan, dan sekolahan sekitar. Dalam sehari rata-rata pengunjung warungnya sebanyak 250 orang. Dirinya menyebut, dari awal biasanya dirinya hanya menghabiskan 10 kg bumbu pecel, saat ini bisa habis 170 kg bumbu. Tak aneh hal ini juga berdampak pada pendapatannya yang bisa mencapai antara Rp100—150 juta setiap bulannya.

Di bidang kuliner, Hermin mengaku menjadi lebih santai dibanding dengan dua bisnis sebelumnya. Bisnis florist dan telur, menurutnya, dituntut untuk berpikir keras, profit oriented karena dirinya harus membayar banyak karyawan. Oleh sebab itu dirinya harus konsentrasi dan terus membranding bisnisnya. Tapi yang dilakukannya tak sia-sia, sebab konsumen untuk bisnis telurnya, misalnya, tersebar di seantero Jakarta. Pangsa pasarnya adalah hotel-hotel yang cukup ternama.

Dengan pengalaman bisnis yang dilaluinya, ia melihat jika masih banyak orang takut untuk memulai bisnis. Seperti dirinya yang sebelumnya pernah bekerja kantoran selama 20 tahun. “Umumnya untuk memulai sesuatu itu takut. Takut rugi, takut tidak ada modal, dan lain-lain. Tapi akhirnya saya berpikir, kenapa harus takut. Warung ini sendiri tidak ditarget (pendapatannya –red). Keyakinan saya, semua yang berangkat dari kebaikan pasti akan baik.”

Menurut Hermin, prospek bisnis kuliner ke depan masih sangat bagus dan masih akan berkembang. Tidak hanya kuliner moderen, tapi juga kuliner-kuliner tradisional seperti yang dilakukannya.

“Saat ini di mall saja semua kuliner dari tradisional sampai modern diakomodir. Sebab semua orang tiap hari makan, dan mereka bisa memilih makanan yang akan disantapnya. Tidak usah khawatir tidak ada yang beli, semua ada pangsa pasarnya tersendiri. Dengan fakta ini saya yakin bisnis ini tidak ada matinya,” tuturnya.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait