Tahanan China Diduga Dibunuh dan Organ Dalamnya Diperjualbelikan

  • Whatsapp
Tahanan China Diduga Dibunuh dan Organ Dalamnya Diperjualbelikan
Tahanan China Diduga Dibunuh Dan Organ Dalamnya Diperjualbelikan

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Praktisi Falun Gong mengadakan konferensi pers di Arlington, Virginia, mengenai panen organ (Dok.) Associated Press

BEIJING, Mantapps.com – Sebuah pengadilan internasional mengklaim praktik perdagangan organ dalam manusia yang diambil dari tahanan masih terjadi di China.

Muat Lebih

China sudah lama dituduh mengeksekusi tahanan supaya organ dalamnya bisa diambil. Beijing mengumumkan bakal menghentikan praktik itu pada 2015 silam.

Namun Sir Geoffrey Nice yang merupakan ketua pengadilan China kepada The Guardian via Newsweek Senin (17/6/2019) berkata tidak ada bukti praktik itu berhenti.

“Pengikut sekte keagamaan Falun Gong ‘kemungkinan’ merupakan sumber utama untuk praktik perdagangan organ manusia itu,” terang pengacara asal Inggris itu.

Sky News melaporkan, pengadilan menduga rumah sakit bisa melakukan penarikan organ dalam secara paksa “sesuai pesanan” dari donor tanpa sepengetahuan mereka.

“Berdasarkan sejumlah informasi, diduga tahanan dibunuh demi ‘permintaan’ supaya organ mereka bisa dikeluarkan dan digunakan dalam transplantasi,” demikian keterangan pengadilan.

Sumber informasi yang dimaksud adalah keterangan pakar medis, jurnalis investigasi, pakar Falun Gong, maupun pegiat hak asasi manusia dalam sidang Desember 2018 dan April lalu.

Laporan itu tidak menyebut China melakukan genosida karena beberapa tahanan sudah dibebaskan. Namun “tanpa diragukan”, mereka bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Saksi mata mengungkapkan kondisi penahanan brutal yang didapatkan di kamp hukuman Xinjiang, di mana para narapidana itu ditahan tanpa melalui pengadilan.

Selama bertahun-tahun selain ditahan dan disiksa, saksi menuturkan ada yang dipaksa untuk menjalani pemeriksaan darah dan pemindaian organ. Ada yang tidak kembali setelah melakukan tes.

Jennifer Zeng mengaku dia ditangkap karena menjadi anggota Falun Gong. Dia berkata dia ditahan tidak atas kehendaknya, disiksa secara fisik dan mental pada 2000 silam.

Selama penahanannya, perempuan 52 tahun itu mengaku dia menjalani pemeriksaan darah dan organ. Dia dibebaskan setahun berselang setelah berpura-pura sakit.

“Saat itu saya sadar, jika saja saya tidak berkata kepada dokter saya mengidap hepatitis C, saya mungkin bakal menjadi korban,” terang Zeng yang kini tinggal di AS.

Kebanyakan dari tahanan dilaprkan dibunuh dahulu sebelum organnya diambil. Namun ada juga yang organ dalamnya diambil ketika mereka masih hidup.

Dr Enver Tohti, mantan dokter bedah di Xinjiang membenarkan dia sudah melakukan ekstraksi organ dalam dari tahanan hidup selama masa penundasan Falun Gong.

Pada 1995 ketika masih berumur 32 tahun, Tohti mengisahkan dia pernah diperintahkan untuk memasuki lapangan dan mengoperasi seorang pria yang ditembak di dada.

Dia menceritakan pria itu berusaha melawan namun terlalu lemah. Selama 30 menit berikutnya, Tohti mengambil hati dan ginjal yang dimasukkan ke dalam kotak.

Setelah melaksanakan tugasnya, Tohti mengatakan dia sempat diberi tahu oleh petugas bahwa dia harus merahasiakannya. “Ingat, tidak ada yang terjadi hari ini,” ucapnya.

Pada 2016, Bloody Harvest merilis laporan yang memprediksi 60.000 sampai 100.000 organ dalam telah ditransplantasikan setiap tahunnya di seluruh rumah sakit China.

Laporan dari mantan politisi Kanada David Kilgour, pengacara HAM David Matas, dan wartawan Ethan Gutmann itu sudah diserahkan kepada China Tribunal April lalu.

Kecurigaan dari mana asal organ itu mulai merebak padsa 2000 ketika terdapat peningkatan permintaan transplantasi dengan waktu tunggu yang lebih pendek.

Gutmann menuturkan Falun Gong baru ronde awal. “Mungkin Muslim Uighur bakal masuk dalam ronde kedua dan terus bertambah,” terang jurnalis investigasi itu.

Pada 2016, harian China Daily melaporkan negara itu menjadi nomor satu di Asia dalam urusan donasi organ sukarela dengan 2.766 donatur setahun sebelumnya.

“Kesimpulan ini menunjukkan bahwa banyak orang telah meninggal dengan kematian yang mengerikan tanpa alasan. Bahwa lebih banyak yang juga menderita,” ujar Nice.

Perdagangan organ di China diprediksi mencapai 1 miliar dollar AS, sekitar Rp 14,3 triliun, dengan hati dihargai 160.000 dollar AS, atau Rp 2,2 miliar.

China melalui kedutaan besarnya di Inggris menyanggah laporan tersebut. Mereka mengklaim mengikuti aturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang transplantasi organ manusia.

Editor: Ardi Priyatno Utomo

Sumber: Sky News,Newsweek

Copyright Kompas.com

Artikel ini telah lebih dulu tayang di SITUS INI

Pos terkait