Agus Samijaya; Dari Aktivis, Pengacara, Kini Pengusaha Kuliner

  • Whatsapp
Agus Samijaya; Dari Aktivis, Pengacara, Kini Pengusaha Kuliner
Agus Samijaya; Dari Aktivis, Pengacara, Kini Pengusaha Kuliner

DENPASAR, kanalbali Nama Agus Samijaya bukan nama asing bagi banyak orang di Bali, khususnya di Denpasar. Sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Udayana, ia telah menjadi salah-satu pentolan aktivis dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Setelah itu, dia pun menekuni profesi pengacara untuk membela mereka yang lemah tapi bermasalah dengan hukum. Nah, sekarang ini, siapa yang menyana, dia pun terjun di bisnis kuliner. “Sebenarnya ini obsesi lama tapi sekarang lebih fokus saja,” ujar pria kelahiran Cirebon , 12 Agustus 1970 ini.

Muat Lebih

Sudah sekitar 1 tahun terakhir memang, halaman kantor advokat miliknya dijadikan tempat berjualan Surabi Bandung. Selalu dipadati pengunjung, sejak 3 bulan lalu dia membedah kantornya untuk dijadikan kafe. Sekarang urusan kantor sepenuhnya dipindah di lantai 2.

Resto yang diberinama ‘Coffe Asa Resto’ tetap menjadikan surabi sebagai menu andalan. Tapi dilengkapi juga dengan menu modern seperti sandwich dan pizza. Ia pun menyajikan aneka minuman, khususnya kopi dengan barista khusus yang melayani.

“Harganya kita buat murah, karena mahasiswa dan aktivis khan berhak juga nongkrong di kafe,” katanya sambil tertawa seakan mengenang jaman masih hidup susah.

Bagi dia, usaha bisnis semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Sebab, dia mengaku pernah bekerja jadi pelayan resto Jepang di Kuta, jurnalis freelance sampai buka usaha jual beli ban bekas. “Sekarang selain kafe, saya juga mengelola beberapa Villa,” ujarnya.

Dari sisi profesi sebagai pengacara, bisnis semacam itu bisa menjadi kompensasi dari pekerjaan yang selalu menuntut keseriusan dan ketelitian dalam mencermati pasal-pasal hukum. “Sebab disini bisa lebih santai dan menikmati,” jelasnya.

Toh demikian, Agus mengaku masih tetap berkomitmen untuk tak meninggalkan dunia hukum. Bagi dia, profesi ini dirasakan sebagai panggilan jiwa. “Disini saya dididik untuk tidak mudah menyerah,ulet dan berani,” tutur pengagum Sukarno,Mahatma Gandi dan Cheguevara ini di Denpasar,Selasa (23/7).

Sebelum resmi menjadi advokad tahun 1996 sudah terjun mengadvokasi petani di Singaraja tahun 1990 dalam wadah LBH. Paska orde baru, ia mulai meniti karier sebagai advokad dibawah didikan Adnan Buyung Nasution di Jakarta. Setelah matang di ibukota, pria yang akrab dipanggil Asa ini kembali ke di Bali dan bergabung di IKADIN Denpasar.

Selanjutnya, ia menjadi Kepala Operasional YLBHI LBH Bali, Ketua PBHI, Ketua IKADIN dan sekarang dipercaya sebagai Sekjen KAI Bali. Selain itu Asa juga pernah menjadi Ketua Paguyuban Perantauan Warga Pasundan (Bamus Sunda) dan Ketua Dewan Pembina Angkatan Muda Siliwangi.

Terhadap perkembangan dunia advokad, dia terus terang merasa prihatin. “Jadi advokad itu prosesnya panjang bukan instan seperti sekarang, ada uang 5 juta dapat kartu advokad,”sindir alumni magister hukum UGM Yogja ini.

Dunia advokad sekarang, menurutnya, sudah jadi komoditi. “Seleksi longgar,organisasi advokad hanya perbanyak anggota seperti ormas,”katanya. Tambah parah lagi kata Agus banyaknya pensiunan aparat hukum seperti jaksa,hakim dan polisi menjadi advokad.

Untuk solusinya, dia mengusulkan adanya seleksi ketat bagi calon advokad,pembatasan umur,tidak boleh pensiunan aparat hukum jadi advokad.dannpenting lagi ada majelis kehormatan bersama serta kode etik bersama.”Kalau tidak advokad itu akan bisa melacurkan diri seperti sekarang padahal advokad itu profesi terhormat,”ungkapnya.

” Advokad itu pilar penegak hukum juga sesuai UU no 18/2003 ttg advokad. Sehingga setara dengan jaksa,polisi dan hakim ada hubungan kesetaraan,” tegasnya. (kanalbali/NAN)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait