Tinggi Gunung Sampah di New Delhi Sudah Melampaui Taj Mahal

  • Whatsapp
Tinggi Gunung Sampah di New Delhi Sudah Melampaui Taj Mahal
Tinggi Gunung Sampah Di New Delhi Sudah Melampaui Taj Mahal

Beginilah kondisi tempat pembuangan sampah Ghazipur, New Delhi, India. Lokasi ini seharusnya ditutup pada 2002 karena sudah mencapai batas daya tampungnya. Namun, tak ada alternatif lokasi lain membuat ribuan ton sampah New Delhi setiap hari masih dibuang ke lokasi ini. AFP/XAVIER GALIANA© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Beginilah kondisi tempat pembuangan sampah Ghazipur, New Delhi, India. Lokasi ini seharusnya ditutup pada 2002 karena sudah mencapai batas daya tampungnya. Namun, tak ada alternatif lokasi lain membuat ribuan ton sampah New Delhi setiap hari masih dibuang ke lokasi ini. AFP/XAVIER GALIANA

NEW DELHI, Mantapps.com – Gunung sampah tertinggi di New Delhi diperkirakan pada tahun depan sudah melampaui tinggi Taj mahal.

Muat Lebih

Gunung sampah ini seolah menjadi simbol dari apa yang disebut PBB sebagai ibu kota paling tercemar di dunia.

Berbagai jenis burung pemangsa terbang mengitari tempat pembuangan sampah Ghazipur yang berada di sisi timur New Delhi.

Selain burung, sapi liar, anjing, dan tikus berkeliaran mencari makan di tempat yang sama.

Dengan area seluas 40 kali lapangan sepak bola, sampah di Ghazipur bertambah tinggi 10 meter setiap tahun.

Menurut pejabat pengawas teknis New Delhi Timur, Arun Kumar, tinggi gunung sampah di Ghazipur saat ini sudah mencapai lebih dari 65 meter.

Dengan kecepatan penambahan sampah saat ini, pada 2020, gunung sampah di Ghazipur akan mencapai ketinggian 73 meter atau lebih tinggi dari Taj Mahal.

Tempat pembuangan sampah ini dibuka pada 1984 dan sudah mencapai batas daya tampung pada 2002 sehingga seharusnya sudah ditutup.

Namun, ratusan truk sampah masih terus datang ke Ghazipur setiap hari.

“Sekitar 2.000 ton sampah dibuang ke Ghazipur setiap hari,” ujar seorang pejabat pemkot New Delhi yang tak mau disebut identitasnya.

Pada 2018, hujan lebat mengakibatkan sebagian gunung sampah itu longsor dan menewaskan dua orang.

Usai bencana tersebut, pembuangan sampah ke Ghazipur dilarang. Namun, penutupan itu hanya berlangsung beberapa hari karena pemerintah tak menemukan alternatif lokasi pembuangan sampah.

Selain bahaya longsor, potensi kebakaran akibat gas metana yang dihasilkan tumpukan sampah itu berulang kali terjadi dan membutuhkan waktu beberapa hari untuk memadamkannya.

Shambhavi Shukla, peneliti senior dari Pusat Lingkungan dan Sains New Delhi, mengatakan bahwa semburan gas metana dari sampah menjadi lebih mematikan jika tercampur di atmosfer.

Selain itu, cairan hitam beracun dari tumpukan sampah terus mengalir tanpa henti ke kanal-kanal setempat.

“Semua harus dihentikan karena tumpukan sampah ini mencemari udara dan air tanah,” kata Chitra Mukherjee, ketua Chintan sebuah kelompok advokasi masalah lingkungan.

Di sisi lain, warga yang tinggal di sekitar Ghazipur mengatakan, tumpukan sampah menghasilkan bau busuk yang membuat mereka kesulitan bernapas.

“Bau yang amat busuk membuat hidup kami serasa seperti di neraka. Banyak orang jatuh sakit,” kata Puneet Sharma, seorang warga.

Berbagai aksi protes sudah dilakukan dan tak membuahkan hasil. Ujungnya, sebagian warga memilih pindah ke tempat lain.

Warga menambahkan, pembangkit listrik yang mendaur ulang sampah menjadi energi justr membuat kehidupan warga semakin sulit karena pembangkit itu menghasilkan asap yang juga mengandung racun.

Sebuah studi terbaru mengungkapkan, tumpukan sampah itu meningkatkan risiko warga yang hidup dalam radius lima kilometer terjangkit berbagai penyakit termasuk kanker.

Kota-kota di India adalah penghasil sampah terbesar di dunia dengan memproduksi 62 juta ton sampah setiap tahun.

Pada 2030, jumlah sampah yang dihasilkan berbagai kota di India diperkirakan mencapai 165 juta ton per tahun.

Editor: Ervan Hardoko

Sumber: AFP

Copyright Kompas.com

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait