Ada Adegan ‘Bupati’, MUI Jatim Kecam Jember Fashion Carnaval

  • Whatsapp
Ada Adegan 'Bupati', MUI Jatim Kecam Jember Fashion Carnaval
Ada Adegan 'bupati', Mui Jatim Kecam Jember Fashion Carnaval

Indonesiainside.id, Jakarta – Sekretaris MUI Provinsi Jawa Timur Muhammad Yunus, menyesalkan perhelatan internasional Jember Fashion Carnaval (JFC) 2019, 4 Agustus 2019 yang dianggap melanggar norma-norma kesusilaan dan agama dengan menghadirkan penampilan yang senonoh.

Terutama penampilan seksi artis Cinta Laura dan banyak model lainnya di JFC 2019 secara vulgar. Dalam kegiatan itu bintang film The Ninth Passenger tersebut memakai busana ‘bupati’ atau ‘buka paha tinggi-tinggi’, yang dinilai mencederai Kota Jember yang terkenal dengan Kota Santri.

Muat Lebih

Loading...

“MUI (Jawa Timur) maupun MUI di Jember sangat menyayangkan kenapa muncul sebuah pertunjukan yang melanggar tata aturan, melanggar etika dan norma sosial. Ini tidak sesuai dengan adat masyarakat Kabupaten Jember yang mayoritas adalah muslim,” kata Yunus kepada Indonesia Inside, Jumat (9/8).

Yunus menekankan, perlu dibuat aturan, baik itu peraturan daerah (Perda) maupun peraturan bupati (Perbup) sebagai referensi pelaksanaan kegiatan serupa dikemudian hari. Prinsipnya, jelas dia, perlu dijaga harmonisasi agar kegiatan seni budaya tidak berbenturan dengan kearifan lokal/lokal wisdom apalagi melanggar aturran agama.

“Iya, pihak panitia mengaku merasa kecolongan karena artis dan tamu dari luar ini tidak menyampaikan busana yang akan digunakan pada acara itu dan akhirnya menimbulkan keresahan di masyarakat,” ujarnya.

Yunus menuturkan, MUI telah mengumpulkan segenap stake holder terkait, diantaranya pemerintah daerah, para ulama, tokoh masyarakat dan pihak penyelenggara untuk mensikapi persoalan tersebut dengan baik. Termasuk pemerintah setempat dan penyelenggara acara agar bertanggung jawab dengan melakukan permintaan maaf kepada masyarakat atas kelalaian yang dilakukan.

“Mereka juga harus berjanji dan menjamin untuk tidak mengulangi dimasa yang akan datang serta membuat regulasi yang dapat dijadikan sebagai rujukan bagi pelaksanaan kegiatan sejenis kedepan,” kata dia.

Sebelumnya, acara tersebut mendapat penolakan dari ormas Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur. Mereka menolak dan menganggap kegiatan tersebut melanggar norma-norma kesusilaan dan agama. (EP)

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Loading...

Pos terkait